Lompat ke isi utama
Lampiran Peraturan BKN Nomor 50 Tahun 2019

Prosedur Penyelenggaraan Seleksi Metode Computer Assisted Tes BKN Kurang Maksimal Bagi Difabel Netra

Solider.id, Bandung – Tes untuk Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) periode 2019 telah dibuka. Bagi mereka yang terpilih dalam tahap seleksi CPNS tersebut, akan mengikuti tes Seleksi Kompetisi Dasar atau SKD yang digelar pada 27 Januari hingga 28 Febuari 2020 mendatang. Sesuai dengan aturan terbaru yang dikeluarkan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN), tes CPNS tahun ini dilakukan dengan sistem Computer Assited Tes - CAT

Bima Haria Wibisana sebagai Kepala BKN pusat telah menetapkan aturan ini sejak 31 Desember 2019 lalu, melalui Peraturan Badan Kepegawaian Negara Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2019 Tentang Prosedur Penyelenggaraan Seleksi Dengan Metode Computer Assisted Tes Badan Kepegawaian Negara.

Dalam aturan barunya, BKN memberlakukan sistem CAT ini untuk pelaksanaan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), seleksi calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja, seleksi masuk Sekolah Kedinasan (Sekdin), seleksi pengembangan karir, dan seleksi selain Aparatur Sipil Negara (ASN), dengan mengatur rincian tahapan seleksi dari mulai persiapan, pelaksanaan, sampai dengan pelaporan.

Kendala yang masih ditemukan di lapangan, penerapan sistem seleksi dengan metode Computer Assisted Tes ini, masih menyulitkan para peserta CPNS dari kalangan masyarakat difabel Netra.

Padahal, tertuang dengan jelas pada poin ketentuan lain-lain dalam Peraturan Badan Kepegawaian Negara Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2019 Tentang Prosedur Penyelenggaraan Seleksi Dengan Metode Computer Assisted Tes Badan Kepegawaian Negara, menuliskan terkait kemungkinan adanya peserta dari kalangan masyarakat difabel.

            V. Ketentuan Lain-Lain

  1. Apabila terdapat peserta seleksi yang merupakan Penyandang Disabilitas, Panitia Seleksi Instansi harus memberikan informasi kepada Pusat Pengembangan Sistem Rekrutmen ASN BKN tentang jumlah peserta yang merupakan Penyandang Disabilitas, nama, jabatan, dan lokasi pelaksanaan seleksi;
  2. Pusat Pengembangan Sistem Rekrutmen ASN BKN melakukan pendataan dan menyampaikan informasi kepada unit kerja terkait, kantor regional atau instansi tempat penyelenggaraan seleksi untuk menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan sehingga peserta yang merupakan Penyandang Disabilitas tersebut dapat mengikuti seleksi yang dimaksud;
  3. Apabila ruang seleksi sulit diakses oleh peserta yang merupakan Penyandang  Disabilitas, panitia seleksi wajib menyiapkan ruang seleksi tersendiri yang nyaman, memiliki headset serta komputer dan jaringan yang terkoneksi dengan server seleksi;
  4. Panitia seleksi wajib menyampaikan hasil seleksi kepada peserta seleksi yang merupakan Penyandang Disabilitas terkait dengan hasil seleksi.

VI. Penutup

  1. Apabila dalam pelaksanaan Peraturan Badan ini dijumpai kesulitan, agar dikonsultasikan kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara atau pejabat lain yang ditunjuk untuk mendapatkan penjelasan.
  2. Demikian Peraturan Badan ini dibuat untuk dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.

 

Pendapat difabel Netra tentang seleksi CPNS dengan metode CAT

R. Riyan Septian Nizi, difabel Netra lulusan Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung yang telah mengikuti tes CPNS dengan aturan yang baru ditetapkan oleh BKN ini, mengakui adanya hambatan dalam hal teknis selama tes berlangsung.

Menurutnya, cara menggunakan metode Computer Assisted Tes (CAT) kurang disosialisasikan dengan maksimal kepada para calon peserta difabel Netra. Simulasi baru dilakukan bertepatan dengan berlangsungnya tes, sehingga informasi yang didapatkan belum sepenuhnya dapat dipahami dengan baik.

“Komputer aplikasinya kurang akses, setiap tulisan tidak dibaca perkata melainkan datar menyeluruh dari awal hingga akhir tulisan, dan itu sangat lambat,” tutur Riyan.

Kondisi ini dirasakan Riyan sebagai salah satu efek berbenturan dengan durasi waktu mengerjakan soal yang diberikan oleh pihak panitia. Lambatnya pembacaan naskah soal dalam aplikasi yang digunakan memang dapat diulang bila terlewat, atau sedang memilikirkan jawabannya. Dan pengulangan soal tersebut, justru malah akan tambah memangkas waktu lebih banyak lagi.

“Kita tidak dapat mempercepat atau memperlambat tempo dari aplikasi yang digunakan, itu seperti diseting dalam sebuah rekaman suara,” tambahnya.

Riyan sangat menyayangkan, simulasi singkat yang diberikan pada saat tes berlangsung. Menurutnya, alangkah lebih baik sosialisasi terkait aplikasi yang digunakan dalam tes CPNS untuk difabel Netra tersebut dilakukan beberapa hari sebelum pelaksanaan tes. Selain agar dapat memahami lebih jauh, dengan diberikannya hari khusus untuk sosialisasi pihak panitia pun akan mampu memahami kendala dari sistem aplikasi yang akan digunakan saat tes.

Dari kendala yang dirasakannya, Riyan telah berusaha menyampaikan kepada pihak Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Badan Kepegawaian Negara (BKN), dan berharap adanya tes ulang untuk difabel Netra.

“Sudah ada pengaduan yang diajukan pada pihak BKN dan BKD terkait sosialisasi yang mestinya diberikan sebelum hari pelaksanaan tes. Namun, sementara jawaban yang diberikan masih lempar bola api dengan pihak instansi penyelenggara,” papar Riyan.

Riyan meminta adanya tes ulang untuk kategori difabel khususnya Netra, dengan merujuk soal-soal tes yang akan diulang diserahkan kepada pihak terkait. Artinya, apabila tes CPNS dapat diulang untuk para difabel Netra, soal yang akan diberikan boleh soal-soal yang sama dengan yang sebelumnya atau diubah dengan soal yang baru.

Dadan Mustofa, difabel Netra total blind yang juga mengikuti tes CPNS tahun ini memiliki kendala yang mirip tentang aplikasi yang digunakan dalam metode Computer Assisted Tes (CAT). Kesulitan yang dirasakannya adalah sistem aplikasi yang kurang nyaman dan kurang akses, dengan permasalahan yang dialami terkait manajemen waktu dalam mengerjakan setiap soal tes.

“Aplikasi yang kurang nyaman seperti ini besar pengaruhnya terhadap jam pengerjaan yang diberikan,” tegas Dadan.

Lambatnya narasi yang didengarkan selama pembacaan soal-soal tes, akan berimbas kepada poin atau nilai yang akan didapatkan sebagai hasil akhir dalam mengerjakan tes CPNS tersebut. Selain menginginkan adanya pengulangan tes, Dadan juga memberikan masukan kepada pihak penyelenggara maupun pihak pelaksana tes tentang metode yang baru diresmikan yaitu CAT.

“Peraturan baru atau sistem baru yang digunakan dalam tes CPNS sekarang, itu bukan menjadi masalah untuk kami selama sosialisasinya diberikan dengan maksimal,” kata Dadan.

Menurutnya, aplikasi CAT yang digunakan untuk difabel Netra memerlukan waktu sosialisasi dan simulasi minimalnya satu hingga dua hari agar dapat dipahami saat mengerjakan tes.

Hendra, difabel Netra dari Malabar Kosambi Bandung yang juga mengikuti tes CPNS awal tahun 2020 ini, merasakan kesulitan yang serupa dalam hal menggunakan aplikasi komputernya. Seleksi kompetisi dasar yang sudah dijalaninya cukup menyulitkan hingga merasa merugikan peserta  difabel Netra.

“Aplikasi yang digunakan dalam metode Computer Assisted Tes (CAT) ini memang baru di terapkan, permasalahannya adalah informasi tentang cara penggunaannya kurang dipahami. Kami hanya diberikan simulasi singkat beberapa saat pada waktu tes pelaksanaan soal-soal akan diberikan,” ucap Hendra.

Dari ketiga peserta difabel Netra yang mengikuti tes Seleksi Kompetisi Dasar (SKD) CPNS 2020, dengan adanya sistem baru yaitu CAT, mengalami kendala dan efek yang mirip. Mereka memaparkan kesulitan mengakses aplikasi yang disebabkan kurangnya informasi, sosialisasi dan simulasi yang diberikan secara singkat saat tes berlangsung.

Mereka juga menjabarkan efek yang dirasakannya yaitu durasi waktu mengerjakan tes yang tidak maksimal atau banyak terpangkas, sehingga memungkinkan mempengaruhi nilai atau poin hasil akhir. Mereka juga meminta untuk diadakan tes ulang untuk para difabel khususnya Nerta.

Kembali Meninjau Peraturan BKN

Meninjau lagi Peraturan Badan Kepegawaian Negara Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2019 Tentang Prosedur Penyelenggaraan Seleksi Dengan Metode Computer Assisted Tes Badan Kepegawaian Negara. Pada bagian rincian pelaksanaan seleksi menuliskan;

B. Pelaksanaan Seleksi

Panitia Seleksi Instansi

Apabila dimungkinkan, video petunjuk teknis diputar di ruang tunggu peserta sebelum memasuki ruang ujian.

Pihak BKN dengan jelas menuliskan aturan yang berkaitan dengan sosialisasi, waktu dan media yang disarankan. Sosialisasi diberikan di ruang tunggu peserta, artinya sebelum para peserta memasuki ruang tes untuk menerjakan soal SKD. Sismulasi dalam media video dapat didengar oleh para peserta difabel Netra dengan penjabaran narasi yang jelas.

Petunjuk teknis dan simulasi yang diberikan di luar jam pengerjaan tes, diharapkan tidak memangkas waktu saat mengerjakan soal tes yang diberikan. Termasuk bila ada hal yang kurang jelas, para difabel Netra masih dapat mengkoordinasikannya dengan pihak penyelenggara sebelum tes dilakukan.

Metode Computer Assisted Tes (CAT) akan dapat berjalan lebih maksimal lagi dengan adanya sosialisasi dan simulasi untuk difabel Netra pada hari khusus sebelum tes dilaksanakan. Pertanyaan  difabel Netra adalah; jika untuk formasi umum ada simulasi dan bimbingan teknis mengenai tata cara pengerjaan tes SKD, mengapa untuk formasi disabilitas tidak ada?  

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.