Lompat ke isi utama
Herman sedang menaiki sepeda motornya

Suherman dan Perjuangannya Memberdayakan Difabel Bulukumba

Solider.id Bulukumba - Temu inklusi semakin dekat, 13-16 Juli 2020. Koordinasi antar stakeholder sudah semakin kencang. Kami di desa Kambuno dan di kota Bulukumba saling berkoordinasi satu dengan yang lain.

Sore itu (10-01-20200), kami menyambangi rumah sekaligus sekretariat PPDI Bulukumba. Ketua PPDI, Suherman Ria, sangat sibuk dan kami sudah janjian usai beliau mengurusi kartu identitas 3 difabel di Dinas Catatan Sipil (DikCAPIl) Bulukumba.. Kami tiba tepat jam tiga sore sesuai janji. Beliau naik motor baru, Honda Scoopy beroda tiga yang merupakan donasi yang telah lama diperjuangkan PPDI Bulukumba untuk menunjang daya jelajahnya di desa-desa di bulukumba untuk membantu difabel yang belum tersentuh pemberdayaan. Motor beroda tiga itu merupakan bantuan dari  badan amil zakat Bulukumba.

Ada dua tujuan utama kami berkunjung sore itu. Selain untuk update persiapan temu inklusi, kami juga ingin mengajak beliau dalam mengorganisir difabel di desa Kambuno, yang akan menjadi tuan rumah temu inklusi. Pengorganisasian difabel ini menjadi salah satu program desa Kambuno dan telah dianggarkan oleh pemerintah desa, di mana PerDIK diminta untuk memfasilitasi.

Awal Menjadi Disabilitas

Saat kami mengorganisir pembentukan kelompok difabel desa di aula kantor desa Kambuno, kami meminta Suherman berbagi pengalaman selama menjadi ketua PPDI.

Ada sekitar lima belas difabel yang hadir sebagai peserta yang berasal dari tiga  dusun   (dusun Mannyaha, Barugae dan Assipettungge). Acara ini dipandu oleh Ishak Salim (ketua PerDIK)

Herman, sapaan akrabnya berdiri dengan bantuan Kruk  sambil bercerita tentang pengalamannya selama menjadi difabel. Ia menjadi seorang difabel sejak umur 21 tahun (1991). Saat itu ia mengaku nyaris putus asa.

“Bagaimana tidak, kita pernah punya fisik yang normal lalu tiba-tiba salah satu kaki kita diamputasi, menyakitkan bukan?,”  katanya.  Herman lalu melanjutkan kisahnya.

Bagaimana ia keluar dari rasa putus asa dan memilih menjadi aktivis  disabilitas. “Mungkin bapak ibu bertanya dalam hati, apakah saya ini bekerja? Jawabannya Iya, saya bekerja sebagai tukang pres ban,” ucapnya tegas. “Jadi saya sangat salut dengan pemerintah desa yang mau memberdayakan kita karena dalam diri kita punya potensi masing-masing,” lanjut Herman.

Aktif Di PPDI

“Saya bertemu ketua PPDI Bulukumba bernama Basri Hajar pada 2005. Ia pernah bersepeda mengelilingi Indonesia, saat itulah saya termotivasi dan aktif di PPDI. Kalau dia bisa mengapa saya tidak,” tutur Suherman..

“Bapak ibu, Jokowi saja mempekerjakan tenaga ahli dari penyandang disabilitas, apalagi pemerintah desa,” lanjut Herman disambut tepuk tangan peserta.

“Coba teman-teman di sini yang difabel, buat usaha mesin jahit, pekerjakan orang difabel dan dikelola oleh Bumdes (Badan usaha milik desa), mungkin bupati akan perhatian dan membantu kita,” tandasnya mencoba menyakinkan peserta lain.

Dengan semangat, Herman terus memotivasi peserta agar terus berjuang. “Kami tidak butuh dikasihani, saya pernah jual stiker dan kalender. Saya juga pernah melihat teman yang butuh kursi roda. Saya tidak menunggu pemerintah tapi langsung bergerak membantunya,” jelas Herman dengan wajah serius. “Di PPDI juga kami bisa membantu masyarakat untuk membuat KTP dan Akte kelahiran sepanjang berkasnya lengkap. Karena tidak mungkin saya yang pulang balik dari Bulukumba ke Kambuno dengan kondisi seperti ini bapak ibu,” lanjut Herman sambil melihat kakinya yang sudah diamputasi.

“Saya juga menyarankan agar teman-teman difabel untuk terus sekolah, kalau sudah tidak bisa sekolah karena umur, silahkan masuk paket C. Saya siap membantu. Kenapa? Karena ada 2 persen kuota untuk PNS di pemerintahan khusus untuk difabel,” katanya.

Saat ini kata Herman banyak difabel yang tidak melanjutkan pendidikannya karena malu  atau hal lain. Padahal harusnya difabel juga bisa hidup normal seperti orang lain. Seperti tetap berolahraga. Apalagi difabel juga punya ruang untuk bertanding. “Bulukumba pernah mengikuti Porda, pesertanya difabel dan kita masuk enam besar. Kita dapat emas, perak dan perunggu, untuk emas mendapat uang 10 juta, perak 7 juta, perunggu 5 juta,” urai Herman penuh semangat.

Pada akhirnya, para peserta difabel pada pertemuan itu sepakat untuk berkelompok. Selanjutnya, akan rutin diadakan pertemuan-pertemuan lanjutan, yang akan membincangkan mengenai kelompok ini akan seperti apa, yang akan diadakan di rumah-rumah warga difabel, dimana PerDIK dan organisasi difabel di daerah Bulukummba seperti PPDI dan PerMATA siap terlibat. [*].

 

Penulis: Nur Syarif Ramadhan

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.