Lompat ke isi utama
Bayu Irianto sedang berfoto bersama sepeda motor roda tiga

Bayu Irianto dan Bengkel Sepeda Motor Roda Tiga di Pati

Solider.id, Pati- Di beberapa daerah di Indonesia, bengkel modifikasi sepeda motor roda tiga bagi difabel daksa masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan penggunanya. Hal itulah yang mendasari Bayu Irianto memnuka usaha bengkel modifikasi dan layanan perbaikan motor roda tiga di kabupaten Pati.

Bagi sebagian besar difabel daksa, motor roda tiga menjadi kebutuhan dasar untuk beraktivitas. Motor roda tiga merupakan alat bantu mereka untuk kegiatan sehari-hari, seperti pergi ke suatu tempat atau berkegiatan dengan kelompok difabel.

Bayu Irianto (33), laki-laki difabel daksa yang lahir di desa Asempapan, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati ini memulai bengkelnya, ketika ia melihat teman-teman difabel di Pati kesulitan dalam bermobilitas untuk mengendarai sepeda motor. Saat itu, ia langsung memodifikasi salah satu motor roda dua menjadi motor roda tiga. Ia juga sering mendapati teman-teman difabel daksa yang harus memodifikasi atau memperbaiki sepeda motornya ke luar Pati.

“Itu kan jadi tambah biaya ongkosnya,” papar Bayu.

 

Keahlian Bayu memodifikasi, berawal dari hobinya mengotak-atik sepeda motor. Ia sering mendapat pesanan di bengkel lasnya sejak 2009. Mulai dari sepeda motor manual dan otomatis. Saat pertama kali memodifikasi, ia mengaku kesulitan. Selain karena pengalaman yang masih terbatas, juga persediaan alat menjadi kendala besar baginya.

Secara teknis, Bayu mengaku kesulitan ketika meluruskan dan menyeimbangkan roda kanan dan kiri, melakukan bubut pada bagian tertentu, “untuk itu saya belum punya alatnya,” imbuhnya.

Saat itu, Bayu mencoba mensiasatinya denagn sejulur benang dan membawanya ke orang yang mempuanyai alat untuk membubut. “Karena mesin bubut memang mahal,” terangnya.

Totalitas, kesungguhan dan kualitas Bayu dalam memodifikasi motor membuat para konsumennya merasa puas akan pengerjaan yang dihasilkan. Sampai saat ini, belum ada konsumen yang melayangkan complain dan keluhan dari hasil kerjanya,

Bayu membutuhkan waktu sekira dua minggu untuk memodifikasi sepeda motor menjadi sepeda motor roda tiga. Konsumen bisa memodifikasi atau melakukan perbaikan sepeda motor sesuai dengan keinginannya dengan kisaran harga yang masih bisa dijangkau. “Untuk sepeda motor otomatis berkisar 3.5 sampai 4.5 juta dan manual 2.5 juta,” jelasnya.

Biaya tersebut sudah termasuk dengan biaya antar-jemput sepeda motor sesuai dengan lokasi konsumen. Sedangkan waktu pengerjaan tergantung dari tingkat kesulitan dan onderdil yang dibutuhkan. “Karena untuk membeli onderdil motor-motor baru saya harus ke luar kota,” lanjutnya.

Bayu terbiasa menggunakan sosial media Facebook untuk mempromosikan usaha bengkel sepeda motor roda tiganya. Konsumen yang datang tidak hanya dari kabupaten Pati, namun ada juga yang konsumen dari Papua, NTT dan daerah luar kota.

Sampai saat ini, Bayu mengerjakkan usahanya seorang diri, Meski begitu, ia memiliki keinginan untuk membuat kelas belajar otomotif dan merekrut untuk teman-teman difabel agar bekerja di usaha bengkelnya.

"Sesekali saya mengajak difabel disini untuk membantu saya, yaitu memasang roda saja. Untuk merekrut teman-teman difabel selain dari faktor biaya untuk membayarnya, mereka juga belum ada ketertarikan dalam ilmu perbengkelan,” ucap Bayu.

Bayu berharap pemerintah Pati dapat memerhatikan difabel yang memiliki usaha ekonomi sepsertinya. Memahami keterbatasan modal dan meningkatkan kapasitas di setiap usaha difabel yang dapat meningkatkan ekonomi teman-teman difabel. “Minimal, pemerintah Pati itu memberikan akses modal untuk difabel yang sedang memulai usaha,” harapnya.[]

 

Reporter: Oby Ahmad

Editor: Robandi

The subscriber's email address.