Lompat ke isi utama
mahasiswa difabel di Sydney Australia

Student Access Plan: Dokumen Sakti Mahasiswa Difabel di Australia

Solider.id, Adelaide – Gegap gempita isu pemenuhan hak difabel kerap terdengar. Riuh rendah polemik, gagasan, debat hingga rencana-rencana manis melayang-layang merangsek ke setiap ruang diskusi dan advokasi. Dimana-mana banyak yang bicarakan meski tak jarang hanya berakhir di lembaran-lembaran tanpa kepastian. Perserikatan Bangsa-Bangsa, Gedung parlemen Ratu Elizabeth hingga Gedung DPR di negara Indonesia tercinta, isu difabel  sungguh tak pernah pamit menjauh. Namun, meski malu, perlu rasanya kita akui bahwa upaya pemenuhan hak difabel di negara kita belumlah matang sempurna jika disejajarkan dengan bukti nyata di negara-negara lain seperti Australia.

Australia dan Indonesia memang punyai paras dan postur berbeda. Tak bisa  disejajarkan. Tak setara untuk dibandingkan. Yang satu berjuluk negara maju, sedang yang lain berkembang. Namun, apa yang telah Australia lakukan untuk penuhi  hak  difabel di negaranya nampaknya masuk akal untuk diteladani. Pemenuhan hak di bidang Pendidikan, inilah salah satu aspek yang Indonesia mampu juga untuk lakukan. Lantas bagaimanakah bentuk konkrit pemenuhan hak difabel di bidang Pendidikan yang Australia telah terapkan?

Student Access Plan, sebuah dokumen untuk mengakses elemen-elemen pelayanan untuk siswa  difabel, merupakan bukti nyata sederhana yang Australia punya di seluruh perguruan tinggi di negaranya. Access Plan ini hadir sebagai bagian dari Disability Service (layanan bagi para difabel) yang sedang menempuh Pendidikan tinggi). Dan menyoal tentang Disability service, elemen ini merupakan suatu kewajiban institusi Pendidikan untuk memberikan akses setara bagi para difabel tanpa terkecuali sesuai yang tercantum dalam undang-undang Disability Discrimination Act 1992 (DDA) di Australia.

Bentuk dari Access Plan ini tidaklah neko-neko. Ia hanya berbentuk lembaran berkas berbentuk hard-copy dan juga soft-copy. Di atas lembaran-lembaran kertas Access Plan itu, tertulis beberapa poin-poin penyesuaian sebagai mahasiswa difabel. Satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya tentu punya poin yang berbeda-beda berdasar pada kebutuhannya yang pasti ditentukan oleh jenis dan tingkat kedifabilitasannya. Poin-poin yang ada di Access Plan para mahasiswa difabel netra biasanya berkaitan dengan materi pembelajaran yang harus berbentuk soft-copy, penambahan jam ketika mengerjakan ujian, ruangan khusus ketika ujian jika diperlukan, penambahan waktu mengumpulkan tugas, penggunaan alat bantu tekhnologi seperti komputer bicara ketika di dalam kelas dan lain-lain. Dan ingat, poin untuk jenis difabel lain tentulah berbeda karena kebutuhan dan aksesibilitas yang diperlukan pun bisa jadi tak sama.

Di Indonesia, beberapa universitas memang sudah menerapkan penyesuaian semacam itu. Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) di Semarang telah memberikan banyak penyesuaian untuk mahasiswa difabel, contohnya. Namun, ada yang berbeda dengan kampus-kampus di Australia. Di Indonesia, penyesuaian itu hanyalah berbentuk lisan tak terdokumentasikan. Sementara itu, penyesuaian-penyesuaian itu harus berbentuk dokumen bernama Access Plan. Dan Access Plan itu kelak akan menjadi pegangan mahasiswa difabel ketika ingin me-claim penyesuaian-penyesuaian tadi. Contohnya, ketika harus meminta extension request (permintaan penambahan deadline pengumpulan tugas), mahasiswa difabel haruslah melampirkan Access Plan sebagai bukti bahwa mereka memang punya hak untuk mendapatkan penambahan tersebut. Tanpa perlu tahu tetek bengek kedifabilitasan kita, dosen bisa langsung menyetujui permintaan tersebut hanya dengan melihat Access Plan yang dilampirkan. Tak hanya itu, mahasiswa difabel pun dapat ‘Menggugat’ dosen atau staff yang tidak menerapkan penyesuaian tersebut. Dan cara mengguggatnya adalah dengan menunjukkan Access Plan tersebut.

Access Plan bisa didapatkan di Disability Service yang memang selalu ada di setiap universitas di Australia. Di divisi tersebutlah mahasiswa difabel bisa  menyampaikan bentuk-bentuk penyesuaian apa sajakah yang akan dibubuhkan di Access Plan. Setelah semua poin dicantumkan, mahasiswa difabel yang bersangkutan dan disability advisor saling menandatangani Access Plan tersebut. Dan setelah itu disability advisor  akan mengirimkan soft-copy tersebut ke e-mail mahasiswa difabel. Uniknya, Access Plan ini juga berlaku untuk mahasiswa yang bukan difabel namun sedang mengalami cidera karena kecelakan atau sejenisnya yang memang membutuhkan penyesuaian di dalam proses belajar mengajar di kampus. Access Plan ini tidak hanya terbatas untuk mahasiswa berkewarganegaraan Australia saja melainkan boleh dari negara manapun termasuk Indonesia.

Penyediaan Access Plan untuk mahasiswa difabel di Australia memang nampak biasa dan sederhana. Taka da yang canggih dan ribet. Mudah untuk dilakukan. Dan dibalik kesederhanaan Access Plan itu, sebetulnya ada nilai berharga yang perlu diteladani yaitu komitmen. Dengan adanya Access Plan itu, setiap pihak yang bersangkutan dapat melaksanakan perannya. Pihak universitas, mau tidak mau harus punya komitmen untuk menyediakan materi pembelajaran dan elemen-elemen lainnya se-aksesibel mungkin karena memang telah nyata tercantum di Access Plan. Dosen pun harus memiliki komitmen untuk menggunakan metode mengajar yang ramah terhadap difabel. Lalu bagaimana dengan mahasiswa difabel? Tentu mereka juga harus komitmen untuk mengikuti proses pembelajaran sesuai dengan penyesuaian yang telah ada dan jangan sampai menyalahgunakan penyesuaian tersebut. Jika di Australia bisa, mengapa di Indonesia tidak?

 

Reporter: Eka Pratiwi Taufanti

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.