Lompat ke isi utama
WCAG

Difabel, Kemajuan Teknologi, dan Hambatan Mengakses Informasi

Solider.id, Yogyakarta - Angka pengguna internet di Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Menurut survey yang dilakukan Asosiasi Penyedia Jaringan Internet Indonesia (APJI), penduduk Indonesia yang telah terhubung dengan internet mencapai angka 171 juta di tahun 2019. Itu artinya 64% penduduk Indonesia adalah pengguna internet.

Menurut Nadia Wasta Utami, kamajuan teknologi bukan hanya menghadirkan dampak positif, tetapi juga memberikan pengaruh negatif berupa kesenjangan informasi (Utami 2015). Sebagian kelompok akan mendapatkan akses informasi yang melimpah, di sisi lain ada kelompok yang tidak mendapatkan akses yang setara. Salah satu kelompok yang tidak memperoleh distribusi informasi yang setara tersebut adalah kelompok difabel.

M. Syafi’ie dalam tulisannya yang dipublikasikan di jurnal Inklusi pada tahun 2014 juga mengatakan bahwa salah satu hambatan kelompok difabel adalah hambatan non fisik, dimana hambatan mengakses informasi termasuk di dalamnya (Syafi’ie 2014). Didi tarsidi (2011) menyatakan bahwa selain hambatan fisik dan mobilitas, hambatan informasi dan komunikasi juga dialami oleh difabel (Tarsidi 2011). Penyebabnya tentu saja karena tidak tersedianya akses informasi yang memadai bagi difabel (Syafi’ie 2014).

Andi Zulfajrin, mahasiswa difabel netra Universitas Brawijaya mengkonfirmasi berbagai pernyataan di atas. Menurutnya, difabel netra memiliki beberapa hambatan di era digital seperti sekarang. Fajrin menuturkan setidaknya ada tiga hambatan yang kerap dijumpainya ketika mengakses sosial media dan interet.

Pertama, Fajrin mengalami kesulitan ketika mengakses sosial media Instagram. Hal itu karena ia tidak cukup terbantu dengan keterangan gambar-gambar yang ada di Instagram. Alhasil ia harus meminta bantuan rekannya saat berselancar di Instagram.

Kedua, hambatan lain yang kerap ia alami adalah kesulitan mengidentifikasi gambar ketika melakukan penelusuran di internet. Aplikasi pembaca layer yang ia gunakan—belum mendukung akses pada foto atau gambar.

Ketiga, terkadang pembaruan browser tidak singkron dengan aplikasi pembaca layar yang ia gunakan. Hasilnya, aplikasi pembaca layar di situasi tertentu akan tersendat ketika digunakan.

Raka Nur Mujahid, seorang Tuli mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, menuturkan selain difabel netra, Tuli juga mengalami hambatan saat mengakses internet dan sosial media. Hambatan utama seorang Tuli adalah tidak dilengkapinya berbagai video yang bersuara dengan teks diskripsi atau penerjemah Bahasa isyarat. Menurut Raka, hanya sebagian video saja yang telah dilengkapi dengan teks diskripsi.

Solusi Agar Informasi menjadi inklusif

Mahali, staf Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya, menuturkan hambatan lain yang tidak jarang dialami oleh difabel. Misalnya saja, adanya kode capcha yang berfungsi sebagai kode keamanan. Kode ini terkadang sulit digunakan oleh pengguna aplikasi pembaca layar seperti difabel netra. Menurutnya, jika memang sebuah web akan di rancang untuk dikunjungi para difabel netra, sebaiknya tidak usah menggunakan capcha. Kesulitan lain yang dihadapi difabel adalah ketidak adaan fitur pembesar ukuran huruf dan kontras warna yang tinggi bagi pengunjung web yang memiliki low vision.

Mahali menjelaskan ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menciptakan sosial media dan internet yang aksesibel bagi difabel. Misalnya saja, agar kasus yang dialami Fajrin tidak terjadi, orang-orang yang mengunggah foto di facebook atau pun Instagram dapat menambahkan alternatif teks agar foto yang diunggah dapat dipahami oleh  difabel netra. Facebook dan Instagram telah menyediakan fitur alternatif teks yang tersedia saat mengunggah foto, namun banyak orang yang belum mengetahuinya.

Sementara untuk mengatasi hambatan kawan Tuli untuk mengakses video, para pembuat video dapat menambahkan caption di dalam videonya. Caption atau keterangan yang dapat ditambahkan ada dua macam yaitu “close caption” dan “open caption”. Cara lain yang dapat dilakukan, yakni jika pembuat video mengunggah videonya di Youtube, pembuat video dapat membuka kesempatan para penontonnya untuk menambahkan caption di video yang diunggahnya. Dengan demikian siapa pun dapat berkontribusi dalam membantu pembuat video untuk menciptakan video yang ramah bagi teman Tuli.

Sesungguhnya apa yang di sampaikan oleh Mahali, dapat dijumpai di Web Content Accessibility Guideline (WCAG). WCAG berisi mengenai standar Teknik yang memastikan sebuah web dapat diakses oleh siapa pun, termasuk kelompok difabel dengan berbagai ragam. Standar Teknik WCAG yang terbaru telah dikeluarkan pada tahun 2018. Para pengembang web, penulis kode, dan orang-orang yang ingin mengaudit aksesibilitas sebuah web dapat melihat ketentuan-ketentuan teknis yang ada di WCAG. WCAG cukup mudah ditemukan. Cukup mengetik kata kunci “Web Content Accessibility Guideline” WCAG akan dapat langsung ditemukan.

 

Penulis: Tio Tegar

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.