Lompat ke isi utama
Itha dalam kesehariannya

Kadek Radita Puspa Dewi, Terbitkan Buku dan Hobi Desain Pakaian

 Solider.id, Denpasar - Kadek Radita Puspa Dewi adalah gadis kelahiran Denpasar, 13 September, 27 tahun lalu. Itha, begitu ia biasa disapa, merupakan bungsu dari dua bersaudara pasangan Nyoman Widya (68 tahun) dan Putu Sukareni (55 tahun). Perempuan ini punya segudang prestasi, ia pernah menerbitkan buku dari hobinya menulis dan bercerita. Tak hanya itu, ia juga hobi mendesain pakaian agar bermanfaat untuk orang lain.

 “Awalnya karena punya facebook. Itha orangnya dikit-dikit suka bercerita. Jadi status fb ya isinya cerita harian saja. Dari yang semula nulis di buku diary jadi pindah ke fb. Saking sukanya nulis sampai pernah gak bisa lanjut ngetik karena karakter hurufnya kurang.” Sambil tertawa Itha menjelaskan, ia suka menulis dari hp jadulnya Nokia E63 hingga sekarang.

Mengisahkan bagaimana ia mengawali hari-harinya saat terjun di dunia kepenulisan, Itha telah berhasil menoreh namanya lewat sebuah buku single yang ia impikan. Berkat jerih yang ia lakukan, sebuah buku dengan judul “Erlina-Erina” terbitan Guepedia, beredar secara online dan di toko buku sudah dipasarkan sejak September 2019.

Mengaku senang menulis status fb yang terlalu panjang, Itha malah akhirnya menemukan dunia yang selama ini tak pernah dia pikirkan.

“Ceritanya Itha nulis status di fb lalu ada yang komentar, statusnya panjang bener kaya ngeblog. Tapi waktu itu Itha tidak tahu ngeblog itu apa? Setelah mencari tahu lewat internet, Itha akhirnya bisa buat blog sendiri dan malah jatuh hati. Ini jadi awal mula Itha menulis di blog hingga kini.” Tekun menulis di blog membuat Itha nyaman berbagi apa yang ia rasakan sehari-hari. Hingga timbul niat hati untuk bisa membukukan tulisan yang selama ini hanya ia baca sendiri dari catatan fb.

“Ternyata tidak mudah ya menerbitkan buku?” Tanya Itha pada diri sendiri.

“Terbit indie itu berbayar. Itupun tidak masuk di toko buku, yang berakibat sulitnya pemasaran. Kalau ke penerbit mayor tentu butuh perjuangan yang luar biasa.” Itha seolah tak punya harapan. Maklum, selain masih penulis pemula yang belum tahu banyak hal, Itha menulis semua naskah dari Hp jadulnya.

Hanya berkat ketekunannya, dunia maya justru memberi Itha buah-buah keberhasilan. Melalui fb dan media sosial yang ia gunakan Itha banyak mendapat informasi penting hingga makin aktif terlibat dalam berbagai ajang lomba kepenulisan. Buku antologi bersama milik Itha yang sudah terbit ada sejumlah 22 buku, diantaranya berjudul Curhatku Untuk Semesta diterbitkan DivaPress, Trilogi Keajaiban Dunia Bagiku, dan Karya Pelangi yang semuanya terbit tahun 2013 lalu. Ada pula terbitan Elexmedia tahun 2014 lalu dengan buku berjudul Mutiara-Mutiara Istimewa. Buku lain yang sudah terbit antara lain Dwilogi Keajaiban Doa, Ibu Dalam Memoriku #2, Dasyatnya Kekuatan Doa, Langit Bertabur Makna, Hari Pertama di Sekolah, Pelangi Dalam Hidupku, Tuhan Tak Melupakan Kita, Surat Untuk Penghuni Surga, Kisah Putih Abu-Abu, dan Jiwa Yang Dirindukan.

Telah melahirkan buku tunggal bukan berarti Itha tak pernah menemukan kendala. Tiga bulan naskah Erlina-Erina sempat hanya mondok di catatan hpnya.

“Ini tantangan buat saya.” Kata Itha tentang naskah bukunya. Mengaku suka blank kalau nulis di komputer, Itha mengatakan kalau naskah Erlina-Erina juga hanya ditulis di hp jadulnya.

“Saya ikutkan lomba tidak lolos. Edit ulang, kirim ke penerbit, tidak lolos juga. Edit lagi kirim lagi ke penerbit indie, masih juga gak lolos. Ya sudah disimpan saja. Sampai akhirnya nemu penerbit Guepedia yang gratis terbit tapi dengan seleksi ketat juga. Dari iseng kirim, eh, terbit juga akhirnya.” Tawa bahagia lepas begitu saja. Selain ramah dan suka bercanda, Itha lebih sering mengemas keseharian hidupnya dalam nuansa keceriaan.

Paling suka mendapat pengalaman dan bertemu dengan orang-orang baru, Itha bercerita untuk menuangkan semua ide yang berlalu. Bisa lewat hp, rekaman, bahkan dalam catatan khusus di buku.

Dijumpai di rumahnya Jalan Gatotkaca I/2, Denpasar, dengan wajah polos kekanakan, postur tubuh dan wajah yang lebih mirip anak usia belasan, orang tak kan mengira bahwa Itha punya beragam keterampilan membanggakan. Tak hanya berkutat dengan buku dan dunia kepenulisan, Itha ternyata juga rajin membuat keterampilan tangan. Sesekali mengajarkan teman-teman di komunitas cara mengolah daur ulang koran, Itha juga pandai membuat desain pakaian dan melukis versi digital.

“Sekedar kangen waktu belajar di SMK. Tapi karena belum mendalam belajarnya akibat putus sekolah, jadi belajar sendiri lewat internet. Kalau untuk desain pakaian dan gambar baju, sudah Itha lakukan sejak SD. Karena sudah menguasai gambar digital, maka Itha re-draw gambar-gambar baju jaman dulu yang masih bisa diselamatkan.” Hasil nonton fashion show di televisi membuat Itha terpesona dengan pakaian yang dikenakan modelnya. Maka mulailah Itha dengan boneka Barbienya membuat percobaan. Berbahan kertas layangan dan kertas kado yang dengan mudah ia temukan, Itha menuang ekspresi dari ide yang ia ciptakan. Bukan tanpa alasan. Sulit menemukan baju yang pas di badan membuat Itha harus berpikir ulang. Bagaimana dan seperti apa baju yang nyaman dikenakan. Dan Itha lalu mengkreasi sendiri baju-baju yang ia inginkan.

“Masalahnya kalau beli baju susah.  Itha kan skoliosis, jadi gak bisa sembarang pakai baju. Hehe. Pakai baju anak-anak press body. Beli baju dewasa, kebesaran. Kan Ibu tidak mau Itha beli baju seperti pakai baju hibah padahal baju baru.” Masih dengan tawa lepas yang lugu, Itha setia membuat desain baju untuk mengisi waktu.

“Alasannya pas baju-baju Itha mulai robek, kainnya koyak, kena noda gak bisa ilang. wah, bisa jadi stress karena hal itu! Waktu itu belajar otodidak, dan masih manual karena belum ada internet.” Kata Itha menggebu disusul tawanya yang lucu.

Maka bermodal mesin jahit sang Ibu, Itha mulai menjahit baju.

“Awalnya nda bisa bikin pola baju, cari di google. Belajar cara ngitungnya, gak ngerti-ngerti juga.” Kata Itha masih tertawa mengenang cara belajarnya waktu itu.

“Trus ada pinterest, banyak tutorial jahitnya. Mudah banget. Pakai metode fashion hack. Kita beli baju-baju murah yang sesuai badan kita, dijiplak, dipotong. Dari situlah Itha belajar bikin baju yang Itha mau. Kemudian baru Itha tahu bahwa ternyata itu yang disebut dengan pecah pola.” Dengan kondisi fisik yang mudah mengalami sesak nafas dan kecapekan, Itha butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan satu pasang baju yang siap dikenakan.

“Satu baju atasan Itha butuh waktu sekitar satu minggu. Diambil per dua sampai tiga jam tiap harinya. Jadi misal sekarang jiplak pola, besoknya Itha potong kain. Besok lagi menjahit. Ya nyicil-nyicil gitu.” Dengan wajah riang, Marfan Syndrom justru makin membuat Itha semangat menyelesaikan jahitan.

“Soalnya sayang banget kalau ilmu yang sudah susah payah didapat tidak terpakai.” Ujar penggemar tulisan Angga Wijaya dan Cok Sawitri tentang ilmu yang ia dapatkan.

Menjalani hari-hari dengan membantu komunitasnya berkegiatan, Itha selalu berbagi ilmu pada teman-teman organisasi yang membuatnya merasa nyaman. Saat ini Itha aktif menjadi bagian dari Rumah Berdaya, Komunitas Kreabilitas dan Bisabilitas.

”Saya menjalani hari-hari saya dengan berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir saya. Dengan begitu saya akan berkarya tanpa beban, tanpa harus berpikir akan menjadi apa dan seperti apa. Lakukan semua dengan senang hati. Tulang belakang kita boleh bengkok, tapi semangat kita jangan!” Ingin berbagi kebaikan, Itha seperti menyampaikan pesan.

“Bapak sering mengajari saya untuk selalu tegar, sementara Ibu membekali saya dengan sifat sabar. Dengan begitu saya bisa memastikan semua baik-baik saja karena saya sadar hidup harus terus berjalan, jadi mau tidak mau ya harus bergerak. Nikmati alur yang ditentukan sambil berusaha dan berjuang semampu kita. Yakin, Tuhan akan memberi jalan.” Aku Itha yang saat sumpek dan merasa putus asa lebih suka bersenandung dalam kidung suci yang mengisahkan kedekatan hubungan manusia dengan Tuhan, seperti Gayatri Mantram dan Shiva Puja.

“Karena tidak selamanya masa sulit bisa saya lalui dengan ikhlas, jadi saya memilih untuk bernyanyi menyenangkan hati Tuhan, ketimbang merutuk atau memohon bermacam-macam?” Itha berujar dengan senyum kebijakan.

Pernah menjadi korban diskriminasi hingga tak bisa melanjutkan sekolah, maka tahun 2013 Itha memutuskan untuk lanjut belajar di PKBM Tunas Bangsa dan berhasil lulus April 2014. Terus berkarya menuang uneg-uneg dan kegalauan yang ia rasakan, Itha juga setia menjadi nara sumber di Balebengong.id, saat ada kegiatan kepenulisan. (Balebengong.id adalah sebuah portal media jurnalisme warga Bali.)

“Sekarang Itha hanya pengen tiap tahun bisa menerbikan dua buku/novel. Gak peduli indie atau mayor. Semakin banyak karya, semakin banyak pula orang akan mengenal Itha. Jadi ada yang bisa Itha banggakan. Suatu saat Itha juga pengen ada yang nawari kerjasama. Membantu Itha untuk mewujud genapkan desain-desain Itha ada di panggung fashion dengan para model yang memakai desain karya Itha.” Menunggu satu keajaiban bisa terulang, melangitkan doa Itha memohon dengan penuh keyakinan.

 

Reporter: Yanti

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.