Lompat ke isi utama
Peserta Temu Inklusi 2018 ikut berpartisipasi mengisi acara di paggung utama

Sekilas Temu Inklusi 2018

Solider.id- Temu Inklusi merupakan acara dua tahunan yang diinisiasi oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel Indonesia (SIGAB Indonesia) sebagai ruang berbagi, berjejaring dan konsolidasi gerakan Difabel (Disabilitas) dalam mendorong terwujudnya Indonesia yang inklusif. Perintisan forum ini dimulai 2014, dimana salah satu hasil nyatanya adalah munculnya gagasan/konsep Desa Inklusi. Hingga saat ini, Desa Inklusi telah diimplementasikan oleh SIGAB dan lebih dari tujuh organisasi lainnya di berbagai daerah.

Dalam beberapa tahun terakhir, penyelenggaraan Temu Inklusi selalu terinspirasi oleh semakin banyaknya praktik-praktik baik perwujudan inklusi dan keadilan sosial bagi Difabel, antara lain berupa cukup banyaknya upaya dan kerja nyata pemerintah dan agen-agen pembangunan, baik di tingkat lokal maupun nasional, baik sendiri maupun kolaboratif, untuk mendorong inklusi difabel. Di tingkat nasional, setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, penyusunan aturan turunannya sedang menjadi agenda pemerintah pusat dengan berkolaborasi dan mendengar masukan dari organisasi Difabel dan masyarakat sipil lainnya.

Beberapa daerah (Provinsi maupun Kabupaten/Kota juga telah mengesahkan peraturan daerah tentang Difabel, penganggaran yang lebih responsif dan menjawab kebutuhan Difabel, serta proses perencanaan pembangunan di tingkat desa hingga daerah yang semakin partisipatif. Semuanya adalah catatan baik yang harus diapresiasi dan terus diperluas. Demikian pula dengan organisasi masyarakat sipil dan proyek-proyek pembangunan yang telah mulai menempatkan isu difabilitas sebagai arus utama yang keterkaitannya tak dapat dipisahkan, bahkan harus selalu menjadi arus utama.

Selain itu, Temu Inklusi juga tergugah untuk mengkritisi ketimpangan-ketimpangan yang masih terjadi. Betapapun banyak kemajuan dari sisi kebijakan, praktik, inovasi maupun mobilisasi sumberdaya dalam mendorong pemenuhan hak serta inklusi Difabel, tantangan terbesarnya adalah masih sangat dirasakannya ketimpangan kesempatan, serta penikmatan atas hasil-hasil pembangunan bagi Difabel dan kelompok rentan/minoritas lainnya. Rendahnya angka Difabel yang dapat mengenyam pendidikan dan akses lapangan kerja, hingga data Difabel yang belum valid adalah sebagian bukti adanya kesenjangan yang perlu dicarikan solusinya.

Penyelenggaraan Temu Inklusi 2018 telah berupaya memberikan kontribusi pada tantangan besar tersebut. Forum dua tahunan ini telah menggali dan membagikan solusi-solusi lokal, serta inovasi-inovasi dalam meminimalisir hambatan dan mempromosikan terwujudnya masyarakat yang inklusif. Sadar bahwa mewujudkan masyarakat inklusif membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, praktisi, pembuat kebijakan, aktor pembangunan masyarakat, pelaku bisnis dan usaha, serta aktor-aktor lain, Temu Inklusi telah menjadi ruang terbuka yang memfasilitasi dialog yang bertujuan untuk menggalang pertukaran gagasan, menguatkan jejaring dan kerjasama, serta menyepakati agenda-agenda strategis.

Dengan demikian, diharapkan ruang bersama ini dapat berkontribusi pada pertukaran gagasan, kolaborasi yang lebih nyata, serta mendorong lahirnya kebijakan yang didasarkan pada bukti, kebutuhan dan praktik baik yang telah berjalan. Secara tidak langsung, ruang bersama ini dapat berkontribusi pada upaya Indonesia dalam mengimplementasikan berbagai instrumen global seperti Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas (Convention on the Rights of Persons with Disabilities, UN-CRPD), serta agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 (Sustainable Development Goals, SDGs).

Berdasarkan hal-hal tersebut, Temu Inklusi 2018 mengambil tema “Menuju Indonesia Inklusif 2030 Melalui Inovasi Kolaboratif”. Ada dua alasan pemilihan tema besar ini, yaitu untuk menyesuaikan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang berakhir di tahun 2030 dan untuk memberikan target yang jelas agar setiap dua tahun dapat diukur sejauh mana pencapaian Indonesia inklusif tersebut.

Tujuan dan Hasil yang Dicapai

Tujuan diselenggarakannya Temu Inklusi 2018 antara lain;

Pertama, menjadi wadah berbagi pengalaman, sumberdaya dan pengetahuan antara organisasi-organisasi Difabel, organisasi-organisasi masyarakat sipil, organisasi-organisasi non-pemerintah, serta Lembaga-lembaga pemerintah dalam menguatkan upaya mewujudkan inklusi bagi Difabel. Kedua, menjadi bagian dari kampanye penyadaran publik akan perspektif dan pemahaman positif atas keberadaan Difabel dalam rangka mencapai kesetaraan dan inklusi sosial. Ketiga, menghasilkan rekomendasi bersama dan tindak lanjut kolaboratif antar-pemangku kepentingan dalam pemenuhan hak Difabel; dan keempat, menyediakan ajang jejaring dan konsolidasi untuk penguatan advokasi yang berkelanjutan demi terealisasinya Indonesia inklusif 2030.

Adapun hasil yang dicapai dari penyelenggaraan Temu Inklusi 2018 antara lain sebagai berikut.

  1. Melalui Temu Inklusi 2018, ratusan aktivis dari organisasi-organisasi Difabel, organisasi-organisasi masyarakat sipil, lembaga-lembaga pemerintah dan masyarakat desa telah terfasilitasi untuk berbagi pengalaman, sumberdaya dan pengetahuan dalam menguatkan upaya-upaya untuk mewujudkan inklusi bagi Difabel;
  2. Tumbuh dan semakin kuatnya perspektif dan pemahaman positif atas difabilitas di kalangan aktivis-aktivis organisasi masyarakat sipil, pejabat pemerintah, masyarakat desa, dan organisasi-organisasi difabel itu sendiri sehingga menjadi modal untuk mencapai kesetaraan dan inklusi sosial difabel;
  3. Munculnya serangkaian rekomendasi umum dan khusus serta rencana tindak lanjut kolaborasi antar-pemangku kepentingan untuk memperjuangkan pemenuhan hak-hak Difabel; dan
  4. Temu Inklusi 2018 telah menjadi ajang jejaring dan konsolidasi gerakan masyarakat sipil untuk penguatan advokasi yang berkelanjutan untuk mendorong terealisasinya Indonesia inklusif 2030.

Prinsip Penyelenggaraan

Kegiatan Temu Inklusi 2018 sebisa mungkin mengedepankan prinsip-prinsip inklusif, aksesibel, terbuka, dan nirlaba.

Inklusif, memastikan keterlibatan penuh difabel dalam berbagai proses persiapan maupun pelaksanaan event hingga evaluasinya. Dalam berbagai kegiatan, peserta, pengunjung serta penyelenggara difabel dan non-difabel diharapkan untuk bisa membaur bersama-sama serta melakukan interaksi sosial yang inklusif. Setiap desain kegiatan dirancang sedemikian rupa untuk memastikan terkuranginya hambatan komunikasi, hambatan mobilitas serta hambatan fisik maupun non-fisik yang dapat mengurangi tingkat partisipasi penuh Difabel. Salah satu upayanya adalah memastikan adanya juru bahasa isyarat di setiap seminar, lokakarya dan diskusi.

Aksesibel, karena kegiatan dilaksanakan di desa, disadari bahwa akan sangat sulit memastikan aksesibilitas seluruh area kegiatan. Namun, panitia telah berupaya memastikan ketersediaan sarana penting seperti modifikasi toilet aksesibel dan pemasangan permanent dan portable ramp di area kegiatan. Adaptasi serta modifikasi sederhana dilakukan di beberapa sarana publik seperti balai desa, balai dusun, lapangan dan homestay untuk mengurangi hambatan fisik bagi peserta dengan hambatan mobilitas. Panitia berusaha memperhatikan kebutuhan aksesibilitas peserta dan pengunjung sepanjang pemberitahuan disampaikan sebelum event dilaksanakan dan sebatas ketersediaan sumberdaya pendukung kegiatan.

Terbuka, cara ini terbuka untuk seluruh anggota masyarakat, dari anak-anak hingga orang dewasa. Siapapun yang hadir dalam ajang ini, baik sebagai peserta/pengisi acara maupun sebagai pengunjung dapat saling berinteraksi secara langsung untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang Difabel dan inklusi. Setiap materi pengetahuan yang dibagipakaikan dalam seluruh sesi acara dapat diadaptasi oleh kelompok mana pun untuk diterapkan di daerah asal dan organisasinya.

Nirlaba, produk komersial terbatas oleh vendor yang telah ditunjuk panitia dan dijual dengan harga yang terjangkau oleh komunitas. Stand komersial tidak mencari laba besar, kecuali untuk menutup biaya produksi dan operasional. Produk-produk lain yang dijual di ajang ini adalah makanan siap saji yang dikelola oleh kelompok-kelompok komunitas/warga.

Partisipan Temu Inklusi 2018

Temu Inklusi 2018 bersifat terbuka bagi anak-anak hingga orang dewasa, baik difabel maupun non-difabel. Kegiatan ini juga memberikan kesempatan kepada warga Desa Plembutan dan desa-desa sekitar serta komunitas-komunitas seni dari Gunungkidul khususnya dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada umumnya untuk berpartisipasi dan memeragakan kebolehannya.

Sebagaimana dua penyelenggaraan sebelumnya, peserta Temu Inklusi 2018 ada dua kategori, yakni peserta utama yang menginap (live in) di rumah-rumah warga dan peserta pengunjung yang datang pagi pulang malam. Peserta utama Temu Inklusi 2018 tinggal selama tiga hari tiga malam di Desa dan mengikuti rangkaian pameran, seminar serta lokakarya. Mereka berasal dari 20 provinsi.

Bagan 1: Partisipan Temu Inklusi 2018 berdasarkan asal provinsiBagan 1: Partisipan Temu Inklusi 2018 berdasarkan asal provinsi

Temu Inklusi 2018 merupakan acara multi-stakeholder dan multi-event yang melibatkan berbagai kalangan mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, organisasi difabel, organisasi masyarakat sipil, lembaga pendidikan, dan lain-lain. Kegiatan ini telah menarik perhatian sekitar 2.270 orang partisipan aktif yang mengisi daftar hadir pada berbagai kegiatan, baik yang mengikuti kegiatan inti selama tiga hari penuh maupun yang datang pada hari tertentu saja. Mereka berasal dari 34 lembaga pemerintahan dan 66 lembaga/organisasi non-pemerintah. Adapun jumlah peserta yang bermalam di rumah-rumah warga (homestay) setidaknya terdiri dari 250 orang peserta utama yang teregistrasi live in serta 123 relawan dan panitia.

Selain itu, hadir pula 495 orang tamu undangan resmi dari unsur pemerintah dan swasta serta 1.402 orang peserta penggembira yang hadir pada acara tertentu seperti senam inklusi. Di samping itu, 119 orang pengisi acara budaya serta 120 orang pengisi acara pameran dan bazar juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pagelaran akbar ini. Panggung budaya serta pameran dan bazar setidaknya telah menyedot perhatian ribuan warga yang tak tercatat di lembar-lembar daftar hadir.

Secara garis besar, pengunjung Temu Inklusi 2018 terdiri dari:

  1. Individu maupun perwakilan organisasi Difabel
  2. Keluarga dengan anggota keluarga Difabel
  3. Aparat Penengak Hukum
  4. Pengacara dan lembaga bantuan hukum
  5. Guru serta perwakilan lembaga pendidikan yang menangani siswa Difabel
  6. Pemerhati, warga dan kelompok perangkat desa
  7. Akademisi (staf pengajar dan mahasiswa)
  8. Organisasi masyarakat sipil
  9. Pemerintah baik tingkat lokal maupun nasional
  10. Perwakilan proyek/Lembaga mitra pembangunan
  11. Kelompok bisnis (BUMD, BUMN maupun swasta)
  12. Kelompok media (mainstream dan media berbasis rakyat serta kampus)
  13. Pegiat seni/seniman
  14. Kelompok lainnya yang mempunyai ketertarikan dan/atau kerja nyata untuk inklusi Difabel.

Konsumsi, Homestay dan Transportasi

Warga Desa Plembutan banyak berkontribusi dalam menyiapkan konsumsi, homestay dan transportasi, sedangkan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga berkontribusi terhadap penyediaan transportasi. Sepanjang Temu Inklusi, konsumsi untuk peserta, relawan dan panitia dipersiapkan oleh PKK Desa Plembutan. Mereka memasak sesuai dengan jumlah dan anggaran yang telah disepakati bersama. Setiap hari PKK menyediakan konsumsi untuk 700 orang, dari snack pagi, makan siang sampai snack sore. Apabila jumlah peserta berlebih, konsumsi untuk sebagian peserta, panitia dan relawan dicarikan sendiri oleh panitia dengan membeli makanan di warung-warung terdekat, sementara makanan yang dari PKK diutamakan untuk peserta. Tujuan penggunaan PKK sebagai service provider konsumsi adalah untuk pemberdayaan perempuan di Desa Plembutan.

Warga penyedia homestay “dadakan” juga mempunyai peran yang sangat besar bagi peserta utama Temu Inklusi. Untuk mempersiapkan hal ini, jauh-jauh hari sebelum acara berlangsung diadakan rapat koordinasi dengan Pemerintah Desa dan tokoh-tokoh masyarakat untuk mempersiapkan rumah tempat menginap yang akan bagi peserta utama Temu Inklusi. Di Desa Plembutan terdapat 100 rumah yang dipersiapkan menjadi homestay. Rumah-rumah tersebut menyediakan konsumsi dan air bersih. Konsumsi yang disiapkan oleh homestay adalah makan pagi dan makan malam, kecuali hari pertama yang konsumsinya disiapkan oleh PKK Desa Plembutan di Balai Desa. Sementara itu, kasur, seprai dan bantal disewakan oleh panitia dan didistribusikan ke rumah-rumah. Sementara itu, anggaran untuk homestay, makan pagi, makan malam, dan sewa kasur berasal dari biaya registrasi peserta.

Seksi transportasi yang di-back-up sepenuhnya oleh warga dan Perangkat Desa Plembutan memegang peran penting dalam memobilisasi peserta dari homestay ke tempat acara dan sebaliknya. Mereka bekerja dengan gigih, membantu menaik-turunkan peserta dan kursi rodanya dari pagi hari hingga tengah malam. Halaman Balai Desa dan lapangan berasa seperti terminal dadakan, sementara jalanan desa yang biasanya sepi dibisingkan oleh deru mesin-mesin kendaraan pengangkut peserta Temu Inklusi 2018. Masyarakat desa pun memakluminya karena desa mereka memang sedang menggelar pesta yang paling meriah.

Transportasi di lokasi Temu Inklusi menggunakan mobil-mobil kontribusi dari Tagana Dinas Sosial dan Pemkab Gunungkidul, sewa angkudes (7-8 unit per hari), dan sewa kereta kelinci/odong-odong (2 unit per hari). Bus sumbangan Pemkab Gunungkidul digunakan untuk menjemput peserta yang baru datang dan transit di SIGAB di hari pertama tanggal 22 Oktober 2018. Sementara itu, mobil Tagana, angkudes dan kereta kelinci digunakan untuk mendistribusikan peserta ke homestay masing-masing setelah melakukan registrasi di Balai Desa Plembutan. Sehabis Isya, mobil-mobil dan kereta-kereta kelinci tersebut menjemput peserta dari homestay masing-masing ke balai desa untuk mengikuti dinner dan ramah-tamah. Usai acara, mobil-mobil dan kereta-kereta kelinci tersebut mengantarkan kembali peserta ke homestay masing-masing untuk istirahat.

Hal yang sama terjadi pada Selasa tanggal 23 Oktober 2018. Pagi harinya kendaraan ini menjemput peserta dari homestay dan mengantarkannya ke tenda utama di lapangan, sedangkan pada sore harinya mengantarkan mereka kembali ke homestay masing-masing. Malam harinya, sehabis Isya, armada ini kembali menjemput peserta dari homestay dan mengantarkannya ke lapangan untuk mengikuti pentas budaya nusantara dan ke balai desa untuk mengikuti malam refleksi Temu Inklusi. Usai acara, peserta pun diantarkan pulang ke homestay masing-masing untuk beristirahat.

Beda halnya dengan kegiatan hari Rabu, 24 Oktober. Di pagi hari diadakan lokakarya tematik yang lokasinya tersebar di lapangan, balai desa, dan 10 balai dusun, armada menjemput peserta di homestay dan mengantarkannya ke tempat-tempat lokakarya sesuai dengan pilihan tema masing-masing. Kegiatan antar-jemput pun cukup ramai nan rumit karena orang-orang di satu homestay mungkin tertarik pada tema di tempat yang berbeda pula. Usai lokakarya di siang hari, armada tersebut menjemput peserta dari balai-balai dusun dan membawanya ke lapangan. Peserta kemudian mengikuti Seminar SDGs hingga sore harinya diantarkan kembali ke homestay masing-masing. Setelah makan malam, peserta kembali dijemput dan diantarkan ke lapangan untuk menonton pentas budaya nusantara. Mereka diantar kembali ke homestay tengah malam.

Di hari terakhir peserta dijemput pagi-pagi untuk mengikuti senam inklusif di lapangan. Usai senam, peserta yang hendak pulang dan perlu mengambil barang-barang pribadinya diantarkan ke homestay. Mereka dibawa kembali ke tenda utama untuk mengikuti Penutupan Temu Inklusi. Usai penutupan, peserta yang akan ke bandara/stasiun sore/malam atau keesokan harinya diantarkan ke SIGAB dengan bus sewaan. Sebagian lagi mengorganisir kepulangannya sendiri. Dalam hal ini panitia sudah bekerja sama dengan GRAB untuk memastikan ketersediaan taxi/ojek online dan memberikan kode promo spesial.

Publikasi, Komunikasi dan Media Coverage

Tim inti komunikasi dan publikasi Temu Inklusi adalah tim media SIGAB. Namun, berkaca dengan overload yang terjadi pada penyelenggaraan sebelumnya, tim ini juga diperkuat oleh Communicaption atas dukungan The Asia Foundation Program Peduli ditambah dengan Harum Sekartaji dari AIPJ2. Dalam mendesain beberapa banner pun tim juga dibantu oleh seorang relawan dari paralegal.

Tim media membuat strategi komunikasi, publikasi dan dokumentasi yang antara lain untuk publikasi dengan membuat press release, mengadakan press briefing, membuat poster, posting di media sosial dan lain-lain. Di acara Temu Inklusi, pasca pembukaan, diadakan konferensi pers yang dihadiri oleh puluhan wartawan. Adapun untuk dokumentasi dibuat video dokumenter. Saat ini SIGAB juga dalam proses menulis buku Temu Inklusi 2018.

Strategi jitu lainnya dari tim media adalah pelaksanaan Training Jurnalistik Lanjutan untuk kontributor Solider yang waktunya beriringan dengan Temu Inklusi, yaitu tanggal 20-22 Oktober 2018. Pasca pelatihan, peserta diterjunkan untuk meliput Temu Inklusi sebagai praktik lapangannya.  Ini membawa beberapa manfaat sekaligus, yakni (1) membawa peserta pada event nyata sebagai media praktik liputan, (2) membekali kontributor dengan topik-topik strategis yang ada di Temu Inklusi, (3) memperbanyak liputan Temu Inklusi, dan (4) membuat Temu Inklusi semakin meriah. Setiap kontributor ditugasi membuat 3 stright news, 1 feature dan 1 tulisan mendalam sehingga pemberitaan Temu Inklusi menjadi semakin variative.

Beberapa strategi di atas membuat berlipatgandanya pemberitaan Temu Inklusi 2018 dibandingkan dengan penyelenggaraan sebelumnya. Berikut ini adalah puluhan link pemberitaan Temu Inklusi yang dikumpulkan berdasarkan angle dan topik tertentu:

General theme:

Blog

 

Partisipasi Difabel dalam Pemilu

 

Cerita Barista Eko

 

Dukungan KY

 

Temu Inklusi 2020 Bulukumba

 

Solider

 

Dokumentasi Produksi Sigab

Beberapa Catatan

Temu Inklusi 2018 ini terbilang sukses dilaksanakan. Meskipun demikian, acara ini menyisakan beberapa catatan penting, baik berupa apresiasi maupun kritik dan saran. Harapannya, dari catatan-catatan tersebut akan menghasilkan pembelajaran yang bermanfat untuk penyelenggaraan Temu Inklusi berikutnya. Beberapa catatan itu antara lain sebagai berikut.

Temu Inklusi kali ini dilaksanakan di desa dan kabupaten yang bukan merupakan dampingan SIGAB. Namun demikian, berkat pendekatan yang bersahabat dan ajakan mengusung bersama kepada Pemerintah Desa Plembutan, Camat dan Muspika Playen, serta Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, jajaran pemerintah lokal tersebut tidak hanya mengizinkan jalannya Temu Inklusi 2018 di wilayahnya, melainkan juga turut mengusung dan menyelenggarakannya bersama-sama. Ini merupakan praktik kolaborasi yang harus terus dikembangkan.

Persiapan Temu Inklusi 2018 terlalu mepet (mulai digagas sekitar bulan Maret 2018) sehingga dukungan finansial pemerintah dari pusat hingga daerah hampir tidak ada karena tidak masuk dalam APBN maupun APBD. Ke depan, persiapan Temu Inklusi harus dilakukan dua hingga satu tahun sebelumnya sehingga partisipasi Pemerintah dapat semakin besar. Temu Inklusi adalah event bersama antara masyarakat sipil dan Pemerintah sehingga sebaiknya anggarannya pun ditanggung bersama dengan tetap memegang prinsip efisien, transparan, akuntabel dan bebas korupsi.

Kehadiran Kementerian, Lembaga dan Pemerintah Daerah masih sangat kurang. Ke depan koordinasi dengan Kemenko, Bappenas dan Kemendagri perlu ditingkatkan untuk sounding Temu Inklusi ke Kementerian/Lembaga dan Pemda serta untuk mengundang mereka agar mengirimkan delegasinya ke Temu Inklusi.

Perlu dibentuk suatu Academic Board atau dengan nama lain yang bertugas merumuskan topik-topik diskusi dan seminar serta menyusun tool dan indikator untuk assessment sejauh mana pencapaian pewujudan Indonesia inklusif. Penilaian setidaknya dilakukan minimal dua tahun sekali dan hasilnya dipaparkan di Temu Inklusi sebagai bahan kajian. Academic Board tersebut sebaiknya melibatkan berbagai organisasi dari komponen organisasi difabel hingga organisasi masyarakat sipil.

Rekomendasi Temu Inklusi 2018 dibacakan oleh perwakilan pengampu lokakarya-lokakarya tematik yang kebanyakan bukan difabel. Akan berkesan lebih kuat apabila pembaca Rekomendasi Temu Inklusi berikutnya adalah perwakilan-perwakilan difabel.[]

The subscriber's email address.