Lompat ke isi utama
papan nama fakultas hukum UGM

Difabel Belajar Hukum? Mengapa Tidak!

Solider.id, Yogyakarta – pada tanggal 14 Februari 2020 hingga 28 Februari, dibuka Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Salah satu jurusan atau program studi yang menjadi favorit dari tahun ke tahun adalah Ilmu Hukum. Sebagai gambaran, di tahun 2019, program studi Ilmu Hukum Universitas Diponegoro menjadi program studi yang paling diminati di SBMPTN 2019. Pertanyaannya kemudian : mungkinkah seorang difabel belajar di Fakultas Hukum? Jawabannya tentu saja mungkin.

Solider berkesempatan berbincang dengan Alexander Farrel Rasendriya, mahasiswa difabel netra yang belajar di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Farrel, begitu ia akrab disapa, mendapatkan kesempatan belajar di Fakultas  Hukum UGM usai dirinya dinyatakan lolos melalui jalur SNMPTN 2019.

Farrel menceritakan kepada jurnalis Solider alasan mengapa ia akhirnya memilih Fakultas Hukum UGM sebagai tempat belajar serta bagaimana pengalaman yang dia rasakan selama mengikuti kuliah hukum. Ia bercerita bahwa sesungguhnya pada awalnya ia adalah seorang siswa yang lebih tertarik untuk belajar di bidang studi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam. Namun, kemudian ada seorang guru yang menyarankan kepadanya untuk belajar di Fakultas Hukum karena peluang yang terbuka. Berkat saran tersebut, ia kemudian saat menempuh Pendidikan di bangku SMA mulai mempelajari sedikit demi sedikit mengenai isu-isu hukum. Disanalah ketertarikannya terhadap dunia hukum mulai tumbuh. Akhirnya ia pun sampai pada keputusan bahwa ia akan melanjutkan studi di program studi Ilmu Hukum.

Farrel bercerita bahwa selama ia belajar di Fakultas Hukum UGM, ia tidak mengalami hambatan berarti terkait kondisi difabel yang dimilikinya. Ia yang seorang difabel netra dapat mengakses materi perkuliahan melalui file yang disediakan dalam bentuk elektronik. Ia dapat membaca materi-materi tersebut melalui smartphone mau pun laptop yang dimilikinya. Dengan belajar di Fakultas Hukum Farrel ingin menunjukkan bahwa difabel netra sangat mungkin untuk belajar dan berkarier di dunia hukum. Mengingat tidak banyak difabel netra yang memilih belajar dan berkarier di dunia hukum.

Setelah lulus dari Fakultas Hukum UGM, Farrel berencana untuk melanjutkan karier sebagai konsultan hukum. Ia terinspirasi oleh konsultan hukum Google yang juga seorang difabel netra yaitu Jack Chen.

Farrel juga sudah sangat siap untuk menghadapi tantangan pekerjaan setelah ia lulus nanti. Menurutnya, pekerjaan sebagai konsultan hukum adalah pekerjaan yang sangat mungkin dilakukan oleh seorang difabel. Apa lagi dengan dukungan teknologi seperti saat ini. Namun, hambatan terbesar seorang difabel ketika dihadapan dengan kenyataan di dunia kerja adalah stigma dari orang lain. Stigma tersebut yang justru sangat menghambat difabel untuk berkembang di dunia kerja. Begitu tutur peraih nilai 100 di Ujian Nasional Matematika 2019 ini

Selain dengan Alexander Farrel, Solider juga berkesempatan untuk berbincang dengan Andi Kasri Unru, mahasiswa Tuli yang belajar di Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul. Akas, begitu ia di panggil, menjelaskan alasannya mengapa ia memilih belajar hukum dan bagaimana rencana kariernya kedepan.

Kisah Akas cukup menarik. Sebelum ia memutuskan untuk mengambil studi Ilmu Hukum di tahun 2017, sebenarnya ia telah menyelesaikan studi D3 teknik mesin di salah satu universitas swasta di Makassar.

Akas mengatakan bahwa perjalanan hidupnya yang kerap menemui hambatan dan pertemuannya dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (Perdik), sebuah Lembaga yang berfokus pada advokasi hak difabel, merupakan faktor yang mendorongnya untuk mengambil kuliah hukum. Menurut penuturannya, selama menempuh Pendidikan di bangku sekolah dan ketika belajar D3 Teknik Mesin ia kerap menemui hambatan. Ketika ia menempuh Pendidikan di sekolah ia juga pernah menerima perundungan. Kemudian, ketika ia mengikuti kuliah beberapa hambatan juga dijumpainya. Bahkan, tak berhenti sampai disitu, diskriminasi juga pernah ia terima ketika melamar kerja pasca lulus kuliah.

Di tahun 2017, setelah ia lulus kuliah, ia berjumpa dengan komunitas Tuli di Makassar dan Perdik. Disana ia menyadari bahwa hak-haknya sebagai difabel telah dilanggar. Kemudian, bertepatan dengan adanya pembukaan beasiswa dari Michael Steven Stein, seorang advokat asal Amerika yang memiliki perhatian pada Pendidikan tinggi hukum Tuli di dunia, di tahun 2017 Akas akhirnya mendaftar kuliah hukum di Universitas Esa Unggul. Akas akhirnya menjalani kuliah di salah satu kampus di Jakarta tersebut dengan beasiswa dari Michael Steven Stein.

Akas bercerita, ketika ia belajar di kelas ia selalu didampingi oleh satu orang pendamping yang bertugas untuk mencatat segala hal yang dikatakan oleh dosennya dikelas. Sebagai seorang Tuli, ia pada awalnya pernah di damping oleh juru Bahasa isyarat. Namun, Akas merasa itu justru tidak membuatnya mengikuti pembelajaran dengan optimal. Sebabnya, karena banyak istilah hukum yang sulit diterjemahkan ke dalam Bahasa isyarat. Akhirnya mulai semester 1 hingga saat ini Akas memutuskan untuk menggunakan pendamping yang bertanggung jawab untuk mencatatkan seluruh materi perkuliahan (note taker). Akas merasa ia lebih bisa mengikuti pembelajaran di fakultas hukum dengan optimal dengan di damping oleh note taker.

Setelah menyelesaikan Pendidikan dari Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul, Akas berencana melanjutkan kariernya sebagai advokat (pengacara). Akas sudah siap menghadapi segala hambatan yang akan ditemuinya di dunia kerja. Senada dengan yang dinyatakan oleh Alexander Farrel Rasendriya, menurut Akas hambatan terbesar difabel di dunia kerja adalah stigma dari masyarakat. Difabel, sesungguhnya mampu untuk bekerja—misalnya menjadi advokat, namun stigma dari masyarakat justru seringkali menjadi hambatan utama.

Karier yang Cukup Terbuka

Tidak banyak difabel di Indonesia yang berkecimpung di dunia hukum. Namun, ada beberapa figur yang dapat menjadi bukti bahwa difabel mampu berkarier di dunia hukum. Sebut saja misalnya Saharuddin Daming, seorang difabel netra yang meraih doctor bidang Ilmu Hukum di Universitas Hasanudin serta mantan komisioner Komnasham periode 2007-2012. Selain itu, ada advokat Sugianto Sulaiman, advokat difabel netra yang pernah tampil di program talk show Mata Najwa yang cukup tersohor. Nama Hari Kurniawan, advokat difabel alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya juga dapat dijadikan contoh.

Di luar negeri contoh serupa juga tidak sulit untuk ditemui. Sebut saja nama Jack Chen, konsultan hukum perusahaan teknologi terkemuka Google yang seorang difabel netra. Jack Chen adalah alumni Fakultas Hukum Fordham yang dipercaya bekerja di Google sejak tahun 2010.

            Sekolah Hukum Harvard, yang merupakan fakultas hukum terbaik di dunia, setidaknya  telah meluluskan dua advokat difabel. Mari sebut nama Habben Girma, advokat difabel netra sekaligus Tuli yang meraih gelar Juris Doctor (JD) dari Harvard Law School tahun 2013. Selain itu Harvard juga telah meluluskan Michael Steven Stein, seorang advokat Tuli yang saat ini bekerja di  

 

Stein & Vargas, LLP

. Ia melalui lembaganya juga menyalurkan beasiswa ke negara-negara berkembang untuk mahasiswa Tuli yang hendak belajar di fakultas hukum. Dimana Andi Kasri Unru (Akas) adalah salah satu penerima beasiswanya.

Sementara di Australia, ada nama Ron McCalum, mantan dekan Fakultas Hukum University of Sydney. Ron McCalum adalah difabel netra pertama yang berhasil menjadi dekan fakultas hukum Sydney University. Ia juga seorang professor hukum yang telah banyak menulis literatur hukum.

 

Reporter: Tio Tegar

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.