Lompat ke isi utama
sepeda motor yang berjalan diatas guidingblovk

Tantangan upaya inklusi di Pantai Kuta

Solider.id, Bali - Aksesibilitas infrastruktur publik nampaknya akan selalu menjadi problem klasik para difabel dimanapun berada. Sering kali kita mendengar keluh kesah atau setidaknya kegusaran teman-teman difabel kita tentang betapa masih lambatnya respon pemerintah dalam menciptakan sarana dan prasarana publik yang menunjang mobilitas  para difabel. Pemerintah di sisi lain nampaknya juga tak sepenuhnya bersikap masa bodoh dengan permasalahan-permasalahan tersebut. Sebagai pihak yang kurang lebih bertanggung jawab dalam kasus ini, pemerintah pun sepertinya mendengar tuntutan difabel dan barangkali bertekad untuk secepat mungkin membangun fasilitas yang inklusif bagi difabel di lapangan. Cuma, solusi permasalahannya tidaklah segampang yang kita pikirkan. Karena seberapa pun cepatnya problem tersebut pada akhirnya masuk ke telinga pemerintah, infrastruktur inklusif yang para difabel inginkan tidak akan mungkin tercipta hanya dalam hitungan beberapa hari, minggu, bulan ataupun tahun, terlebih ketika infrastruktur itu bersifat cukup konstruksial seperti instalasi guiding block bagi difdabel netra atau bidang miring bagi pengguna kursi roda. Tak hanya itu, walaupun telah dibangun infrastruktur yang memadai bagi difabel, hal ini tidak akan berarti apa-apa apabila perilaku  masyarakat masih kurang sensitif terhadap fasilitas tersebut. Ketidaksensitifan tersebut  dapat berupa tindakan semena-mena dalam menggunakan akomodasi publik khusus difabel, atau menjadikan akomodasi tersebut tidak dapat diakses difabel secara penuh maupun parsial. Disadari atau tidak, problem semacam ini kadang lebih menganggu ketimbang ketiadaan infrastruktur inklusif itu sendiri.   

Untuk membuktikan hal ini nyata adanya, tengok saja keadaan yang ada di Bali, tepatnya di ikon paling terkenal Bali, yakni daerah obyek wisata Pantai Kuta. Sekedar informasi saja, Wilayah Pantai Kuta setiap harinya selalu ramai didatangi oleh pengunjung baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Di sepanjang pesisir Pantai Kuta sendiri, terdapat area trotoar yang dikhususkan bagi pejalan kaki yang melintas, dan juga sekaligus berfungsi sebagai pembatas antara area pantai dengan jalanan. Apabila kita melintas di sepanjang trotoar ini kita mungkin akan dapat merasakan hiruk pikuk Pantai Kuta yang dipenuhi para wisatawan yang berlibur, terlebih di sisi seberang timur jalan juga dipenuhi oleh spot-spot turis macam Beachwork Bali dan Hard Rock Hotel, yang tentunya menjadi magnet bagi pengunjung dan semakin membuat jalanan disekelilingnya menjadi cukup padat.

Mengesampingkan dulu aspek keramaian Pantai Kuta yang agak kurang relevan dengan topik bahasan, apabila kita cermati, trotoar pejalan kaki yang terbentang di sepanjang pantai itu sebenarnya bisa terbilang cukup aksesibel bagi difabel, terutama difabel netra. Dengan sedikit kepekaan kita bisa merasakan terdapat instalasi guiding block yang terpasang sepanjang badan trotoar dan membentang cukup panjang mengikuti alur jalan di sepanjang kawasan Pantai Kuta. Agak sedikit sulit dideteksi memang, tapi desain tersebut tidak diragukan lagi adalah betul guiding block yang diinstal di kawasan trotoar Pantai. Hal ini sendiri merupakan fakta yang cukup bagus. Meskipun fitur guiding block yang ada di areal Pantai Kuta ini bisa terbilang masih memerlukan banyak  perbaikan, terutama pada segi ketebalan block yang masih terhitung kurang sensitif bagi pejalan kaki difabel netra, jangkauan  guiding block yang masih belum merata serta juga fitur aksesibilitas lainnya yang belum lengkap sama sekali, adanya upaya sederhana untuk memasang komponen aksesibilitas ini setidaknya menunjukkan bahwa pihak terkait telah berusaha untuk menerapkan prinsip universal design di kawasan wisata. Mungkin belum optimal memang, tapi yang penting sudah ada usaha. Dan sepatutnya juga harus diapresiasi.

Namun seperti tadi dijelaskan, usaha ini pun tidak akan berarti banyak apabila perulaku masyarakat masih acuh tak acuh akan fasilitas ini, tidak terkecuali yang terjadi dalam kasus aksesibilitas di Pantai Kuta. Guiding block yang semestinya hanya layak dilalui oleh para difabel netra atau pejalan kaki pada umumnya ini malah dipakai jalur melintas oleh kendaraan bermotor yang tak bertanggung jawab. Dengan entengnya mobil dan motor lewat diantara jalur guiding block tanpa mengindahkan kemungkinan bahwa mereka bisa saja menghambat atau bahkan membahayakan pejalan kaki difabel netra yang kebetulan saja melintas di guiding block tersebut. Alih-alih tunanetra, rasanya orang non difabel pun juga harus lumayan hati-hati kalau lewat disana. Belum lagi itu, tak jarang juga dijumpai mobil yang parkir sembarangan dan menutupi sebagian guiding block.

Potret semacam ini mungkin tidaklah terlalu asing bagi kita para difabel di Indonesia. Bahkan, sama sekali tidak mengejutkan lagi, bak sudah menjadi sebuah pemandangan sehari-hari melihat ketidakpedulian oknum terhadap fasilitas khusus difabel. Jadi kasus yang ada di Kuta Bali ini hanyalah porsi kecil dari permasalahan difabel di dalam ruang publik. Situasi ini menjadi agak spesial karena terjadi di wilayah wisata yang cukup populer secara global, yang mana seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari pihak-pihak terkait dan juga masyarakat. Kejadian seperti ini setidaknya kembali menjadi reminder bagi kita bahwa pembangunan infrastruktur yang inklusif semata masih belum cukup menjamin terciptanya ekosistem lingkungan yang ramah difabel. Meskipun serasa telah diucapkan berulang-ulang, solusi dari semua permasalahan ini sebenarnya tidaklah jauh-jauh dari bagaimana upaya kita dalam menyadarkan masyarakat tentang budaya peduli difabel. Peduli terhadap kebutuhan difabel, dan peduli terhadap hak yang dimiliki difabel dalam mengakses sarana dan prasarana publik. Dan hal tersebutlah yang paling masuk akal untuk kita lakukan bersama-sama, baik individu nondifabel maupun difabel. Karena infrastruktur yang inklusif tidak akan mampu kita bangun selama kita belum membangun infrastruktur pemikiran yang inklusif pula dari dalam. Jadi mari kita atasi permasalahan klasik difabel ini pada solusi yang tidak kalah klasiknya juga. Sehingga kita mampu perlahan-lahan menciptakan lingkungan masyarakat yang inklusif secara sarana dan prasarana maupun inklusif secara perspektif pemikiran di Indonesia.

 

Penulis: Made Wikandana

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.