Lompat ke isi utama
Althaf bersama kedua orang tuanya

Muhammad Erwin Althaf, Sulit Baca Gerak Bibir Dosen Saat Kuliah, Hingga Lulus Cumlaude UGM

Solider.id,Yogyakarta –   Muhammad Edwin Althaf namanya, beberapa waktu yang lalu, ia telah mengukir sejarah baru dalam hidupnya. Mengenakan pakaian special dan menjalani prosesi wisuda di gedung Grha Saba Pramana UGM tentu bukan sembarang orang bisa mengalaminya. Bangga dan bahagia tentu dirasakan oleh keluarga dan kedua orang tuanya manakala gelar sarjana kini telah ia raih dan siap menjadi pribadi yang baru dan siap menerima tantangan dalam fase kehidupan selanjutnya.  

 Pria yang akrab dipanggil Althaf ini merupakan salah satu mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2015. Pada Rabu (19/2) lalu, ia baru saja menjalani wisuda bersama mahasiswa-mahasiswa tingkat sarjana dan diploma lainnya. Tidak hanya itu, ia juga dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude.

Ketika ditemui seusai wisuda, Althaf menceritakan bahwa dirinya merupakan seorang tuli parsial, dimana telinga sebelah kirinya masih dapat mendengar suara dengan samar-samar. Ia menambahkan bahwa tidak semua tuli menggunakan bahasa isyarat sebagai media berkomunikasi. Dirinya mengakui lebih mudah ketika menggunakan oral walaupun memerlukan konsentrasi yang tinggi untuk memerhatikan gerak bibir lawan bicara.

Perjuangan Althaf hingga kini menyandang gelar S.Pt tentu bukan tanpa hambatan. Ia menuturkan bahwa dirinya sering mengalami kesulitan selama proses perkuliahan baik itu di kelas maupun saat praktikum. “Aku merasa kesulitan ketika dosen menyampaikan materi kuliah yang tidak sesuai dengan isi PPt karena gerak bibirnya sulit dibaca,” ungkapnya.

Althaf juga menjelaskan bahwa ketika praktikum mengalami kesulitan ketika asisten praktikum menggunakan masker. “Di kandang kadang juga merasa kesulitan kalau asisten praktikum menjelaskan dengan menggunakan masker karena sama sekali tidak bisa melihat gerak bibirnya,” keluhnya. Ia menambahkan bahwa sempat mengalami depresi ketika mendapatkan nilai D pada salah satu mata kuliah sedangkan teman-teman yang lain tidak ada yang mendapatkan nilai D.

Bahkan, Althaf mengaku dirinya perlu dibantu seorang sukarelawan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Difabel ketika sidang pendadaran. Saat sidang berlangsung Althaf berusaha untuk menjelaskan hasil penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Penambahan Bungkil Jintan Hitam Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Pada Domba Merino“, walaupun suaranya kurang jelas. Dalam sidang, sukarelawan  berperan untuk menuliskan pertanyaan dan saran yang dilontarkan oleh dosen penguji dan pebimbing.

Lebih lanjut, Althaf mengungkapkan bahwa kesulitan dalam mengenyam pendidikan sebenarnya sudah dialaminya sejak sebelum masuk kuliah. Ia menuturkan bahwa dirinya dulu awalnya mengenyam pendidikan luar biasa dari pra TK, TK, hingga SD kelas 1. Namun, kemudian didorong oleh Yayasan Rumah Siput di Jakarta agar mengambil jenjang pendidikan umum.

Pengalaman tidak mengenakan mulai dirasakan Althaf ketika mendaftar sekolah umum.  Hampir seluruh sekolah yang didatangi menolak dengan alasan guru tidak memiliki kapasitas untuk mengajari murid tuli. Akhirnya, orang tua Althaf memutuskan untuk mendaftarkannya di salah satu sekolah swasta bernama Yayasan IT Harapan Bunda dari mulai SD hingga SMP. Di sekolah tersebut, ia mengaku dapat mengembangkan diri secara utuh sebagaimana yang lainnya. Bahkan ketika UN SMP Althaf mendapat nilai 10 pada salah satu mata pelajaran.

Kemudian, Althaf pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan SMA. Awalmya ia mendaftar pada salah satu sekolah swasta favorit, tetapi ditolak dengan alasan gurunya kurang percaya dengan hasil nilai UN yang ia peroleh. Pada akhirnya Althaf dapat bersekolah di SMA IT Abu Bakar. Ia mengaku selama masa SMA  tersebut dapat mengikuti pelajaran dengan baik hingga dapat diterima di UGM lewat jalur SNMPTN 2015.

Althaf menerangkan pendidikan merupakan hal penting dalam perjalanan hidup seseorang. “Bagi saya pendidikan merupakan salah satu cara untuk membentuk pola berpikir seseorang,” terangnya. Setelah lulus dari Fakultas Peternakan, Ia berencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Dunia pekerjaan bagi seorang Sarjana Peternakan memang sangat beragam. Namun menurut Althaf hambatan terbesar difabel di Indonesia adalah stigma dari orang lain. Althaf mengaku dirinya sudah siap dengan segala tantangan pekerjaan nantinya.

Hal yang menurut Althaf sangat dirinya syukuri selama ini adalah besarnya dukungan dari keluarga. Althaf merupakan putra kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Dr. drg. Edi Sumarwanto, MM., MH.Kes., dan drg. Eny Rusdaningsih, Sp.KG.

Sang Ayah, Edi, yang turut mendampingi Althaf selama proses wawancara, menyatakan bahwa banyak anak difabel di Indonesia tidak diberikan akses oleh keluarga untuk berkembang. “Saya ingin menghimbau kepada seluruh keluarga di Indonesia, khususnya yang memiliki anak difabel, agar jangan berhenti untuk berusaha karena anak bukan produk gagal dari Tuhan. Berilah kesempatan mereka untuk terus berkembang. Saya pribadi mengucapkan terimakasih yang besar kepada UGM karena telah menerima dan memberi kesempatan difabel untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi,” ajak Edi memungkasi.

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.