Lompat ke isi utama
Terminasi di komplek Wyata Guna terus berlanjut

Terminasi Wyata Guna Terus Berlanjut Penghuni Asrama Akan Tetap Bertahan

Solider.id, Bandung – Setelah sebelumnya berhasil mengosongkan satu asrama dan ruang sekertariat, komplek Wyata Guna terus menjadi sorotan publik. Kondisi pintu gerbang utama yang sering ditutup serta dilengkapi oleh aparat seakan mengurung para penghuni asrama yang masih mencoba tetap bertahan di panti khusus difabel Netra yang kini berubah nama menjadi balai.

Diakui para penguhuni asrama sejak perubahan nama sesuai dengan Peraturan Menteri Sosial (Permensos) Nomor 8 Tahun 2018 silam, mereka sudah tidak dipelihara lagi oleh negara. Padahal, mereka merupakan warga negara yang berhak merasakan pendidikan layak seperti masyarakat umum.

Disampaikan Rianto sebagai Ketua Forum Akademisi Luar Biasa, di dampingi Dian Waradana dan Tubagus Abiem sebagai sekertaris, mereka yang hingga saat ini menjadi penghuni asrama di Wyata Guna awal kedatangannya merupakan rekrutan melalui proses dan prosedur sesuai undang-undang maupun peraturan pemerintah, bahkan ada yang dijemput dari kampung halamannya untuk dibina di Wyata Guna.

“Kami akan bertahan, sekarang posisi terkurung karena pintu gerbang panti ditutup dan ada aparat juga,” ucap perwakilan Forum Akademisi Luar Biasa.

Sementara, dari Forum Penyelamat Pendidikan Tunanetra (FPPT) terus berkoordinasi terkait kasus yang terjadi di asrama Wyata Guna dengan berbagai pihak seperti Kepolisian Sektor (Polsek), Kepolisi Resor Kota Besar (Polrestabes), Dinas Sosial (Dinsos), hingga Biro Hukum Provinsi Jawa Barat. Jalur ini ditempuh untuk menunda terminasi atau pengusiran para mahasiswa yang berjumlah 30 orang hingga menunggu keputusan dari Ombudsman.

Diungkapkan Aris Totelles, mewakili mahasiswa yang menempati asrama Wyata Guna sempat ada kendaraan pengangkut barang di depan asrama berserta pihak dari kantor balai. Meski, tidak melakukan tindakan seperti yang dikhawatirkan mereka, namun kondisi seperti itu sempat membuat penghuni asrama menjadi panik. Bahkan setelah kepergian kendaraan angkut barang dan pihak balai, para penghuni asrama masih tetap siaga. Mereka berharap tidak terjadi bentrokan fisik dengan pihak manapun dalam kasus ini.

Sangat disayangkan pula oleh berbagai pihak yang terbiasa keluar masuk komplek Wyata Guna, terkait pengamanan pintu gerbang dengan buka tutup kendaraan dinilai sesuatu yang unik, langka dan menggelitik yang pernah terjadi di kawasan tersebut. Bahkan dengan adanya penjagaan polisi dalam mengatasi penghuni asrama yang notabennya mahasiswa dan anak usia sekolah, dirasa terlalu berlebihan.

Di komplek Wyata Guna tersebut ada beberapa fasilitas umum lainnya seperti Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri A kota Bandung, gedung perpustakaan milik Abiyoso, kantin, dan sarana ibadah seperti mesjid dan gereja dengan satu pintu gerbang utama.

“Dengan pengamanan pintu gerbang yang seperti ini seolah akan menjadi sorotan pertanyaan publik, segenting apakah kondisi Wyata Guna saat ini?” tutur Yudi Yusfar, mewakili salah satu komunitas difabel Netra yang sering keluar masuk komplek Wyata Guna untuk aktivitasnya.

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.