Lompat ke isi utama
Nur Syarif saat menjadi narasumber dalam sebuah acara

Menelanjangi Difabel Demi Inspirasi

Solider.id, Makassar - Sepulang belajar dari Selandia Baru, di PerDIK, saya diminta mengampu devisi pustakabilitas, yang salah satu tugasnya adalah memastikan produksi pengetahuan (tulisan terkait kajian disabilitas) terus terjaga dan di posting di blog ekspedisidifabel.wordpress.com. hal yang kami lakukan untuk terus menjadikan isu disabilitas tetap dibicarakan oleh orang-orang dan menyebarkan pengetahuan selain melalui tulisan adalah diskusi tematik bulanan yang pada tahun kemarin rutin kami lakukan di beranda rumah perdik.

Mantan penanggungjawab pustakabilitas--Muhammad Luthfi-- yang saat ini sedang meninggalkan Makassar untuk menyiapkan studi masternya di Australia, menyarankan agar tema diskusi di bulan pertama 2020 adalah "Inspiration Porn". Saya lantas googling, mencari bahan bacaan terkait tema tersebut di internet. Hasilnya, puluhan laman berbahasa inggris, bermunculan. Amat disayangkan,  belum banyak orang indonesia, baik itu aktivis difabel maupun pemerhati isu-isu disabilitas,  pernah menulis tentang  ini dalam bahasa indonesia.

Sebagai seorang difabel, kami umumnya   dijadikan objek pemberi inspirasi oleh kaum  Ableism. Kami  dijadikan sosok yang luar biasa karena meskipun kami  difabel, kami   mampu menjalankan aktifitas sehari-hari, dan menjalankan peran sebagaimana masyarakat pada umumnya. Sering kali ini juga menjadi ajang  eksploitasi oleh media, khususnya media cetak dan media elektronik   Yang mem-framing kesusahan, kemelaratan, bahkan penderitaan difabel  demi sebuah rating.

Mengenai yang terakhir, mungkin  banyak orang yang merasa bahwa difabel yang inspiratif adalah cara penggambaran terbaik yang bisa dilakukan oleh media. Saya sendiri punya pendapat berbeda, karena dalam konteks itu difabel  semata-mata hanya menjadi objek; objek inspirasi.

Stella Young, seorang aktivis difabel dan pelawak tunggal, menyebut hal itu sebagai Inspiration Porn (read). Buatnya, menjadikan difabel  melulu sebagai objek inspirasi telah mendehumanisasi karena dimensi hidupnya ditunggalkan. Sebab, kami  tidak hidup semata ditugaskan untuk menginspirasi orang.

Tentu orang bisa punya pendapat yang berbeda. Beberapa difabel  menganggap itu tidak masalah. Seperti ketika beberapa waktu  lalu saya mmendiskusikannya dalam beberapa grup Whats App dan facebook yang mayoritas beranggotakan difabel. Ada difabel  yang berpendapat bahwa penggambaran inspirasional tidak masalah. Tapi, ada juga yang mengatakan bahwa modus inspirasional yang telah ditampilkan  bertahun-tahun oleh media nyatanya tidak pernah berdampak pada kebijakan publik maupun posisi sosial kami..

Alih-alih membantu kami  menagih hak-hak sebagai warga negara, media arus utama lebih senang mengasihani kami, kalau-kalau tidak ditertawakan.

Dalam studinya pada 1991, Paul Hunt mencatat ada 10 jenis stereotip  yang digambarkan media terhadap difabel: the disabled person as pitiable or pathetic, an object of curiosity or violence, sinister or evil, the super cripple, as atmosphere, laughable, his/her own worst enemy, as a burden, as non-sexual, being unable to participate in daily life.

Stereotip tersebut juga bisa dijumpai dalam media di Indonesia. Misalnya karakter pelawak Bolot yang menjadi objek tertawaan atau beban sosial. Atau karakter Cecep (diperankan Anjasmara) dalam “Wah Cantiknya” (SCTV, 2001) yang selain menjadi objek tertawaan, dikasihani dan dipandang aseksual. Dalam talkshow, selain kerap menjadi objek rasa penasaran (misalnya dalam “Hitam Putih”, Trans 7), penggambaran difabel  paling dominan adalah sebagai objek inspirasi (misalnya dalam “Kick Andy”, Metro TV).

Sudah waktunya kita mengubah perspektif kita terhadap difabel. Saya bisa beraktivitas sebagaimana layaknya warga masyarakat pada umumnya bukan karena saya hebat, karena ada kesadaran dalam diri saya jika saya juga punya hak sebagaimana orang lain, yang kemudian mendorong saya   untuk mencapai itu dan lingkungan pergaulan saya juga amat mendukung partisipasi saya.

Mari memandang difabel dengan menggunakan perspektif hak, bukan perspektif amal dan rasa belas kasihan. Jika kita semua bisa melakukan ini, bukan tidak mungkin kedepannya  semakin banyak akan kita jumpai difabel yang bisa berpartisipasi di masyarakat, mengisi ruang-ruang publik yang dirancang untuk diakses oleh semua orang tanpa memandang warna kulit, kultur, status sosial maupun kemampuan tiap-tiap individu.

 

Penulis: Nur Syarif Ramadhan

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.