Lompat ke isi utama
kegiatan akar Tuli Malang

Difabel dan Pergerakan Mahasiswa Inklusi

Solider.id Malang - Mahasiswa tidak diragukan lagi adalah para aktor perubahan di masyarakat. Peranan mahasiswa dalam aspek pendidikan, pembangunan serta pengabdian bagi masyarakat dan negara adalah tujuan mulia yang dimiliki seorang mahasiswa. Idealisme tinggi, kritis, semangat yang berkobar-kobar, berpemikiran terbuka hingga bebas dari kepentingan politik umumnya merupakan karakteristik dominan yang dimiliki kelompok ini. Tidak mengherankan kemudian, perubahan kecil maupun besar di masyarakat sering kali dimotori oleh pergerakan mahasiswa, tidak terkecuali bagi mahasiswa difabel.

Praktik stigmatisasi, diskriminasi hingga eksklusi sosial masih menjadi permasalahan klasik kelompok difabel. Masih langgengnya perlakuan-perlakuan semacam ini sering kali berawal dari kurangnya pengetahuan dan pemahaman orang-orang terhadap individu dengan difabilitas. Sehingga ketika wawasan publik terhadap difabel minim, maka paradigma-paradigma kuno yang melekat dalam diri difabel pun sulit untuk dihilangkan.

Disinilah, peranan mahasiswa menjadi sangat signifikan guna mendobrak stereotype-stereotype negatif tersebut. Selaku kaum terpelajar dalam masyarakat, kelompok mahasiswa sudah sepatutnya memikul kewajiban moral untuk menciptakan struktur sosial yang inklusif, non diskriminatif, dan bebas dari stigma terhadap kaum difabel. Tidak hanya bagi mahasiswa secara umum, namun juga bagi mahasiswa difabel. Hal ini senada dengan pandangan Andy Zulfajrin Syam, yang merupakan seorang difabel netra dan juga ketua Forum Mahasiswa Peduli Inklusi (FORMAPI) Universitas Brawijaya Malang. Menurut pemuda yang tengah menempuh studi pada jurusan Hubungan Internasional tersebut, peran mahasiswa difabel bahkan menjadi aspek paling instrumental dalam upaya perwujudan lingkungan yang inklusif bagi kawan-kawan difabel. Fajrin sapaan akrabnya menuturkan bahwa ada 3 hal yang seharusnya dilakukan difabel sebagai seorang mahasiswa. Pertama adalah untuk berani terjun dan menunjukkan eksistensi diri sebagai difabel di masyarakat. Kedua adalah mampu menunjukkan kompetensi diri melalui karya, bakat maupun prestasi yang dimiliki sebagai seorang difabel. Menurutnya, kedua aspek ini sangatlah relevan dalam upaya menumbuhkan kesadaran dan pengakuan dari kalangan non difabel, sehingga tidak lagi melihat difabel sebagai objek yang perlu dikasihani.

 Peran ketiga adalah untuk terlibat aktif dalam proses advokasi isu-isu difabel, baik dalam lingkup kampus maupun luar kampus. Fajrin, yang telah banyak berpartisipasi dalam berbagai upaya advokasi terkait isu difabel pada tingkat universitas maupun daerah, mengakui bahwa peran advokasi mahasiswa difabel bisa sangat efektif mendorong perubahan di masyarakat. Pria kelahiran Makasar ini juga mengatakan sering terlibat dalam forum-forum daerah, seperti musrembang dan musrembang tematik difabel guna menyuarakan kepentingan kelompok difabel pada ranah kebijakan. Menurutnya, peran aktif dalam komunitas FORMAPI memberikannya kesempatan untuk mampu berkontribusi sebagai katalisator perubahan bagi kelompok difabel, baik selaku difabel itu sendiri, mahasiswa maupun generasi muda di masyarakat.

Pengalaman Fajrin ini sekilas memperlihatkan kembali pada kita betapa sentralnya peranan aktivisme dari mahasiswa difabel. Kontribusi mahasiswa difabel nyatanya tidak kalah dengan mahasiswa lainnya dalam menginisiasi perubahan secara struktural maupun secara sikap.

 Apabila kita lihat lebih jauh, aspek difabel sebenarnya mempunyai posisi strategis dalam 5 peran fundamental seorang mahasiswa, yakni selaku agent of change, iron stock, guardian of value, moral force dan social control.

 Sebagai agent of change, mahasiswa difabel tentu merupakan agen perubahan bangsa yang paling potensial. Mahasiswa adalah para pemuda dan pemudi yang mampu menggerakkan perubahan lewat idealisme, intelektualitas dan aksi-aksi nyata demi terciptanya perubahan, termasuk dalam menciptakan inklusi bagi difabel di masyarakat. Kedua adalah sebagai iron stock, alias para generasi penerus bangsa. Peran mahasiswa adalah untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa, dalam berbagai isu termasuk menyangkut perjuangan hak bagi kaum difabel. Selain itu, mahasiswa adalah kelompok yang harus menjaga nilai-nilai luhur kehidupan, seperti nilai kejujuran, keadilan, kebenaran, empati dan lainnya. Dengan demikian, peran mahasiswa sebagai guardian of value juga wajib menyebarkan nilai-nilai inklusivitas difabel pada lingkup akademis maupun nonakademis.

 Keempat adalah sebagai moral force. Status mahasiswa sebagai kaum terdidik menjadikan mahasiswa baik difabel maupun non difabel pun patut memiliki moral yang baik pula. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu memperbaiki struktur yang kini masih didominasi oleh stigma, diskriminasi dan eksklusi terhadap kaum difabel.

 Kelima adalah selaku social control. Mahasiswa memegang peranan kunci sebagai sumber kritik, saran serta solusi terhadap berbagai permassalahan yang ada di masyarakat. Mahasiswa juga idealnya mampu berkontribusi terhadap berbagai permasalahan yang mendera difabel, baik itu pada tataran kebijakan melalui peran advokasi serta sosialisasi kepada masyarakat luas.

Aktualisasi dari kelima prinsip ini kemudian dapat terwujud ke dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui keterlibatan aktif mahasiswa dalam gerakan komunitas. Abdul Jabar, seorang Tuli dan juga ketua  komunitas Akar Tuli Malang sependapat dengan hal ini. Pria asal Bojonogoro itu mengatakan bahwa peranan mahasiswa sangatlah penting dalam membangun kesadaran akan difabel, terutama ketika mahasiswa tersebut tergabung dalam komunitas yang bergerak dalam isu difabel. Komunitas Akar Tuli sendiri menurutnya banyak diisi oleh  mahasiswa-mahasiswa difabel maupun nondifabel yang memiliki kepedulian besar terhadap isu difabel, khususnya menyangkut Tuli di Malang Raya. Komunitas yang merupakan wadah bagi aktivitas teman-teman Tuli maupun dengar tersebut  berupaya menumbuhkan kesadaran tentang difabel lewat kegiatan-kegiatan seperti sosialisasi, pelatihan bahasa isyarat, dan kelas Bahasa isyarat Indonesia (Besindo) ke publik luas. Harapannya, kegiatan-kegiatan ini dapat memperkenalkan kawan-kawan Tuli kepada masyarakat sekaligus juga membangun kesadaran mereka terhadap budaya inklusi di daerah. 

Hal sama juga diungkapkan Ilham, yang merupakan ketua dari Gerakan Mahasiswa Peduli Inklusi dan Disabilitas (Gempita) Universitas Negeri Malang. Ilham menjelaskan bahwa keterlibatan mahasiswa difabel dan nondifabel dalam komunitas gempita mampu memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak. Ia menambahkan bahwa, bergabungnya mahasiswa difabel dalam komunitas mendorong mereka untuk aktif mempromosikan isu inklusi, dan pada saat yang bersamaan juga menumbuhkan kesadaran kawan-kawan nondifabel terhadap isu difabel di lingkungan kampus.   

Upaya-upaya yang ditunjukkan Fajrin, Ilham maupun Abdul Jabar menjadi potret semangat dari mahasiswa dan juga generasi muda dalam menyebarkan isu inklusi di level akar rumput. Kontribusi mereka memperlihatkan pada kita bahwa perubahan itu sejatinya mampu diciptakan dari hal-hal terkecil disekitar kita. Mahasiswa yang identik dengan idealisme, intelektualitas, dan sifatnya yang kritis sejujurnya mampu memainkan fungsi vital dalam agenda perubahan masyarakat ke arah inklusi. Baik mahasiswa difabel maupun mahasiswa nondifabel berkewajiban mengambil peran masing-masing dalam misi ini. Jadi tunggu apa lagi mahasiswa! Mari kita wujudkan masyarakat yang inklusif bagi difabel di Indonesia!  

 

Penulis: Made Wikandana

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.