Lompat ke isi utama
sahabat gapai saat makrab

Sahabat Gapai Gelar Makrab dan Belajar Perspektif Difabilitas

Solider.id, Karanganyar – Sebanyak 25 relawan anggota Komunitas Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (Gapai), biasa disebut Sahabat Gapai mengikuti malam pengakraban (makrab) pada Sabtu-Minggu 29 Februari sampai 1 Maret 2020 di Tawangmangu, Karanganyar Jawa Tengah. Kegiatan Komunitas Gapai tersebut selain bertujuan untuk saling mengakrabkan dan berkonsolidasi terkait organisasi juga untuk belajar dari awal kembali terkait pengarusutamaan difabilitas. “Perspektif dan paradigma harus kami bangun dari awal, apalagi salah satu bidang divisi kami adalah pendidikan. Divisi ini langsung bersentuhan dengan teman-teman difabel,” terang Susan, Ketua Komunitas Gapai kepada Solider.id di tempat pelatihan.

Astuti, narasumber yang mengisi sesi perspektif difabilitas mengemukakan hal-hal dasara tentang difabel yang dimulai dari pengetahuan tentang ideologi kenormalan, pemilihan termonologi difabel, penyandang disabilitas, cacat dan tidak cacat serta pengarustamaan difabilitas. Menurutnya hal utama yang harus dimiliki oleh seorang relawan ketika terjun di dunia difabilitas adalah menyamakan persepsi dan perspektif terkait difabel. Pelatihan juga memberi pembekalan kepada relawan bagaimana cara-cara berinteraksi dengan difabel.

Sebenarnya pihaknya merasa sedikit kecewa, karena dari 25 relawan tersebut tidak ada satu pun yang datang dari difabel pegiat. Namun setelah memperkenalkan diri identitas masing-masing, lalu berbicara panjang lebar saling berbagi pengalaman, dijumpainya seorang relawan yang berangkat dari difabillitas. Bahkan saat sesi berbagi pengalaman didapat bahwa relawan tersebut pernah menjadi korban perundungan.

Narasumber Tekankan Perspektif Difabilitas dan Tinggalkan Difabel Sebagai Objek Semata

Perspektif difabilitas penting menjadi modal utama sebagai pengetahuan bagi relawan penggerak. Menurut Astuti, karena Gapai sudah dikenal di masyarakat luas. Apalagi saat ini telah tumbuh subur organisasi Gapai di berbagai daerah, tidak hanya di Pulau Jawa saja melainkan di luar Jawa. Dan ketika misi dan visi yang diemban pun adalah tentang bentuk kepedulian terhadap difabel, sehingga jangan sekali-kali terjebak menjadikan difabel semata sebagai objek belaka. “Berikan kesempatan agar teman-teman difabel pun bisa menjadi relawan, sebagai guru untuk mengajar teman berkebutuhan khusus lainnya,” ujar Astuti.

Gapai lahir sebagai bentuk apresiasi dan kegundahan sekelompok mahasiswa semula hanya mahasiswa Universitas Sebelas Maret saja, di tahun 2014  yang ingin membantu anak-anak difabel mendapatkan pendidikan dengan pendampingan belajar dan pencarian bakat. Seiring berjalannya waktu, Sahabat Gapai kemudian berasal dari lintas perguruan tinggi di Surakarta. Pada tahun 2015 Gapai digandeng oleh pihak rektorat Universitas Sebelas Maret untuk turut assesment/uji aksesibilitas gedung-gedung perkuliahan di kampus.

Gapai juga memiliki program rutin selain memberikan pendampingan belajar dan bakat bagi anak berkebutuhan khusus, juga mengadakan buka bersama serta pemberian beasiswa. Tahun 2018-2019 Gapai sempat bekerja sama dengan salah satu badan amil zakat di Surakarta lalu menyelenggarakan konferensi Gapai dan pemilihan Duta Gapai yang diikuti secara swadaya oleh peserta dari berbagai daerah. Namun tahun ini fundraising Gapai berasal dari donatur yang dikumpulkan dari pengurus dan beberapa orang yang memiliki simpati dan empati. Sejak awal tahun 2020, kantor sekretariatan Gapai pun telah berpindah dari daerah Laweyan ke tempat baru : Rumah Gapai, Belakang Griya PMI Peduli, Mojosongo.

“Kita baru ngomongin hal dasar, tentang difabilitas. Kita belum banyak belajar apa itu inklusi, inklusivitas, pendidikan inklusi itu yang bagaimana. Saya akan mengajak teman difabel untuk mengajarkan itu kepada para relawan Gapai, suatu saat ada kesempatan,” pungkas narsumber.  

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.