Lompat ke isi utama
Adhi dan Istrinya sedang menawarkan dua piring pizza ke pelanggan

Bisnis Pizza dengan Harga Merakyat

Solider.id, Denpasar- Di sebuah spanduk tertulis, “Mohon Maaf, Apabila Menghubungi Kami Harap Chat/SMA Nomer di atas. (Karena Kami Memiliki Kekurangan Pendengaran).”

Seorang laki-laki terlihat tersenyum kepada konsumen, menyambut dan mempersilakan sebelum memastikan jenis pesanan. Ia segera mengenakan sarung tangan plastik bersih dari kotak perlengkapan. Ia mulai menyiapkan dan mengolah bahan adonan.

Sesaat kemudian, laki-laki itu meletakkan adonan dalam loyang dan menata satu demi satu bahan yang dibutuhkan sesuai pesanan. Tak perlu menunggu waktu lama, sekira dalam dua puluh menit kemudian loyang berisi pizza yang dipesan dengan warna kekuningan telah siap dihidangkan. Aromanya menguarkan kelezatan. Dari penampakan yang ditampilkan terlihat pizza dengan toping aneka pilihan menggugah sensasi meski tak sedang kelaparan.

Laki-laki itu bernama I Gusti Putu Adhi Wiranegara, 45 tahun. Sebelas tahun sudah ia menekuni bisnis pizza dengan bekal otodidak dari pengalaman yang didapatkannya selama bekerja di sebuah restoran. Ia tidak pernah sekolah memasak atau berguru kepada siapapun. Keluar dari restoran, ia sempat bekerja dan mengikuti orang untuk membuat bakpia.

“Dari pengalaman yang saya dapatkan, akhirnya saya memutuskan untuk membuat pizza sendiri dan menjualnya,” tutur Adhi, (10/02/2020).

Pengalaman bekerja mengolah makanan membuat Adhi tak pernah merasa bosan membuat inovasi untuk usaha pizza yang dijalankannya sejak 2009.

“Pertama kali mencoba jualan pizza, saya jual di kantor-kantor ada orang yang mau. saya jual di sekolah, mereka mau, lalu dari situ makin banyak yang memesan pizza.” Ujar lulusan SMALB Denpasar ini yang mengolah sendiri semua pizza dari dapur mungil dan rapih di rumahnya

Adhi menyulap teras rumahnya di Jalan Gunung Slamet III/ 9, Perumnas Monang maning, Denpasar, menjadi sebuah kafe mini. Ia melayani dan mengantar sendiri pizza yang dipesan. Sesekali ada pelanggan yang datang untuk memesan pizza. Namun tak jarang, melalui pesan whatsApp atau sms.

Dalam sehari Adhi bisa menerima order sebanyak delapan hingga 10 box pizza ukuran sedang. Dalam ukuran sedang, pizza buatan Adhi sama besar dengan ukuran besar di toko pizza yang ditawarkan oleh kedai pizza kebanyakan. Dengan harga yang relatif lebih murah dan standar, ia bisa membuat jualannya bertahan hingga sebelas tahun berjalan.

Untuk satu pizza ukuran medium Adhi hanya mematok harga 35 ribu rupiah, sementara untuk loyang ukuran large atau besar, ia membandrol pizza hanya dengan harga 50 ribu hingga 55 ribu rupiah, tergantung pada toping yang diinginkan pelanggan.

Sebelas tahun bukan waktu yang sebentar untuk menekuni usaha bisnis mengelola makanan. Namun dengan menu variatif dan aneka toping pizza yang ditawarkan, Adhi bisa membuat  pizza jualannya bertahan. Pizza vegetarian, pizza keju, pizza sosis dan ayam, pizza nanas dan jamur atau pizza telur, bisa jadi pilihan para pelanggan.

Tak hanya menjual pizza istimewa dengan harga mahasiswa, suami dari Anak Agung Made Mariani juga melayani pesanan spagetti. Aneka puding dan cream cheese dengan banyak varian rasa, dari coklat hingga strawberry, dari vanila hingga jeruk atau green tea, pun rasa tiramisu atau keju, bisa langsung  dipesan untuk diantar pada pelanggan.

Namun dengan keuletan dan ketelatenannya bukan berarti Adhi selalu sukses dalam menjalankan usaha pizza. “Saya juga pernah hanya mendapat 400 ribu dalam sehari meski pendapatan bersih saya dalam satu bulan cukup lumayan,” lanjutnya.

Hambatan pendengaran, tak menghentikan Adhi melakukan bisnisnya. Ia cukup dapat berkomunikasi dengan kalimat, meski beberapa obrolan menggunakan tulisan. Usaha pemasaran pizza, ia juga tak merasa kesulitan. Teman-teman dari Gerkatin siap membantunya untuk menawarkan. “Teman-teman dari Gerkatin biasa membantu saya untuk menjual pizza di sekolah-sekolah, kantor-kantor, dan bercerita tentang pizza buatan saya,” lanjut ayah satu putra ini.

Ia juga melakukan penjualan dengan promosi dari mulut ke mulut, dari satu teman pada teman yang lain. Ia mengaku belum tertarik mendaftarkan pizza buatannya untuk dijual secara daring. Ia ingin memiliki kedai pizza sebagai tempat berjualan. “Karena harganya mahal, saya harus berusaha pelan-pelan mengumpulkan modal untuk bisa mewujudkan,” imbuhnya.

Adhi berbangga, karena bisnisnya menjadi satu-satunya pembuat pizza Tuli di Indonesia. Meski begitu, ia selalu rendah hati saat bertanya tentang pizza buatannya. Menanyakan pada pembeli bagaimana rasa yang dihasilkan. Ia tak segan mengoreksi rasa pizza yang dikerjakannya.

Penasaran?!? Sila dicoba dengan memesan pada nomer kontak yang tersedia, 0813 3807 5195.[]

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.