Lompat ke isi utama
Pijat difabel netra

Covid-19 merebak, Jasa Pijat Difabel Netra Terhambat

Solider.id, Malang - Wabah virus Corona tengah menjadi ancaman serius bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini. Virus yang juga dikenal dengan nama Covid-19 ini setidaknya telah tersebar ke 152 negara dan secara resmi ditetapkan sebagai wabah pandemi global oleh World Health Organization. Seiring dengan itu, melansir peta penyebaran

Covid-19 Oleh John Hopkins CSSE hingga Selasa (17/3/2020), tercatat sudah ada 181.562 kasus di dunia dengan korban meninggal sejumlah 7.138. Sementara itu, per tanggal 19 Maret 2020, Pemerintah Indonesia telah melaporkan 227 kasus Covid-19. Dari jumlah tersebut, 19 diantaranya meninggal dunia dan 9 dinyatakan berhasil sembuh.

 Bukan kepalang, Wabah Covid-19 ini lantas memunculkan kepanikan di Indonesia. Pemerintah mulai menghimbau warga untuk melakukan pembatasan sosial, menjauhi tempat-tempat keramaian, hingga anjuran untuk bekerja dari rumah. Jika kita lihat, wabah Covid-19 ini betul-betul memberikan dampak negatif bagi roda perekonomian bangsa. Akibat menurunnya aktivitas luar ruangan masyarakat serta juga anjuran untuk melakukan social distancing menjadikan mata pencaharian warga pun terhambat. Disrupsi inipun akan sangat berdampak pada mereka yang bekerja di sektor informal. Kadang kala opsi untuk bekerja secara online itu tidaklah memungkinkan. Salah satu sektor pekerjaan yang bisa terbilang ikut terdampak dari merebaknya virus Corona ini adalah nasib dari kawan-kawan difabel netra yang berprofesi sebagai pemijat.

Meskipun belum terdapat data khusus menyangkut jumlah difabel netra yang bekerja sebagai pemijat, bisa kita kira-kirakan bahwa jumlah mereka sendiri sebenarnya cukup banyak. Hal ini mengingat keterampilan pijat bagi difabel netra sendiri masih sering diberikan di Balai-Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra yang ada di sebagian besar Wilayah Indonesia. Persebaran dari pemijat difabel netra ini pun terbilang cukup masif, dan mayoritas dari mereka menggantungkan sumber pendapatannya dari jasa pijat yang diberikan ke pelanggan. Oleh karena itu, ketika terjadi fenomena yang menyebabkan pelanggan enggan dalam memperoleh jasa pijat, maka hal itu tentu berimbas pada pemasukan pemijat difabel netra yang semakin menurun dari hari ke hari. Situasi inilah yang kurang lebih terjadi, di tengah krisis virus Corona yang sedang melanda Indonesia. Banyak teman-teman difabel netra yang pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai tukang pijat mengalami penurunan jumlah customer.

“Kalau dampaknya pasti ada ya.” Ungkap Muhamad Muklasin, difabel netra yang membuka praktik pijat di Daerah Kebayoran Jakarta Pusat. Menurutnya, semakin merebaknya wabah Corona khususnya di Daerah Jabodetabek berakibat secara tidak langsung pada jumlah permintaan pijat yang menurun. “Kita biasanya sehari itu bisa dapat 6 sampai 7 pelanggan, tapi sekarang ya cuma bisa 2 atau 3 pelanggan.” Terangnya melalui pesan instan WhatsApp. Ia menuturkan bahwa hal semacam ini sendiri tergolong wajar, mengingat orang-orang pun kemudian akan takut untuk bersentuhan ataupun melakukan kontak tubuh dengan orang lainnya di tengah darurat pandemi seperti ini. Selain itu, himbauan untuk melakukan Social Distancing Dari pemerintah juga semakin membatasi mobilisasi customer ke pemijat difabel netra maupun sebaliknya.

Hal ini juga dirasakan oleh Agus Marjaya. Sebagai salah satu difdabel netra yang membuka jasa pijat di Kota Denpasar Bali, dirinya mengaku terpaksa harus stop beroperasi untuk sementara waktu karena wabah Corona. “ Ya dampaknya kita banyak yang menolak pelanggan, apalagi kalau orang itu bule.” Ungkapnya lewat sambungan telepon.

 “Sebagai Terapis pijat di Bali kita ya waspada juga, soalnya memijat itu kan melibatkan sentuhan, jadi ya bisa bahaya kalau kita ikut tertular.” Katanya lagi.

Bahkan menurut Agus Marjaya sendiri, hampir sebagian besar teman-teman pemijat difabel netra lainnya yang tersebar di Provinsi Bali harus menangguhkan jasa pijatnya karena wabah mematikan ini. “Akhir-akhir ini kita rata-rata cuma bisa mentok dapat 1, atau kadang kosong sama sekali.” Ungkap Wawan Sukaryawan, pemijat tunanetra asal Kabupaten Klungkung Bali, yang juga mengkonfirmasi turunnya jumlah customer pijat. Menurutnya, seiring dengan terganggunya pendapatan orang-orang karena wabah virus, maka daya beli mereka pun ikut berkurang, yang kemudian berimbas secara tidak langsung terhadap penurunan minat masyarakat akan jasa pijat difdabel netra. Ia hanya berharap bahwa wabah virus ini dapat segera diredam penyebarannya, sehingga perekonomian di masyarakat pun dapat kembali normal dan pemijat-pemijat difabel netra diluar sana bisa kembali mencari nafkahnya.

Hal ini setidaknya membuktikan bahwa wabah Covid-19 ini juga berdampak masif bagi difabel. Tidak dapat diragukan bahwa virus yang asal muasalnya dari kota Wuhan China ini adalah merupakan ancaman serius seluruh umat manusia, tidak terkecuali bagi difabel. Bahkan difabel, khususnya difabel netra yang berprofesi sebagai tukang pijat hanyalah sebagian kecil kelompok masyarakat yang terdampak dari krisis ini. Kesulitan yang mereka hadapi sebagai penyedia jasa pijat di masyarakat mau tak mau harus terhambat karena adanya wabah pandemi global. Meskipun tidak bisa berkata banyak, penting juga memperhatikan perlindungan ekonomi dari kawan-kawan difabel, termasuk difabel netra, apalagi dalam kondisi bencana seperti ini. Tidak bisa dibayangkan kemudian betapa destruktifnya wabah ini akan menghambat segala lini kehidupan manusia. Sebagai difabel, yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah mematuhi setiap himbauan yang ditetapkan oleh pemerintah, dan berdoa semoga virus Covid-19 ini dapat sesegera mungkin ditanggulangi penyebarannya di Indonesia.

 

Reporter: Made Wikandana

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.