Lompat ke isi utama
foto Annisa Rahmania

Annisa Rahmania, Aktifis JBFT Hingga Jadi Staf Kementrian Perhubungan

Solider.id, Yogyakarta - “Jika ingin diperdulikan, lakukanlah sesuatu yang dapat menggungah hati mereka untuk ikut bergerak”, ujar Nia kepada solider.id melalui pesan whatsapp. Nia adalah seorang aktivis Tuli yang sejak 1 April 2019 bekerja di Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) dan ditugaskan di daerah Tebet. Pemilik nama lengkap Annisa Rahmania ini juga aktif di berbagai komunitas, salah satunya Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT). Aktifnya Nia di komunitas inilah yang kemudian membawa Nia mengikuti proses seleksi Pelamar Disabilitas yang bekerjasama dengan Kementrian Perhubungan.

Perempuan yang juga aktif mengkampanyekan pentingnya bahasa isyarat ini mulai bergabung dengan JBFT bertepatan dengan momen Asian Para Games dan Festival Bebas Batas. “Kemudian saya mulai diajak bergabung dalam komunitas JBFT. Dalam JBFT ada masing-masing koordinator dari masing-masing disabilitas”, sambung Nia.

JBFT adalah komunitas difabel yang melakukan edukasi wisata bersifat swadaya sembari melibatsertakan perwakilan dari pemerintahan, pihak dari tempat publik, dan pihak dari transportasi umum yang akan dinaiki untuk bersama menyusuri dan mendiskusikan perbaikan aksesibilitas serta mengedukasi pihak bersangkutan dan masyarakat mengenai cara berinteraksi dan pendampingan masing-masing difabel dengan benar.

JBFT kemudian bekerja sama dengan Kementrian Perhubungan pada proses seleksi pelamar difabel. Kementerian Perhubungan berinisiatif membuka lowongan kerja untuk difabel, bertujuan memenuhi kuota 2% Pekerja Disabilitas dalam Perusahaan Pemerintahan sesuai UU No 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. “Persyaratannya saat itu harus turut aktif mengedukasi transportasi publik yang aksesibel bagi disabilitas, memiliki keterampilan komunikasi yang baik, memiliki pengetahuan aksesibilitas secara teknis, memiliki pengalaman advokasi kebijakan lokal/nasional, dan terampil operasional komputer. Jadi saya terpilih dan ditempatkan di BPTJ di daerah Tebet”, jelas perempuan kelahiran 22 September 1993 ini.

Nia bekerja sebagai staf sub-bagian umum dimana tugasnya antara lain mendata surat masuk dan keluar, mendesain untuk keperluan internal dan terkadang bertugas di luar untuk membimbing operator penyedia jasa layanan transportasi. Perubahan yang dirasakan Nia adalah posisi sekarang lebih memudahkan Pekerja Disabilitas di Kementrian Perhubungan untuk lebih didengarkan keluhan dan aspirasinya, serta konsisten duduk bersama 23 operator transportasi setelah penandatangan komitmen pelayanan untuk mendiskusikan sampai mempraktikkan peningkatan jasa layanan untuk difabel.

“Saya cukup sering menggunakan transportasi umum dan menemui beberapa hambatan, seperti informasi mendadak mengenai perubahan jalur dan informasinya tidak ditampilkan secara visual. Etika petugas masih setengah hati untuk sigap menawarkan bantuan pada disabilitas”, keluh Nia. “Sepertinya hambatan yang kerap kali dialami oleh orang Tuli dalam mengakses transportasi umum adalah informasi mendadak. Misalnya perubahan jalur commuterline atau gate pesawat belum bisa ditampilkan visual secara simultan dengan informasi audio”, imbuhnya.

Hal tersebut memotivasinya untuk bekerja di Kementrian Perhubungan untuk mengabdi kepada negara dengan berkontribusi memantau peningkaatan akses, baik sarana maupun prasarana dan pelayanan petugas terhadap pengguna jasa transportasi baik orang lokal maupun internasional. Perempuan yang hobi membaca dan menulis pengalaman ini berharap akses sarana, prasarana, dan pelayanan transportasi publik lebih ramah hingga difabel mampu mengakses secara mandiri.

“Kalau aksesibilitas transportasi publik ramah disabilitas maka akan mempengaruhi peningkatan kenyamanan dan keamanan disabilitas selama berpergian. Situasi tersebut secara tak langsung mengedukasi masyarakat untuk memahami dan ikut menjaga fungsinya aksesibilitas, juga lebih peka terhadap keberadaan disabilitas”, harap Nia.

Saat bekerja di BPTJ, Nia biasanya berkomunikasi menggunakan dwi bahasa, “Percakapan saya dengan atasan, rekan kerja sampai office boy/security menggunakan dwi bahasa. Kami sama-sama berusaha terbiasa membaca gerak bibir. Mereka masih mempelajari satu per satu isyarat yang sering digunakan. Mulai dari selamat pagi, selamat sore, terima kasih, sama-sama, makan, sholat. Selain itu kadang-kadang menggunakan kertas dan pulpen. Sesekali sesi wawancara penilaian kerja, mereka memesan juru bahasa isyarat.”

Semangatnya untuk terus berkarya datang dari dukungan yang terus mengalir dari kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya juga Tuli. “Saya dan orang tua saling menjaga komunikasi dan kepercayaan, maka mereka mendukung kegiatan saya sepenuh hati”, ungkap Nia.

Saat ditanya soal cita-cita, Nia mengaku tidak punya cita-cita, “Saya tidak punya cita-cita namun saya punya keinginan kuat untuk bekerja pada hal-hal yang sekiranya dapat memajukan kehidupan Tuli. Semoga bertambahnya lokakarya inklusif yang ditawarkan berbagai komunitas dapat menambah kepercayan diri disabilitas terutama Tuli untuk keluar dari zona nyaman, semangat memaksimalkan potensi dan tak menyerah mencapai target.”

Pada momen Hari Tuli Nasional yang diperingati pada tiap 11 Januari, penggemar warna Navy ini menyampaikan pesan kepada teman-teman Tuli, “Jika ingin diperdulikan, lakukanlah sesuatu yang dapat menggugah hati orang lain untuk ikut bergerak.”

Baginya, tak apa-apa teman-teman Tuli berkomunikasi dengan bahasa verbal, bahasa isyarat atau dwi bahasa. “Ayo kita bersama-sama memperjuangkan peningkatan akses informasi visual misalnya Signage System, Live Captioned, Closed Captioning, dan pelayanan publik seperti juru bahasa isyarat, juru ketik, dan petugas yang ramah bagi Tuli. Jangan hanya maju di kota besar saja,  ayo perluas akses ramah Tuli dari Sabang sampai Merauke”, pungkas Nia.

 

Reporter: Ramadhany Rahmi

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.