Lompat ke isi utama

Strategi Social Distancing Menyulitkan Difabel Berpendamping

Diskop UMKM Jogja Lakukan Pendampingan pada Pelaku UMKM DifabelSolider.id,Yogyakarta -Tidak dipungkiri bahwa sebagian besar difabel membutuhkan pendamping. Diantaranya: difabel dengan muscular dystrophy (fungsi otot yang melemah), cerebral palsy (kekakuan otot), difabel mental intelektual atau keterlambatan mental, distrofi otot dan kerusakan otak (autis, ADHV atau attention devicit hyperactive disorder), demikian pula sebagian tuli serta netra. Dengan begitu, mereka harus selalu berinteraksi  dengan orang lain, dalam hal ini pendamping mereka, termasuk penterjemah bahasa isyarat bagi tuli. Sehingga penerapan strategi social distancing tidak mudah atau justru menyulitkan bagi difabel yang membutuhkan pendamping atau difabel berpendamping.

Difabel dengan muscular dystrophy sudah dipastikan mereka menggunakan kursi roda sebagai alat mobilitas, demikian pula dengan sebagian difabel cerebral palsy. Selain itu, mereka juga membutuhkan seorang pedamping dalam bermobilitas. Demikian pula dengan difabel mental intelektual, keberadaan  pendamping sangatlah dibutuhkan. Keterlambatan berpikir dan mental mereka membutuhkan keberadaan pendamping dalam memahamkannya. Tidak berbeda dengan sebagian difabel netra yang membutuhkan pedampingan dan informasi berupa audio, difabel tuli juga membutuhkan penterjemah bahasa isyarat untuk mentransfer audio informasi menjadi gerak isyarat atau visual.

Sosial distancing dalam mencegah meluasnya wabah COVID-19 Jelas tidak mungkin diterapkan terhadap para difabel berpendamping. Strategi itu hanya akan mempersulit mereka.

Mekanisme dukungan

Secara umum difabel memiliki teknik isolasi diri yang berbeda dengan nondifabel. Lebih spesifik, kelompok-kelompok difabel berpendamping. Langkah-langkahnya tentu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi difabel yang berbeda-beda. Sebagaimana yang diterapkan pada tindakan mitigasi bencana, maka lingkungan tempat difabel berada semestinya turut memberikan dukungan.

Lantas mekanisme dukungan seperti apa yang sesuai bagi difabel terkait pencegahan dan pengendalian infeksi virus corona? Salah satu yang dapat dilakukan oleh pemeritah adalah dengan menyediakan akomodasi aksesibel, menyesuaikan kebutuhan difabel yang beragam, maupun keluarga atau pendampingnya.

Namun, kelompok difabel berpendamping ini masih luput dari perhatian pemerintah. Dan strategi social distancing hanya bisa diterapkan bagi mereka, difabel maupun nondifabel yang tidak membutuhkan pendampingan. Sebagaimana kelompok difabel tuli yang tidak mendapatkan akses informasi terkait wabah virus COVID-19, maka difabel mental intelektual dan difabel dengan kelemahan otot ini pun masih banyak hal yang tidak dapat mereka akses dengan baik.

Rentan terjangkit

Sebagaimana dilansir dari laman Scoop.com, Selasa (17/3) Wakil Presiden dari lembaga nirlaba The Nonprofit Alliance di Columbia, Amerika Serikat, Shannon McCracken mengatakan kelompok difabel mental intelektual, lemah otot juga tuli, adalah bagian dari keberagaman yang ada, dengan persamaan hak yang melekat sama. Namun masih luput dari perhatian pemerintah.

Dengan terlepasnya mereka dari perhatian pemerintah dan lingkungan sekitar, maka kelompok difabel ini menjadi lebih rentan terkena virus corona atau COVID-19 dibanding ragam difabel lainnya. Bagaimana tidak? Sebab, hingga detik ini tidak ada yang dapat menjamin pendekatan dan metode penanganan yang tepat bagi mereka.

Prioritas perlindungan

Bagi Muhammad Fahmi Husain difabel dengan kelumpuhan pada otot kaki dan tangan mengatakan bahwa memang agak menyulitkan kalau harus menjaga jarak dengan pendamping. “Menjaga jarak mungkin tepat ya bagi nondifabel karena memang efektif. Bagi difabel seperti saya pengecualian, karena ya mau gimana lagi?” ujarnya saat dihubungi Solider, Senin (23/3).

Sebenarnya memang rentan untuk beberapa jenis disabilitas, kata dia. Karena kalau sudah terlanjur kena virus mungkin susah bertahan. Dia mencontohkan dirinya yang mengalami lemah otot atau DMD (Duchene Muscullar Distrophy). Demikian pula orang dengan cerebral palsy, karena beberapa dari mereka paru-parunya bermasalah oleh sebab difabilitas yang menyertai.

“Jadi kalau ditambah corona lebih menyakitkan lagi. Untuk itu difabel harus mendapatkan prioritas perlindungan,” masukan Fahmi.

Sementara menurut Riza Ferdiansyah, difabel netra dengan profesi sebagai masseur (pemijat), strategi sosial distancing benar, tapi tidak tepat bagi dirinya. Permasalahan hadir, kata dia, saat dirinya hendak bepergian yang notabene membutuhkan orang lain atau pendamping.

Terapkan SOP sendiri

Nofie Muharyanti ibu dari Keynan gadis dengan cerebral palsy, saat ini dia dan keluarga lebih memilih tetap di rumah, terlebih Keynan. Menjaga kebersihan diri sendiri, anak-anak dan lingkungan menjadi hal utama. Untuk itu menyemprot rumah dengan desinfektan, terutama area bermain anak dilakukannya.

Nofie juga mengungkapkan bahwa saat ini tidak menerima tamu. Jika terpaksa ada tamu hanya boleh duduk di teras depan, anak-anak tidak boleh ikut serta menemui, siapapun tamunya. Selebihnya, asupan makanan bergizi dan minum multivitan menjadi prioritas setiap hari.

Keluarga ini memiliki cara sendiri memaknai social distancing.  “Fisioterapi untuk Keynan sementara juga dihentikan, diganti dengan latihan dan bermain bersama adik-adiknya. Sedang pijat dan relaxsasi kami handel sendiri sebisanya,” ujar nofie.

Pneumonia (sesak nafas) ini menjadi penyumbang angka terbanyak meninggalnya anak cerebral palsy, tanpa harus terkena covid-19. Untuk itu kami punya  SOP sendiri untuk menyelamatkan Keynan dan seluruh keluarga kami,” demikian terangnya.

 

Reporter: harta nining wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.