Lompat ke isi utama
mahasiswa Tuli UPN Veteran

Mahasiswa Tuli UPN Yogyakarta, Rancang Aplikasi Belajar Bahasa Isyarat

Solider.id, Yogyakarta- Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, kembali menelorkan mahasiswa dengan hasil karya tugas akhir berupa rancangan aplikasi belajar bahasa isyarat, berbasis android. Kali ini apikasis tersebut dirancang oleh Cinthya Rizki Anindita. Ia adalah  satu-satunya mahasiswa tuli di Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik Informatika, UPN Veteran Yogyakarta.

Cinthya, nama paggilannya, juga menjadi mahasiswa tuli pertama di UPN Veteran Yogyakarta. Mahasiswa kedua yang merancang aplikasi pembelajaran bahasa isyarat berbasis adroid. Aplikasi itu dirancang sebagai media belajar bahasa isyarat bagi siswa tuli yang tidak bisa berbahasa isyarat. Sebelumnya ada Rangga, yang menciptakan aplikasi bagi awam belajar isyarat.

Usai mempertahakan karya tugas akhir, Rabu (8/1/2020) ia menyempatkan berbicang dengan Solider. “Ada! Banyak tuli yang tidak bisa bahasa isyarat, saya salah satunya.” Ujarnya menjawab pertayaan Solider terkait keberadaan tuli yang tidak bisa berbahasa isyarat.

Menurutnya, tuli yang sekolah di sekolah tertentu (SLB Wonosobo, SLB Karna Mannohara Yogyakarta, SLB Santirama Jakarta, juga sekolah-sekolah umum), mereka tidak diajarkan bahasa isyarat.  Degan demikian tidak semua tuli berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

Cinthya, sedari usianya 5 tahun  sudah bersekolah di SLB Dena Upakara, Wonosobo. SLB khusus tuli itu tidak menggunakan bahasa isyarat sebagai sarana berkomunikasi. Melainkan mengajarkan siswa tuli berkomunikasi verbal atau oral.

Sembilan tahun atau hingga lulus sekolah dasar, Cinthya belajar di sana. Kemudian melanjutkan sekolah di SMP Pangudi Luhur Klaten, berlanjut di SMK Kristen I Klaten. Praktis Cinthya terbiasa berkomunikasi verbal, dengan memperhatikan gerak bibir lawan bicaranya.

Lantas menjadi mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta. Di Kota ini, Cinthya lebih sering bertemu dengan  tuli berbahasa isyarat. Kesulitan berkomunikasi dialaminya. Kodisi ini melatarbelakangi peciptaan aplikasi tersebut. Demikian keterangan Cinthya kepada Solider terkait peciptaan karya tugas akhirnya.

Memberi warna

DR. Herlina Jayadiyanti, ST., MT., salah seorang dosen pembimbing mengatakan bahwa sejauh ini Cinthya telah memberi warna. “Bukan Cinthya yang belajar dari kami, tetapi kami yang belajar dari Cinthya. Dia telah mampu memberi warna di kampus ini,” ujarnya.

Lanjutnya, Cinthya itu sama dengan mahasiswa lain. Punya cita-cita, punya semangat. Dia harus mendapat banyak dukungan. Karena, kata dia, semangat jikalau tidak didukung, maka akan berat. Terutama ketika di kelas. “Tugas Akhir (TA) hanyalah satu mata kuliah di akhir studi, sedang mata kuliah yang dilalui bayak. Dia bisa mecapai TA setelah melampaui seluruh mata kuliah lain,” tandasnya.

“Dia butuh tiga sisi dukungan. Segitiga dukungan yang tidak satupun bisa ditinggalkan. Dirinya sendiri, rumah dalam hal ini orang tua, kampus. Ketiganya harus saling mendukung satu sama lain,” terang ibu dosen.

Menurut DR. Herlina, sebagai dosen ternyata tidak hanya modal IPK, tak hanya modal punya mahasiswa, tapi banyak skill yang harus dimiliki. Sens of hummanity atau sisi kemanusiaan, di antaranya. “Ini kebetulan mahasiswa tuna rungu, besuk kalau dapat tuna natra bagaimana? atau yang lainnya? Dosen mengajar harus dengan hati. Kalau mengajar tuna rungu dosen ya harus mengerti bahasa isyarat,” tukasnya.

Terkait aplikasi rancangan mahasiswa bimbingannya, dikatakannya bahwa aplikasi masih harus disempurnakan. Akan di-launching, setelah betul-betul siap digunakan, sebagaimana tujuannya. “Aplikasi ini selanjutnya akan segera disempurnakan. Masuk tahap penambahan beberapa materi. Memerlukan beberapa penyempurnaan sebelum melempar aplikasi itu ke pengguna telepon cerdas Android,” pungkasnya.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor    : Ajiwan Arief H

 

The subscriber's email address.