Lompat ke isi utama
Para aktor difabel desa sedang mengikuti pelatihan di Balai Desa.

Menilik Praktik Baik Organisasi Difabel di Desa dalam Pencegahan Depresi dan Bunuh Diri

SIGAB Indonesia mencatat, difabel di Desa, besar kemungkinan mengalami depresi, bahkan sampai taraf percobaan bunuh diri. Organisasi ataupun komunitas difabel di Desa menjadi solusi dengan memberi pendampingan bagi difabel dalam melewati fase penerimaan diri dan keluarga.

Solider.id- “Satu hal yang saya percaya untuk tidak lagi melakukan bunuh diri adalah saya bisa mengubah kondisi terburuk menjadi lebih baik bersama organisasi.”

Perempuan itu mengucapkannya dalam satu tarikan nafas dan diakhiri dengan senyuman. Dia mengucapkannya tanpa jeda dan mengalir begitu saja, seperti seseorang yang sudah lulus mengikuti kelas public speaking. Dia mengaku, kalimat yang sampai saat ini masih dipegangnya itu, membuatnya yakin bergabung dengan organisasi difabel di desanya, Jatirejo, Lendah, Kulonprogo.

Perempuan disabilitas polio kelahiran 19 Mei 1984 itu bernama Dian Hastiwi. Dia bergabung dengan Kader Difabel Desa (KDD) Jatirejo sejak tahun 2015. Dia dikenal teman-teman KDD Jatirejo sebagai perempuan difabel yang memiliki kepercayaan diri. Dia merasa beruntung dapat melewati masa-masa terberat dalam hidupnya dan membuka lembaran baru dengan kegiatan yang berguna bagi sesama difabel.

“Itu semua karena dukungan dari lingkungan sekitar dan organisasi difabel yang menemani saya melalui fase penerimaan diri. Menepis pikiran-pikiran negatif seperti keinginan untuk bunuh diri, mas,” sambung Dian, di rumahnya (26/12/2019).

Sampai saat ini, Dian bersama KDD Jatirejo terus memberi dukungan, baik moril ataupun materil melalui berbagai kegiatan di desanya. Mulai dari audiensi dengan pemerintah desa, melakukan pendataan, arisan, membuka koperasi dan pendampingan.

Selain bertujuan mengubah stigma dan mengahapus diskriminasi di masyarakat, utamanya memberi ruang bagi difabel dalam melewati fase penerimaan diri. Dia mencatat, ada 180 difabel dengan ragam kedisabilitasan di desanya, mulai dari daksa, netra, Tuli, mental intelektual, low vision dan lanjut usia.

Siang itu, Dian sedang menemani anak perempuannya mengerjakan tugas sekolah di teras rumahnya. Dia duduk di sebuah kursi yang terbuat dari ukiran bambu. Tangan kanannya memeluk kruk yang selama ini menjadi alat bantu untuk berjalan.

Di halaman pekarangan rumahnya, terparkir sepeda motor otomatis yang sudah dimodifikasi menjadi sepeda motor roda tiga. Bentuk sepeda motor tersebut telah disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan tubuhnya untuk bermobilitas. Jika sebelumnya dia mengandalkan adik laki-lakinya dalam urusan antar-jemput yang menurutnya sangat merepotkan.

“Motor itu jadi bukti keluarga jadi percaya saya, kalau saya itu bisa dan tidak merepotkan,” tuturnya, sembari menunjuk sepeda motor yang sudah dimilikinya sejak tahun 2017. “Motor ini juga jadi alat bantu saya ketika mendampingi, sampai sekarang.”

Selama melakukan pendampingan penerimaan diri, Dian mengaku banyak belajar memahami karakteristik teman-teman difabel di desanya. Baginya, setiap difabel dihadapkan pada momentum dan berbagai faktor yang seringkali memosisikan seorang difabel di taraf terendah, ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa hidup tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Dian menjelaskan, fase penerimaan diri merupakan satu momentum bagi seorang difabel ketika seorang difabel mampu menerima segala kekurangan yang ada di dalam dirinya dan memilih bangkit dari keterpurukan. Fase penerimaan diri menjadi titik balik bagi seorang difabel dalam menyikapi segala beban dan persoalan hidup.

Menurut Dian, fase penerimaan diri bukan sebuah hidayah yang turun begitu saja dari langit, melainkan sebuah proses pergolakan diri dengan lingkungan sosial. Mengindahkan segala pikiran negatif, mampu mengolah stigma dan diskriminasi menjadi semangat untuk menjawab setiap persoalan yang dihadapi.

Dian memaparkan, ada beberapa faktor krusial yang dibayangkan seorang difabel ketika menghadapi kondisi yang memungkinkan seorang difabel depresi atau sampai pada taraf percobaan bunuh diri.

Pertama, menganggap bahwa kehilangan salah satu fungsi tubuh adalah akhir segalanya. Kedua, tidak adanya dukungan dari keluarga sebagai lingkungan terdekat. Ketiga, stigma dari masyarakat yang dilabelkan pada kondisi tubuhnya. Keempat, lingkungan sosial yang tidak memberinya akses dan kemungkinan untuk keluar dari keterpurukannya.

Sebuah riset dalam jurnal Affective Dissorder berjudul Disability weights for suicidal thoughts and non-fatal suicide attempts meyimpulkan, perilaku bunuh diri pada difabel muncul sebagai pilihan penyelesaian hidup. Difabel menganggap bunuh diri sama seperti menenggak sebotol alkohol untuk mengindar dari beban hidupnya. Hasil riset tersebut mengklaim, prilaku tersebut masuk dalam kategori perilaku bunuh diri akut.

Dian mengingat satu kalimat dari seorang aktifis difabel, Muhammad Joni Yulianto saat mengikuti rangkaian pengkaderan aktor difabel di desanya pada tahun 2015. Dia mengaku kalimat tersebut membuatnya lebih yakin untuk mengubah kondisi sosial yang mendiskriminasi masyarakat difabel.

“Beliau bilang…”

Menjaring Aktor-aktor Difabel di Desa

Pada tahun 2015, Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia menjaring Kader Difabel Desa di bawah program Rintisan Desa Inklusi (RINDI), salah satu aktor yang terpilih ialah Dian Hastiwi. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di isu difabel ini, memilih delapan desa dari dua Kabupaten di DIY yakni, Sleman dan Kulon Progo.

Rohmanu Solihin, Koordinator Program RINDI menjelaskan, Pengkaderan aktor-aktor difabel di masing-masing desa merupakan salah satu rangkaian program RINDI. Pemilihan aktor difabel dari desa memungkinkan terjalinnya komunikasi yang intens. Selain itu difabel cenderung memiliki kepercayaan lebih terhadap sesama difabel. Setiap aktor yang dipilih akan melalui tahapan pelatihan seperti, penerimaan diri, keorganisasian dan pelatihan-pelatihan yang menyesuaikan dengan kebutuhan difabel di desa.

“Mulai dari membangun organisasi difabel di desa, mengadakan pelatihan public speaking, membangun relasi dengan pemerintah desa, pelatihan pendataan, pengembangan ekonomi dan lain sebagainya,” terang Rohmanu, ditemui di Kantor SIGAB (23/12/2019).

Salah satu pelatihan yang pernah diusulkan para aktor difabel desa bertajuk Memahami psikologi difabel. Usulan tersebut ditindaklanjuti Rohmanu dengan menghadirkan seorang psikolog untuk menjadi fasilitator. Pelatihan tersebut menjadi bekal para aktor untuk melakukan pendekatan kepada difabel yang belum sampai di fase penerimaan diri.

Salah satu hasil pengamatan selama pendampingan, Rohmanu mencatat bahwa seseorang dengan disabilitas karena kecelakaan lebih sensitif ketimbang seseorang dengan disabilitas sejak lahir. Sensitifitas tersebut dipengaruhi tingkat pengalaman seseorang menjalani hidup sebelumnya tanpa hambatan fisik.

“Maka, cara aktor difabel desa mendekatinya juga berbeda. SIGAB hanya berperan sebagai fasilitator di setiap pelatihan yang diadakan,” imbuh Rohmanu.

Rohmanu menjelaskan, desa menjadi sasaran perubahan karena sebagian banyak difabel berada di desa. Meski belum ada catatan, menurutnya, diskriminasi dan peminggiran difabel banyak terjadi di desa. Pemenuhan hak dan aksesbilitas baru menjadi isu pembangunan di sebagian kecil kota di Indonesia.

Dari hasil asessmen awal di delapan desa, terdapat beberapa persoalan utama yang masih bercokol. Mulai dari stigma, orangtua yang menyembunyikan anaknya karena difabel, sampai kasus pemasungan. “Persoalan tadi berdampak negatif bagi difabel di desa. Mereka itu rentan depresi, bahkan banyak yang sampai berpikiran mau bunuh diri karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa,” lanjutnya.

Rohmanu berharap, melalui pengkaderan dan adanya organisasi difabel di desa dapat mengurai persoalan-persoalan yang ada. Menjadi wadah berbagi dan mengenal antara difabel dengan masyarakat setempat. Selain itu, para aktor dapat menularkan semangat inklusif di masing-masing desa, agar masyarakat menerima keberadaan difabel dan berpartisipasi di setiap pembangunan desa.

Bagi Rohmanu, praktik baik pemberdayaan difabel di desa membantu mereka melewati fase penerimaan diri dan menjauhkan mereka dari keterasingan ketika hidup di sebuah masyarakat yang inklusif.

Cara pandang sosial sebagai pelengkap pendekatan individu dan medis

“Untuk melakukan sebuah perubahan besar mulailah dengan satu langkah kecil, menerima diri.”

Muhammad Joni Yulianto, seorang aktifis difabel netra mengatakan kalimat di atas saat mengisi salah satu rangkaian pelatihan pengkaderan aktor difabel desa.

“Saya enggak nyangka kalau kata-kata saya ternyata dihafal mereka,” timpal Joni, sembari terkekeh ketika saya mengutarakan kalimat yang membekas di ingatan Dian dan disampaikan berulang kali kepada teman-teman KDD di desanya.

Joni mengatakan ada dua pekerjaan utama KDD yang saling berkaitan satu sama lain yakni, melakukan pendampingan proses penerimaan diri dan bagaimana mengubah kondisi sosial. Dia mengamati, sampai saat ini dua pekerjaan tersebut sudah dilakukan dan menghasilkan beberapa perubahan.

“Contohnya perubahan kecil seperti penerimaan diri, tapi mungkin itu berpengaruh besar untuk mereka,” kata Joni, ketika diwawancarai di rumahnya, Cangkringan, Sleman (4/1/2020).

Menurut Joni, fase penerimaan diri tidak menjadi jaminan pemenuhan dan perlindungan hak bagi difabel dapat terwujud. Untuk melindungi masyarakat difabel dari depresi dan percobaan bunuh diri, tugas yang perlu menjadi sorotan KDD selanjutnya adalah perubahan di lingkungan sosial.

Joni menyayangkan, kasus-kasus difabel depresi dan bunuh diri hanya dilihat dari persoalan individu difabel dan medis. Dia mengambil salah satu contoh model pendekatan yang dipopulerkan seorang sosiolog Prancis, Emile Durkheim.

“Karena kamu kuliah di jurusan filsafat pasti kenal dengan tokoh Emile Durkhiem,” tuturnya.

Durkheim dalam buku berjudul Suicide, membagi bunuh diri kedalam empat jenis yang sering digunakan untuk menganalisis fenomena bunuh diri yakni, Anomic Suicide, Altruism Suicide, Egoistic Suicide dan Fatalistic Suicide. Jika mengamati dari penjelasannya, keempat jenis tersebut memfokuskan pada persoalan individu dan medis.

“Mulai dari bunuh diri disebabkan perasaan difabel yang bingung karena tidak bisa bersosial, karena terpisah dari lingkungan kerja, komunitas, keluarga dan lainnya,” terang aktifis difabel lulusan Universitas Leeds, Inggris ini. “Menurut saya, perlu ada pendekatan sosial sebagai pelengkap dari model pendekatan medis.”

Joni menganggap, persoalan depresi dan bunuh diri bukan hanya persoalan individu difabelnya. Namun, kenyataan di lingkungan sosial juga menjadi faktor penting utnuk menetukan cara seorang difabel bertahan hidup. Pendekatan sosial lebih fokus dan megidentifikasi gejala-gejala dan dampak negatif di masyarakat. Seperti, aksesibilitas infrastruktur, akses pekerjaan, pendidikan, ekonomi, kultur masyarakat dan kualitas partisipasi difabel di dalam pembangunan desa menjadi sisi lain yang perlu diperhitungkan.

Joni berpendapat, dua pekerjaan KDD merupakan kombinasi yang memungkinkan dapat menjawab persoalan difabel depresi dan bunuh diri. Jika penerimaan diri menggunakan pendekatan individu, maka untuk melakukan perubahan di lingkungan sekitar perlu dilihat melalui pendekatan sosial.

Joni memberikan satu catatan bagi pemerintah desa dengan adanya Undang-undang Desa dan Peraturan Pemerintah (PP) Kesejahteraan Sosial bagi Penyandang Disabilitas yang dirilis 2019. Dua payung hukum tersebut dapat dimanfaatkan, khususnya pemerintah desa untuk mengurangi risiko difabel depresi dan percobaan bunuh diri.

“Pemerintah desa dan organisasi difabel juga perlu kreatif mengartikulasikan dua kebijakan yang ada. Membungkusnya kedalam sebuah kegiatan yang lebih memberdayakan,” pesannya.[]

 

Reporter: Robandi

Editor: Ajiwan Arief H

The subscriber's email address.