Lompat ke isi utama
Arga Bisma Bersama Pidi Baiq

Ciptakan Bait Puisi di Atas Kursi Roda, Arga Bisma Membuat Mimpinya Jadi Nyata

Solider.id, Bandung – Seni bagian dari rasa. Dan puisi adalah unsur makna yang tertuang dalam kata-kata dari jelmaan rasa penulisnya. ‘Rindu Kunci Mimpi,’ merupakan buku kumpulan puisi yang ditulis oleh Arga Bisma Ginanjar siswa Sekolah Luar Biasa Bagian D Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Bandung.

Tidak pernah mengira sebelumnya, keinginan Arga untuk menghasilkan tulisan berupa karya puisi mendapat sambuatan hangat dari penulis besar ‘Dillan’ Pidi Baiq. Siawa yang masih mengenakan seragam putih abu ini telah berhasil mengumpulkan ratusan judul puisi yang ia ciptakan di atas kursi rodanya.

Mengenal sosok Arga Bisma seorang difabel Cerebral Palsy (CP) meski memiliki hambatan gerak pada tangan, tekadnya untuk menekuni dunia menulis tidak pernah pantang menyerah. Dua buku kumpulan puisi satu dan dua, dengan tajuk yang serupa telah diterbitkan dari kekakuan jemarinya. Ini membuktikan, sebuah karya mampu dilahirkan oleh individu difabel yang mau mengasah potensi yang ada pada dirinya.

“Satu puisi kadang bisa ditulis dalam hitungan menit, tergantung panjang atau pendeknya bait yang mau ditulis,” kata Arga.

Untuk menuangkan ungkapan rasa yang ada di hati dan pikirannya ke dalam bentuk tulisan, Arga biasa menggunakan leptop atau handphone dan ia ketik sendiri. Meski setiap hari didampingi personal asisten untuk membantu aktivitas, dalam urusan tulis menulis ia lebih memilih mengerjakan secara mandiri. Di atas kursi rodanya lah, untaian kata teruang menjadi rangkaian bait-bait puisi yang indah.

Hambatan yang sering kali dirasakan saat membuat karya tulisnya bukan terletak pada kebuntuan ide atau kesulitan merangkai kata-kata menjadi bait puisi. Akan tetapi, lebih kepada menyentuh huruf yang tersedia di layar handphone atau leptop. Butuh kesabaran dan pengulangan membaca kata yang muncul setelah di ketik oleh jarinya.

Rasa pegal bahkan sedikit keram pada bagian jemari yang digunakan untuk menulis sering mengganggu. Namun, semua itu bukan lah menjadi satu halangan yang menggugurkan niat menghasilkan sebuah puisi.

Srikandi Syamsi berkata, ‘Seni adalah kebebasan berekspresi. Puisi ekpresi keleluasaan hati, jiwa dan pikiran. Sedang karya milik mereka yang berani mencipta.’ Mungkin seperti itulah sosok Arga Bisma dapat di narasikan.

Lalu, seperti apa penulis ‘Dillan’ Pidi Baiq menyambut kumpulan puisi karya Arga Bisma?

Berkunjung ke tempat cafe milik Pidi Baiq di kawasan jalan Ambon kota Bandung, bersama Arga Bisma dikawal Dodi personal asistenya beberapa waktu lalu memberi kesan menakjubkan.

Pidi Baiq yang akrab dengan sapaan ‘Ayah Pidi,’ mengaku bangga dapat dipertemukan dengan Arga. Awal perkenalan keduanya merupakan sambung tangan dari seorang anggota wakil rakyat di tingkat pusat yang juga pernah menuliskan pengantar kata pada karya perdana Arga Bisma.

Penggarap Buku Dillan ini pun sangat membuka tangan terhadap penulis-penulis difabel yang ingin menerbitkan karyanya. Jauh dari ekspetasi negatif, Ayah Pidi yang berpenampilan sederhana dan memiliki karya tulis membahana sangat ramah menyambut pengunjung difabel. Memperkenalkan setiap rekannya yang datang, hingga sebait nasehat motivasi dan semangat redaksi menulis pun disampaikan. Di pertemuan keempat tersebut, Ayah Pidi menuturkan karya puisi kumpulan Arga Bisma akan mendapatkan kesempatan untuk di terbitkan oleh timnya.

“Saya tidak memandang seseorang itu difabel atau bukan, saya lebih melihat kepada karya tulisan,” ucapnya.

Saat diminta berpendapat tentang puisi-puisi Arga Bisma, spontan Ayah Pidi berkata karya yang bagus. Dalam tulisanya seolah terlihat sentuhan emosi, ungkapan hati layaknya penyair. Namun tetap tidak dipungkirinya, tulisan-tulisan puisi yang telah dihasilkan Arga Bisma masih memerlukan sentuhan tangan editor.

“Nanti  ada editor yang akan membantu mewujudkan karya Arga untuk menjadi layak terbit, seperti karya lain pada umumnya,” tutur Ayah Pidi.

Meski berhadapan langsung dengan Pidi Baiq, proses penerbitan kumpulan puisi karya Arga Bisma tetap masih harus menunggu daftar antrian. Dengan demikian, sikap profesional pun diterapkan terhadap karya tulisan dari difabel.

Ciptakan bait-bait puisi di atas kursi roda dengan ketulusan dan melawan semua hambatan yang dirasakan, Arga Bisma pun telah menemukan jalan untuk meraih impian menjadi kenyataan.  

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.