Lompat ke isi utama
MPR RI, memasyarakatkan empat pilar dihadiri oleh difabel.

Muhammad Farhan: Difabel Adalah Bentuk Kebhinekaan

Solider.id, Bandung – Bertempat di Aula Mall kawasan Jalan Dr. Djunjunan Bandung beberapa waktu yang lalu dalam sebuah acara pemberian materi  empat pilar , Muhammad Farhan, perwakilan anggota dewan Komisi 1 DPR RI sekaligus anggota MPR RI 2019-2024 menyampaikan bahwa warga difabel di Indonesia merupakan bagian dari keberagaman secara individual dan masyarakat sosial. Posisi warga difabel menjadi salah satu ragam masyarakat dari wujud Bhineka Tunggal Ika, yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu.  

‘Saya diamanatkan untuk menyampaikan ucapan Pak Jokowi kepada para difabel di tanah air. Pesan yang beliau sampaikan pada Hari Disabilitas Internasional 2018 di Bekasi, yang mengatakan difabel merupakan salah satu bagian dari kebhinekaan,” tutur Farhan,  .

Lebih jauh Farhan mengungkapkan, bentuk kebhinekaan bukan semata dilandasi oleh perihal keragaman suku, bahasa, agama, warna kulit atau pun budaya yang dimiliki oleh sebuah lingkungan masyarakat. Keberadaan individu difabel di dalam sebuah lingkungan sosial, juga merupakan kebhinekaan yang memiliki hak serta kewajiban setara sebagai bentuk penghormatan terhadap hak asasinya.

Pemaparan tersebut disampaikan langsung dihadapan seluruh undangan yang dihadiri oleh lintas agama, lintas profesi, lintas generasi, perwakilan masyarakat difabel dan jajaran instansi serta pemerintahan setempat. Kondisi ini dapat menjadi ajang sosialisasi keberadaan dan pengakuan masyarakat difabel oleh negara, dalam bentuk peryataan secara lisan yang dapat digaungkan, diluar keberadaan perundangan yang mengatur hak masyarakat difabel.

Sementara itu, Yudi Yusfar, mewakili difabel Netra mempertanyakan posisi difabel saat masa pemilihan umum berlangsung. Menurut sudut pandangnya, saat kondisi politik semua lintas masyarakat termasuk difabel yang terjun dalam proses kampanye pencalonan diri seolah menjadi terpecah, bahkan saling menjatuhkan atau memamerkan kekurangan lawan dari segi apapun.

“Saat kampanye pemilu rasa kebhinekaan sepertinya terlupakan,” kata Yudi.

Bercermin dari pemilihan umum serentak nasional terbesar di dunia, yang baru terjadi di Indonesia pada 14 April 2019 dengan memilih langsung Presiden-Wakil Presiden, anggota DPR RI, DPD RI, DPRD tingkat provinsi dan kota/kabupaten, beberapa warga difabel unjuk gigi mencalonkan diri menjadi anggota dewan dari level pusat hingga daerah. Hasil rata-rata perolahan suara mereka belum memenuhi syarat kuota untuk duduk menjadi anggota dewan.

Menilai situasi saat politik berlangsung dalam pemilihan umum, Farhan menganggapi kondisi tersebut juga merupakan bagian dari kebhinekaan, meski sengit dengan persaingan. Setiap masyarakat yang mencalonkan dirinya untuk terjun menjadi bakal calon legislatif di level manapun, mesti siap untuk kalah atau menang terlepas sebagai resiko lolos tidaknya.

 

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.