Lompat ke isi utama
Kelas Bahasa Isyarat

Meskipun Berbayar, Kelas Bahasa Isyarat Makin Diminati

Solider.id, Yogyakarta - “Bulan ini kami memulai kelas bahasa isyarat angkatan ke-6 untuk umum”, sambut Dafi Muchlisin menggunakan bahasa isyarat. Dafi adalah seorang Tuli yang bertugas sebagai koordinator kelas bahasa isyarat yang diselenggarakan oleh Pusbisindo Yogyakarta. Pusbisindo kepanjangan dari Pusat Bahasa Isyarat Indonesia, sebuah lembaga yang menyelenggarakan kelas bahasa isyarat dan terbentuk di Yogyakarta pada tahun 2017. Pusbisindo juga ada di Jakarta dan Banten.

Ditemui solider.id pada 20 Januari 2020, Dafi mengatakan bahwa pada angkatan ke-6 ini, terdapat sebanyak 70 murid yang sudah terdata oleh Pusbisindo. Masing-masing kelas diampu oleh seorang guru Tuli yang telah mendapatkan pelatihan dan mengajar kepada 10 murid di tiap kelas. Dafi menjelaskan bahwa pada tahun ini akan mulai dibuka kelas bahasa isyarat khusus untuk orangtua yang memiliki anak Tuli. “Kami juga akan menyelenggarakan kelas bahasa isyarat untuk orang tua yang punya anak Tuli. Saat ini kami masih proses konsultasi dengan Laura selaku ketua Pusbisindo di Jakarta.”

Kelas bahasa isyarat dibuka untuk umum dengan tarif Rp 250.000,- per orang, Rp 200.000,- untuk mahasiswa, dan Rp 175.000,- untuk orang tua yang memiliki anak Tuli. Fasilitas yang diberikan adalah tempat, guru Tuli, sertifkat, dan kamus saku bahasa isyarat. Yang membedakan antara kelas bahasa isyarat kali ini dan tahun sebelumnya adalah kali ini berbayar dan tersistem. “Angkatan pertama tahun 2017 belum tersistem sehingga sulit untuk berkembang, contohnya karena murid yang datang berubah-ubah sehingga menyulitkan guru Tuli untuk mengajar. Mungkin gratis membuat mereka kurang niat serius”, imbuh Dafi.

Dafi berharap tidak hanya mahasiswa saja yang bergabung di kelas bahasa isyarat. “Kami berharap pihak pemerintah juga mau belajar bahasa isyarat dan mengenal budaya Tuli agar akses layanan publik di Indonesia semakin inklusif”, ujar Dafi.

Kelas bahasa isyarat secara resmi akan dimulai pada 27 Januari 2020. Imannatul Istiqomah (Isti), salah satu murid kelas bahasa isyarat yang baru, mengatakan bahwa bergabungnya ia ke kelas bahasa isyarat karena ingin tau dan ingin belajar. Isti yang  masih berstatus sebagai mahasiswa di program magister profesi pendidikan di Universitas Gadjah Mada ini menjelaskan, “Karena kadang di sekolah saya bertemu dengan murid Tuli tapi saya tidak bisa berkomunikasi. Saya ingin bisa paham tentang bagaimana penggunaan bahasa isyarat. Saat ini saya baru bergabung di level 1, jadi saya ingin menguasai dulu level 1.”  

 

Reporter : Ramadhany Rahmi

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.