Lompat ke isi utama
eliha Eldem (berkaus pink dan berkacamata) saat bersama dengan anggota sanggar - credit photo: Paguyuban Sehati Sukoharjo

Zeliha Eldem: Orangtua Perlu Mendukung dan Percaya Pada Anak Difabel

Solider.id, Sukoharjo – Pagi itu, Sabtu (7/3) ada yang istimewa di Sanggar Inklusi Permata Hati. Selain mengadakan kegiatan terapi bagi anak Difabel seperti biasanya dilakukan setiap Sabtu, mereka mendapatkan kunjungan istimewa. Sebanyak delapan orang perwakilan dari Turki, Slovenia dan Vietnam berkunjung ke sanggar yang berlokasi di Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka kick of meeting dan pembukaan proyek peningkatan kapasitas untuk pemuda (CBY), utamanya pemuda Difabel yang bertajuk “Menjalin Kemitraan Menghilangkan Hambatan”. Proyek ini merupakan proyek kemitraan antara organisasi Difabel di Eropa (Development Center Association of Individuals with Disability and Their Families – EBAGEM di Turki dan Zavod za izobrazevanje in inkluzijo ODTIZ di Slovenia) dan di Asia (Paguyuban Sehati Sukoharjo di Indonesia dan Action to the Community Development Center - ACDC  di Vietnam).

Paguyuban Sehati Sukoharjo selaku tuan rumah penyelenggaraan kegiatan ini memandang Sanggar Inklusi Permata hati merupakan salah satu program unggulan sehingga perlu diperkenalkan pada khalayak internasional. Selain itu, dalam kesempatan ini para pengurus serta orangtua anak Difabel bisa langsung bertukar pengalaman dengan orang yang berasal dari beberapa negara berbeda.

Dalam sesi terapi ada empat terapis yang terdiri dari fisioterapis, terapis wicara dan okupasi terapis. Selama kurang lebih tiga jam mereka memberikan layanan terapi bagi anak-anak Difabel. Joko Sudharsono, Manager Proyek Desa Inklusi Paguyuban Sehati Sukoharjo menyebutkan bahwa sesi terapi yang dilaksanakan rutin setiap Sabtu ini dibiayai oleh APDB Kabupaten Sukoharjo.

Selama berada di lokasi, kedelapan perwakilan negara asing ini berkesempatan untuk melihat secara langsung sesi terapi, sekaligus berbincang dengan terapis maupun para orangtua yang mengantarkan anak-anaknya. Mayoritas mereka menyatakan kekagumannya pada para orangtua, terutama ibu dengan anak Difabel yang memiliki tekad kuat untuk mengakses layanan terapi. Beberapa ibu mengungkapkan mereka datang naik motor dengan menggendong anak, karena suami bekerja dan tidak bisa mengantarkan.

Kagum Dengan Zeliha

Usai terapi, pengurus sanggar dan para orangtua yang masih tinggal berkesempatan untuk melakukan diskusi dengan orang asing ini. Kebanyakan pertanyaan yang muncul adalah mengenai kondisi layanan kesehatan di negara lain. Pertanyaan ini dijawab, bahwa di Turki dan Slovenia yang terletak di Eropa memiliki sistem layanan kesehatan yang sudah maju. Jaminan kesehatan bagi para Difabel di kedua negara itu sudah disediakan oleh pemerintah, oleh karena itu mereka bisa mengakses layanan kesehatan yang memadai termasuk juga mengakses alat bantu. Sementara itu di Vietnam kondisinya hampir sama dengan Indonesia, pemerintah belum menyediakan jaminan kesehatan, sementara untuk mengakses terapi secara mandiri biayanya mahal.

Zeliha Eldem, Difabel Cerebral Palsy dari Turki menarik perhatian para anggota sanggar. Zeliha yang juga merupakan Koordinator Proyek CBY memiliki hambatan dalam berkomunikasi, dia berbicara dengan terbata-bata dan tidak terlalu jelas. Meski begitu rekan-rekannya di tim mampu menjalin komunikasi yang baik dengannya, mereka pulalah yang biasanya menjadi penerjemah apa yang disampaikannya. Beberapa orangtua dengan anak Difabel yang memiliki kondisi serupa menanyakan bagaimana membangun komunikasinya.

“Semua itu butuh proses, tidak langsung terjalin begitu saja. Kuncinya adalah orangtua harus memberi dukungan sekaligus memberikan kepercayaan agar anak-anak bisa maju. Selain ini (berbicara-red) saya juga berkomunikasi dengan menulis di laptop maupun telepon genggam,” jelasnya.

Diungkapkannya bahwa saat ini dia memiliki dua pekerjaan, selain aktif sebagai pekerja sosial, dia juga bekerja sebagai pegawai pemerintah. Dia menjelaskan bahwa selepas kuliah dia mengikuti ujian khusus di Turki yang diperuntukkan bagi Difabel agar bisa bekerja di pemerintah. Dalam ujian itu dia memperoleh nilai yang tinggi, di atas standar yang ditetapkan, sehingga saat ini dia menjadi pemimpin departemen di Kementrian Pendidikan.

Ingin Membuat Sanggar di Negaranya

Kedelapan orang asing ini mengakui bahwa sistem terapi yang diterapkan di sanggar ini tidak ada di negaranya. Oleh karena itu mayoritas mereka mengungkapkan ingin mengadopsi sistem ini untuk kemudian diterapkan di negaranya masing masing.

Zeliha Eldem menjelaskan karena jaminan kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah di Turki bersifat individual, kegiatan bersama semacam ini hampir tidak ada. Padahal ketika berkumpul seperti ini mereka juga berbagi ilmu dan pengalaman. Hal ini menjadikan para orangtua dan pengurus sanggar tidak hanya paham kebutuhan mereka sendiri atau anak-anak mereka saja, tetapi kebutuhan Difabel lain yang ada di sanggar. Misalnya ibu dengan anak Cerebral Palsy, ternyata juga memahami kebutuhan terapi anak dengan hambatan pendengaran. Ini yang menjadikan kegiatan sanggar positif menurutnya, sehingga dia ingin mengembangkan kegiatan serupa di negaranya.

Sementara itu Darmanto, Kepala Desa Jatisobo yang hadir di sesi akhir kegiatan menyambut positif kegiatan ini. dia juga menjelaskan dalam masa tiga tahun kepemimpinannya sudah tiga kali menganggarkan dana APBDes untuk sanggar. Selain digunakan untuk mendukung kegiatan sanggar seperti rapat rutin, anggaran juga diperuntukkan bagi peningkatan ekonomi anggota yaitu melalui ternak sapi.

 

 

Reporter: Ida Putri

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.