Lompat ke isi utama
Ado berfoto di sesi pemanggilannya oleh rektor AMIKOM

Lulus Sarjana dengan Karya Video Pengenalan Budaya Jepang bagi Anak TK

Solider.id, Yogyakarta- Berbaris di antara para wisudawan, seorang pemuda dengan postur tubuh tegap, tinggi dan besar. Dia terlihat cukup mencolok. Selain karena postur tubuhnya, gerakan kaki, tangan dan kepala seolah menjadi magnet yang menarik perhatian orang di sekitarnya.

Bergerak ke kiri ke kanan meski tidak keluar dari barisan, dia juga sesekali menyeka keringat di wajahnya. Mulutnya bergerak menggumam seperti sedang bercerita, tidak peduli berpasang-pasang mata sedang memperhatikannya.

Dia adalah Leonardus Mauritz Sianturi, biasa dipanggil dengan nama Ado. Seorang pemuda dengan autism, berusia 22 tahun. Dia adalah salah satu dari ratusan mahasiswa lain yang tengah mengikuti prosesi wisuda.

Satu persatu nama-nama wisudawan dibacakan. Pembacaan dilakukan secara bergantian oleh dua orang petugas, seturut dengan program studi (Prodi) masing-masing. Beberapa saat sebelum nama dalam daftar yang dipegang satu petugas habis dibaca, petugas pengganti sudah siap di belakangnya dengan daftar nama wisudawan yang dibaca sesuai urutan.

“Leonardus Mauritz Sianturi, Sarjana Komputer, dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,1, Keahlian 3D Modeling,” panggil petugas pembaca daftar nama wisuda itu. Ado yang sedari berbaris menarik perhatian sekelilingnya, kini dengan langkahnya yang berat menuju panggung.

Ado berhenti tepat di depan M. Suyanto, Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta. Dia mendapat pengalungan selempang wisuda dan menerima ijazah. Dia mengangkat ijazah di atas kepalanya, sambil mengucapkan kalimat yang tidak begitu jelas terdengar.

Universitas AMIKOM Yogyakarta tengah melangsungkan wisuda terhadap 363 mahasiswa dari berbagai program studi (Prodi) di Alana Hotel, Sabtu pagi (1/2) pagi. Ado, ialah salah seorang wisudawan yang lulus dari Prodi Teknik Informatika.

Kesempatan memampukan

Setelah belajar selama tiga tahun, akhirnya Ado berhasil menyelesaikan studi sarjananya. Sebuah video pembelajaran bagi anak TK tentang budaya Jepang menjadi portofolio keberhasilannya. Keterbukaan kesempatan dari Universitas AMIKOM dioptimalkan Ado dengan dukungan keluarganya, terutama Dewi Aurelia, ibunya.

“Ado masuk AMIKOM pada September 2016, dinyatakan lulus pendadaran pada 25 September 2019. Genap tiga tahun Ado menyelesaikan pendidikan jenjang perguruan tinggi,” terang Dewi.

Sebuah prestasi yang pantas diapresiasi. Dengan dukungan berbagai pihak, Ado yang autism mampu menyelesaikan pendidikan. Bukan hanya sekedar menguasai teori ilmu 3D Modeling saja, melainkan juga mampu mengaplikasikan teori dalam praktek dan mewujudkannya melalui sebuah karya video edukasi.

Sebagai orang tua, Dewi mengaku melalui dengan suka cita selama mendampingi putra pertamanya itu. Selain dukungan dari para dosen, Ado juga memiliki kawan-kawan yang sangat membantu dan peduli. Namun ada dukanya juga, imbuh Dewi. Saat Ado tidak punya kelompok tugas, karena Ado tidak mengerti cara mencari atau bergabung dalam kelompok.

“Tadi saya dag dig dug saat-saat menunggu prosesi wisuda. Tapi sekarang sudah lega. Waktu penantian yang  rasanya panjang itu, berakhir dengan membanggakan dan membahagiakan. Terbayar sudah rasa dag dig dug, rasa was-was saya. Ternyata Ado mampu melalui setiap tahapan wisuda tanpa perlu pendampingan. Cukup saya awasi dari bangku orang tua,” ujar Dewi.

Pada kesempatan berbincang dengan Solider, Dewi menyampaikan bahwa saat ini putranya mengikuti kursus animasi di ESDA. Saat ini Ado sedang membuat video edukasi terkait budaya nusantara dari Sabang sampai Merauke. “Saat ini sedang mempersiapkan budaya masyarakat Aceh,” imbuhnya. Senin (3/2).[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi

The subscriber's email address.