Lompat ke isi utama
ilustrasi ojdk onlind

Difabel dan Layanan Ojek Online, Seperti Sahabat yang Saling Melengkapi

Solider.id - Sebuah kejadian viral di media sosial terjadi antara difabel netra pengguna ojek online dan drivernya terjadi akhir Desember lalu. Peristiwa itu dipicu unggahan atas nama akun Ramaditya Adikara, yang dikenal sebagai pegiat dan juga penulis. Rama mengunggah statemen di facebook atas perlakuan yang diterimanya beruntun, pertama dari driver Grab-Car, kemudian driver Grab-Bike. Saat itu Rama hendak pulang dari sebuah yayasan usai beraktivitas.

Kronologisnya adalah ia memesan Grab-Car namun setelah dua puluh menit, driver datang tetapi tidak jadi menjemputnya dan batal. Kejadian berikutnya Rama memesan Grab-Bike, kurang lebih sama kejadiannya dengan yang pertama, driver sudah sampai lokasi tetapi kemudian membatalkan. Hal yang dilakukannya kemudian menelpon perusahaan Grab dan Rama memperoleh jawaban bahwa kasusnya akan ditindaklanjuti. “Saya melapor bukan hendak meminta ganti rugi, juga tidak ingin memberi hukuman pada driver, tetapi saya ingin perusahaan memiliki aware terhadap difabel,” jawab Ramaditya saat Solider.id meneleponnya.

6 Januari 2019, Ramaditya mengunggah sebuah statemen bahwa postingan dirinya terkait kejadian yang dialami terkait saat mengakses Grab dia hapus. Ramaditya telah dipertemukan dengan dua driver sebagai mitra dari perusahaan Grab atas undangan Grab Indonesia. Pertemuan itu juga dihadiri tim public relation perusahaan tersebut. Dikutip dari unggahan di laman Facebook, “Saya tidak tahu kalau Mas tunanetra. Andai saya tahu...”ungkap Pak Suharno, pengemudi Grab-Car. Begitu pula driver Grab-Bike, yang meyesal karena saat itu mengabaikan karena tidak mengangkut.

Rama pun merasakan haru karena matapencaharian kedua driver sempat terputus dengan adanya persoalan ini. Menurutnya, jika ia bersuara itu demi terciptanya kesadaran masyarakat. Ia menambahkan bahwa tidak ada yang salah dari kedua belah pihak karena hanya salah paham dan semua telah selesai dengan baik. Perbincangan antara kedua belah pihak di pertemuan tersebut kemudian bergulir tentang seputar peningkatan layanan Grab bagi difabel. “Ternyata masih banyak driver Grab yang belum mengetahui bahwa tunanetra sudah dapat meng-order Grab secara mandiri,”ujar mediator dalam pertemuan. Seorang pendamping lain menyarankan agar pihak Grab membuat training atau penyuluhan seputar teknologi dan akses layanan yang digunakan oleh pelanggan difabel netra.

Apa Saja Pengalaman Difabel dalam Mengakses Layanan Ojek Online?

Peristiwa yang dialami oleh Ramaditya Adikara memicu diskusi dalam ruang maya pada pegiat difabel. Ajiwan Arief Hendardi, yang sehari-hari bekerja sebagai redaktur Solider.id mengungkapkan kisah yang dialami oleh anak-anak dari Yaketunis Yogyakarta yang pernah jadi korban penipuan driver ojek online saat mengorder makanan via online, dengan ongkos tertera sebedar 20.000 rupiah namun saat mengangsurkan uang 50.000 tidak diberi uang kembalian. Kejadian itu kemudian dilaporkan kepada Customer Service (CS) perusahaan ojek online tersebut lalu yang bersangkutan mendapatkan kembalian uang dalam bentuk non tunai. Ajiwan juga menceritakan bahwa dirinya juga pernah dibikin kecewa oleh drivel ojek online saat mengorder, si driver sudah datang di tempatnya seperti dia pesan, tetapi lalu mobil bergerak lagi dan pergi menjauh.

Joni Yulianto, pegiat difabel yang juga ketua dewan pengurus SIGAB bercerita lain. Ia pernah dimarahi driver ojek online karena tidak mau menyeberang. Ia juga pernah punya pengalaman uang yang sudah dibayar akan dikembalikan secara cash oleh driver setelah tahu dirinya seorang difabel netra.

Pengalaman lain yang dialami oleh anak-anak Yaketunis Yogyakarta adalah mendapat semacam rejeki nomplok dari driver ojek online karena diberi makanan dari orderan fiktif. Driver berkata daripada makanan jadi mubazir makanya dibagi kepada anak-anak di sana.

“sore itu, kami usai beraktivitas, tiba-tiba ada driver grab yang mengatarkan beberap porsi bakso yang diberikan kepada anak-anak di sini’ ungkap Danik Tri, salah satu pengajar di Yayasan difabel netra Yogyakarta tersebut. Ia juga bercerita bahwa dirinya pernah tetiba diajak selfie sama seorang driver ojek online, “saya tiba-tiba diajakin selfie sama driver yang mengantarkan saya waktu itu. dia sempat bilang kalau dirinya kagum sama kawan-kawan difabel yang sudah canggih, bisa bepergian sendiri dan sangat mandiri. Kawan-kawan lain juga pernah mendapatkan perjalanan gratis dan si driver menolak untuk menerima ongkos pembayaran atas jasanya” cerita Danik kepada solider.id.

Lain lagi cerita Ida Putri, kontributor Solider.id yang tinggal di Boyolali. Saat memesan ojek online, Ida Putri menyertakan keterangan bahwa dia berkursi roda, maka ketika mendapat jawaban bahwa mobil yang dipesan adalah mobil kecil seperti Suzuki Karimun atau Mirage, maka driver minta pesanan dibatalkan sebab untuk mobil dengan jenis tersebut, kursi roda tidak bisa masuk. Namun untuk jenis mobil seperti Honda Brio dan Daihatsu Ayla, masih bisa karena kursi roda bisa masuk. Menurut Ida, kesulitan yang dialaminya saat mengakses layanan ojek online adalah harus lebih banyak mengarahkan sebab mayoritas driver tidak paham cara mengangkat kursi roda sehingga kursi roda itu bisa jatuh terbalik sebab yang dipegang rodanya.

Misbahul Arifin, netra pegiat difabel yang tinggal di Solo menyatakan kepada Solider.id bahwa rata-rata ia tidak mengalami kesulitan saat mengakses ojek online di dua perusahaan terlama yakni Go-Jek dan Grab, namun ketika mengakses ojek online paling baru biasanya memberi diskon yakni dari perusahaan Maxim, ia harus memberi penjelasan lebih detail lagi kepada driver sebab titik jemput atau titik antar terkadang tidak sesuai atau agak bergeser.

Dito, seorang driver ojek online jenis sepeda motor yang tinggal di Solo menceritakan pengalamannya saat mendapat pelanggan difabel. Ia tidak begitu asing dengan penumpang difabel sebab seringkali mendapat pelanggan difabel, apalagi netra. Menurutnya dia bisa mengenali pelanggan netra dari tongkat putih yang dibawanya. “Terkadang saat interaksi via chatting, pelanggan tersebut bilang jika dia difabel netra. Apalagi di Solo ya, saya sering menjemput pelanggan di RC (BBRSBDF Prof. Dr. Soeharso_red). Jadi ya sudah terbiasa, tidak ada yang istimewa,” ujar Dito. 

Lain lagi keterangan dari Iwan, seorang driver kendaraan bermotor yang menyatakan pernah memiliki keraguan saat mengantar pelanggan difabel netra bagaimana sampai tujuan (rumah) karena yang menjadi titik antar bukan pas di alamat. Sedangkan pelanggan netra tersebut harus berjalan lagi masuk gang untuk sampai tujuannya. Lalu ia berpikir bahwa pelanggan tersebut sudah hapal jalan yang dilaluinya. Ia juga menceritakan pengalamannya mengantar pelanggan difabel netra yang menggunakan aplikasi di ponsel milik orang lain dan ia bisa mengatasinya, dan sang pelanggan sampai di tempat tujuan dengan aman. 

Menyikapi berbagai kejadian yang menimpa difabel terkait layanan ojek online, Muhammad Ismail, manajer media SIGAB menyatakan perlu adanya polling atau survey kepuasan pelanggan yang ditujukan kepada pelanggan difabel yang bertujuan untuk memetakan sejauh mana perusahaan layanan transportasi daring tersebut memberikan pelayanan yang baik kepada para pelanggannya tanpa terkecuali.

 

Reporter  : Puji Astuti

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.