Lompat ke isi utama
lingkungan sekolah Little Finger

Wajah Inklusi dan Multikultur Pendidikan di Little Fingers School

Solider.id, Yogyakarta - Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, menjadi desa pertama di wilayah Kabupaten Sleman yang memiliki Peraturan Desa (Perdes) Difabel. Ternyata tidak hanya memiliki Perdes saja, namun ada sebuah sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) bernama Little Fingers School, hadir mengedepankan inklusi multikultur untuk Indonesia yang lebih baik. Mereka memulainya dari   desa ini.

Meski telah ada Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Depdiknas Nomor 380/C.C6/MN/2003 tentang rintisan pelaksanaan sekolah inklusi, keberadaan seolah inklusi masih jarang, terutama yang dikelola oleh pihak swasta.

Theresia Sihartati atau ibu Tatik selaku kepala sekolah ketika diwawancara langsung oleh kontributor Solider.id, Senin (17/2) menceritakan awal mula ide untuk mendirikan Little Fingers School tercetus pada tahun 2012, namun baru terwujud di tahun 2016 dengan konsep filosofis menerima semua anak dari semua kalangan, budaya, suku agama, ekonomi sosial dan menerima anak berkebutuhan khusus. Little Fingers School dengan slogannya grow and smart in kindness lebih mengajak anak untuk hidup bersosial dengan bakat dan bawaannya. Oleh karenanya, Little Fingers School berprinsip menerima anak difabel, namun tidak mengelompokkan mereka secara tersendiri.

“Kita gabungkan dengan anak-anak yang nondifabel agar bisa bertumbuh dan memiliki rasa percaya diri yang sama. Inklusi penekanannya di sekolah kami lebih ke kepribadian dan perkembangan sosialnya,” ujar Miss Gladi, Koordinator Little Fingers School menjawab pertanyaan kontributor Solider.id, Kamis (6/2) seminggu sebelumnya.

Sekolah Inklusi dan Multikultur

Miss Gladi menuturkan bahwa awal berkembangnya Little Fingers School menjadi sekolah inklusi karena ingin menampung anak-anak  nondifabel berbaur dengan anak difabel tanpa saling membedakan. Awalnya Little Fingers School sempat menerima anak difabel terlalu banyak, akhirnya karena takut tidak tertangani dengan baik, akhirnya kami memutuskan maksimal dalam satu kelas ada dua anak difabel. Respon masyarakat pun sangat baik, dengan cara mereka mau memasukkan anak mereka untuk sekolah disini, meski melihat ada anak difabel dan sekolah ini bukan Sekolah Luar Biasa.

Multikulturalisme dalam sekolah ini tercermin dengan adanya tata cara berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Anak-anak sudah paham masing-masing agama dan jika ada teman yang beragama Islam, dia akan mengingatkan temannya untuk berdoa, mereka sudah paham. Mengenalkan agama sejak dini sangat penting, terutama perbedaan dalam ritual keagamaan, jadi kalau melihat agama lain akan biasa saja, tidak bertanya kenapa agama lain begini-begitu.

Little Fingers School memakai kurikulum 2013, namun disesuaikan dengan kurikulum sekolah dan kebutuhan siswa melalui pembelajaran terbaik sesuai dengan yang murid mampu. Ketika sudah selesai bersekolah di Little Fingers, para murid difabel yang ingin melanjutkan sekolah diberikan rekomendasi sekolah-sekolah yang menerima anak difabel, jadi tidak melulu melanjutkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB).

suasana pembelajaran di PAUD Inklusi

Guru Pendamping bagi anak Difabel, Tantangan sekaligus Membanggakan

Semua guru pendamping punya later belakang pendidikan yang tidak sama. Tatik selalu menyampaikan bahwa tidak ada teori pasti yang menjelaskan bahwa satu anak dengan anak yang lain sama treatment atau cara memperlakukannya. Semua guru adalah guru pendamping atau yang disebut sebagai tim teaching, yang bertugas mengajar sekaligus mendampingi. Jadi semua melatih diri untuk menjadi pendamping semua anak, termasuk anak difabel, namun ada pendamping khusus untuk kondisi kelas tertentu. “Teori pendampingan bukan satu-satunya, karena kita harus melihat kondisi masing-masing anak, yang penting mempelajari karakternya, treatment-nya nanti mengikuti.” Ujar beliau.

Ada kebanggaan bagi guru pendamping yang mau nggak mau juga jadi pembelajar.  Tatik menambahkan bahwa ada kepuasan tersendiri ketika bekerja dari hati agar anak-anak mengalami perubahan yang lebih baik dan guru-guru pendamping yang terus belajar. Beliau bangga karena guru-guru di Little Fingers bisa melakukan sesuatu yang mungkin tidak dilakukan guru-guru diluar sana dan guru-gurunya rata-rata bertahan lama, karena sistem kerja secara tim dan kekeluargaan.

Tahun ini di Little Fingers School ada 4 anak difabel yang sedang menjadi anak didik dengan satu guru pendamping memegang satu anak difabel. “Tantangan memang banyak, tapi sampai detik ini saya syukuri, mendampingi dan membersamai serta mengenal emosi anak yang difabel dan tidak, yang kadang tidak sama tapi kadang sama, hanya perlakuan yang berbeda. Rata-rata mereka memiliki bakat khusus dan kita berusaha mengembangkannya sesuai kemampuan guru pendamping dan kemampuan si anak.” imbuh Miss Gladi.

anak-anak PAUD sedang bermain bersama

anak difabel sedang belajar di PAUD inklusi

Harapan Orangtua Murid dan Little Fingers ke depan

Menurut  Titik yang menyekolahkan cucunya di Little Fingers, fasilitas dan guru pendampingnya bagus karena menerima cucunya yang difabel.  Titik bercita-cita menyekolahkan anaknya ke sekolah umum dan dengan memasukkan cucunya di Little Fingers dirasa sangat membantu. “Perkembangan setelah sekolah disini, cucu saya bisa mandiri. Disini kan diajari sehabis makan, cuci tangan. Kalau ada yang berceceran, dibersihkan. Di rumah dia juga begitu, dia makan sendiri, lalu kalau habis, dia taruh piring di tempat cuci piring. Dia sudah bisa mengambil sepatu sendiri. Kalau ada susu yang tumpah di lap.” Cerita  Titik tentang cucunya yang berusia lima setengah tahun.

Orangtua murid lainnya berpendapat bahwa berbaur dengan murid-murid lain yang difabel tidak menjadi masalah karena dengan begitu anak-anak bisa bergaul tanpa membeda-bedakan.

Selama ini ibu Tatik mendampingi beberapa sekolah lain dengan cara memberikan training atau pelatihan bagi guru-guru dengan model sekolah serupa. Little Fingers School  juga mendapat kunjungan atau studi banding dari daerah lain dan juga tempat belajar dimana banyak sekolah-sekolah lain, bahkan mahasiswa dari beberapa universitas di Yogyakarta yang belajar tentang pendekatan dan sistem belajar mengajar di sekolah ini. “Mimpi saya dan kami bersama, kami ingin menjadi sekolah yang menjadi tempat belajar atau resource center.” Terang ibu Tatik menutup perbincangan.

 

Reporter: Alvi

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.