Lompat ke isi utama
Yuyun sedang berpose ketika akan difoto

Yuyun Apriani: Patahkan Cibiran dengan Prestasi Membanggakan

Solider.id, Denpasar- “Jangan mau kalah dengan keadaan. Masih banyak mimpi yang harus kita wujudkan,” ujar perempuan itu dengan senyum mengembang saat pertama kali diajak kenalan.

Perempuan itu bernama Yuyun Apriani. Ia seorang difabel daksa kelhairan Jimbaran, 8 April 1985. Ia tinggal bersama keluarga di jalan Manggala II, Tuban, Kuta, Badung. Ia menghabiskan masa sekolah dari SD hingga SMP di YPAC Bali. Sulung dari empat bersaudara pasangan Moh. Tapul (43) dan Siti Aminah (40) ini bertekad untuk bisa bersekolah di sekolah reguler.

“Saya kan ingin seperti mereka yang bisa sekolah dan bekerja,” tuturnya. Yuyun dikenal sebagai perempuan yang percaya diri meski ia berjalan menggunakan lututnya (13/12/2019).

Selepas SMP  Yuyun memutuskan untuk melanjutkan sekolah di sekolah reguler SMA Dwijendra Bulau. Di sana ia memilih jurusan pariwisata. Lulus dari SMA, mengantongi restu dari orangtuanya pula, ia memilih melanjutkan kuliah di AKUBANK RENON, jurusan Akuntansi Bisnis Perpajakan dan Perbankan. Hingga berhasil lulus dan mendapatkan pekerjaan.

Meski awalnya sering gagal saat mencoba peruntungan dengan ikut bermacam kompetensi dalam mencari pekerjaan, Yuyun tak pernah merasa kalah. Ia sempat ditolak beberapa perusahaan saat mencoba peluang kerja.

“Saya sering ikut tes-tes pegawai yang diadakan oleh bank  yang butuh karyawan. Selalu lulus namun berakhir dengan gagal di administrasi. Entah, mungkin karena kondisi fisik saya yang tidak memungkinkan,” ujar Yuyun yang dijumpai tengah bersantai bersama beberapa teman di taman Kota Lumintang.

Yuyun merupakan atlit rugby dan renang yang pernah menoreh prestasi cemerlang. Beberapa prestasi lomba yang pernah didapatkan antara lain, Wheelchair Rugby ASEAN Paralimpic Games  di Icheon, Korea pada Oktober 2014.

Ia juga atlet renang dengan meraih juara 2 lomba renang saat mengikuti ajang Bali Paragames pada Juli 2014. Ia berhasil meraih Juara 3 lomba renang Bali di ajang Friendly Game pada Juni 2014. Juara 1 Wheelchair Rugby Singapore 2018, Juara 1 Wheelchair Rugby Malaysia pada September 2019 dan Juara 2 Wheelchair Rugby Singapore, serta juara 1 umum for the Final Series Singapore, keduanya pada November 2019.

“Pertama berangkat ke Korea. Tidak yakin saja kalau bisa menang karena persiapan kita hanya satu bulan,” kisah gadis pemalu yang suka menghabiskan waktu dengan menulis dan membaca beragam jenis buku.

Saat ini Yuyun adalah karyawan Dompet Sosial Madani. Meski begitu, ia tetap aktif menjadikan rugby sebagai andalan dan tercatat sebagai anggota Wheelchair Rugby Sport Indonesia. Dengan beberapa kemenangan dan prestasi yang pernah didapatkan, ia begitu menikmati bahwa rugby benar-benar olahraga menarik yang sekaligus memberi hiburan.

“Selama ini saya aktif di olah raga rugby karena ini baru pertama kali ada di Indonesia. Istimewanya lagi karena olahraga rugby anggotanya semua laki-laki dan kami satu-satunya tim dengan anggota wanita,” lanjutnya.

Ia merasa bersyukur karena tinggal di lingkungan yang selalu memberi dukungan. Orangtuanya selalu memberi kebebasan. Keaktifan di organisasi membuatnya percaya diri memperdalam kemampuan, hingga beberapa jenis pelatihan diikuti untuk menambah pengetahuan.

Ia menjadi panitia pada Competisi Accounting TalentEnterpreneur Festival, ia juga mengikuti pelatihan pada Mini Bank BPR Lestari. Pernah menjadi Asisten Guru di Bali Lighthouse Homeschooling. Selain itu, ia terus aktif di organisasi keagamaan, Remaja Masjid Minhajul Athfal.

Dua tahun sudah menjadi karyawan di Dompet Sosial Mandiri, sebuah lembaga sosial yang mengelola dana zakat, infaq dan sedekah, Yuyun merasa menjadi lebih berguna. Di sana Yuyun belajar lebih dalam tentang agama dengan rasa kekeluargaan. Ia mengaku tak ada perbedaan yang dirasakannya. Ia sangat bersyukur karena mendapat kesempatan hingga bisa mengeksplorasi kemampuan diri pada lingkungan.

“Jadikan cemooh orang-orang sebagai titik balik bagi kita untuk belajar mengendalikan diri agar kita bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi,” pungkas Yuyun yang pernah menjadi juara pada lomba cerdas cermat matematika se Bali tahun 2006 dan 2007. 

Yuyun merasa miris ketika ada yang mengatakan ‘difabel bisa apa?’. Dari pertanyaan itu, ia justru punya kemauan untuk menunjukkan kepada mereka bahwa ia bisa melakukan dan menjadi apapun.

Lalu dengan gamblang Yuyun mengisahkan tentang sebuah mimpi yang belum bisa ia wujudkan. Ia ingin mendirikan sebuah rumah baca dimana orang-orang datang dan menikmati bacaan dengan dikelilingi sebuah taman.[]

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.