Lompat ke isi utama
Produk difabel siap untuk di ekspor, penandatangan MoU

Dari Wacana Jadi Aksi Nyata, Azwardi Ujang Ekspor Alat Penghemat Daya Listrik

Solider.id, Bandung – Sulitnya mengakses dunia kerja untuk masyarakat difabel masih sangat dirasakan. Meski menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas pada Pasal 53 Ayat (1) dan (2) menegaskan, perusahaan atau instansi pemerintah 2% dari jumlah karyawannya diperuntukkan bagi masyarakat difabel sedang untuk perusahaan swasta 1% kuota untuk tenaga kerja difabel. Namun, di lapangan aturan tersebut masih belum terpenuhi secara maksimal.

Alternatif solusi yang sering dijalani oleh difabel untuk pemenuhan kebutuhan finansialnya adalah dengan berwirausaha. Baik secara mandiri ataupun melalui program kewirausahaan yang diusung oleh sebuah lembaga tertentu milik swasta atau pemerintah.

Dalam menggeluti dunia wirausaha, kondisi pasang surut sebagai produsen atau marketer sebuah produk mewarnai setiap pelaku industri. Pada keadaan seperti inilah, mental seorang wirausahawan akan diuji. Banyak yang pada akhirnya memilih untuk menutup usahanya, ada pula yang terus berjuang untuk bertahan hingga berkembang dan sukses menguasai pangsa pasar bahkan hingga mampu menembus skala ekspor. Tentu saja dengan ragam persaingan bidang usaha yang digeluti. 

Sering kali kita menyimpan tanya dalam benak, bagaimana kemampuan wirausahawan difabel dalam memperjuangkan tumbuh kembang pada bidang usahanya?

Merintis sebuah usaha membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang tinggi. Berawal dari wacana yang kemudian dilakoni menjadi satu aksi, wirausahawan difabel pun mampu menciptakan lapangan pekerjaan untuk lingkungan sekitarnya.

Pemikiran kritis terhadap kondisi masyarakat difabel yang masih sering mendapatkan diskriminasi dalam hak pemenuhan bidang kehidupan, wacana membuat jaringan yang lebih luas, membuat suatu opini untuk meyakinkan publik, menciptakan sesuatu yang memberi manfaat pada masyarakat luas, akhirnya dapat terwujud menjadi nyata dalam sebuah produk industri rumahan berlebel ‘Dmanin Century Saver’ yang memproduksi alat penghemat daya listrik.

Azwardi Ujang dari Tangerang Banten, menjadi salah satu bukti sosok difabel pengguna kursi roda yang berhasil membuat sebuah produk alat penghemat daya listrik bahkan mampu menembus pangsa pasar hingga tingkat ekspor.

Dalam mempertahankan usahanya, diakui Azwardi pemasaranlah yang menentukan kualitas produk yang dibuat. Banyak jenis produk serupa yang akhirnya tumbang tidak dapat bertahan lama di pasaran karena kualitasnya yang belum mampu memenuhi selera konsumen. Untuk membuat produk berupa alat penghemat daya listrik tersebut, Azwardi merangkai sendiri dengan komponen-komponen tertentu.

“Bagaimana cara meyakinkan konsumen menjadi hal terpenting setelah kita memiliki sebuah produk, misalnya dengan memberikan garansi dan jaminan,” Azwardi menuturkan, saat dihubungi via telepon.

Melalui banyak pameran di berbagai daerah, bazar, dan kegiatan lain yang berhubungan dengan sosialisasi produk UKM, Azwardi mulai mengenalkan hasil produksinya kepada masyarakat luas baik nasional maupun manca negara. Hal yang sangat dirasakannya, sejak memulai usaha sekitar tahun 2000 silam, kendala terbesar adalah seputar pemasaran produk. Pemikiran kritis lainnya adalah seputar kemandirian  difabel yang terkena dampak krisis ekonomi, justru membuat dirinya mampu mempekerjakan difabel melalui produk usahanya tersebut.

Pada tahun 2017 Azwardi menjadi satu-satunya wirausahawan difabel yang menerima Piagam Wirausaha Pemula (WP) Award di Surabaya dari Kementerian Koperasi dan UKM. Ajang tersebut merupakan penghargaan kepada para pelaku wirausaha pemula yang dianggap berhasil mengembangkan usahanya dengan permodalan Kemenkop.

Sekarang Azwardi memiliki sembilan karyawan, lima diantaranya difabel dan empat orang nondifabel. Perusahaan yang ia pimpin mampu mengekspor produk ke Nigeria, dengan penandatanganan kerjasama MoU antara Dmanin century Saver dengan Manly Derivaties Nigeria pada pertengah Oktober 2019 kemarin.

Dengan terbentuknya kerjasama tersebut, artinya untuk jangka waktu lima tahun kedepan, Azwardi akan tetap memproduksi alat penghemat daya listrik guna memenuhi permintaan pangsa pasar di Nigeria.

Bukan tanpa hambatan atau tantangan besar produk Azwardi akhirnya dilirik negara lain. Kualitas tetap menjadi hal utama dalam memenuhi kepuasan konsumen. produk yang dihasilkan pun mampu memberikan manfaat yang besar terhadap lingkungan penggunanya. Alat penghemat daya listrik yang diproduksi Azwardi ternyata dapat menghemat daya listrik hingga 50% dan menghemat pembayaran listrik hingga 30%. Selain itu, komitmen untuk memberikan kesempatan kerja pada masyarakat difabel di sekitarnya menjadi motivasi tersendiri untuk terus mengembangkan usaha tersebut.  

Dengan adanya kesempatan, kepercayaan dan pemberdayaan yang tepat, masyarakat difabel mampu menjadi pelaku usaha yang sukses hingga ke manca negara. Bukan lagi sebagai pencari lowongan kerja, akan tetapi, mampu untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru.  

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.