Lompat ke isi utama
Posyandu Waluyo Jiwo dan Para Penyintas Kesehatan Jiwa yang Bergiat

Posyandu Waluyo Jiwo dan Para Penyintas Kesehatan Jiwa yang Bergiat

Solider.id, Blitar - Gambar dua potong kepala dengan rambut tegak, lalu satu setel kursi kayu dan sebiji mata adalah karya Ukir (58). Ukir menyandang gangguan jiwa sejak usia 12 tahun akibat depresi yang disebabkan oleh masalah ekonomi. Ia salah seorang korban pemasungan selama 15 tahun dengan kaki diikat dengan rantai ke pohon besar yang berada di belakang rumahnya. Ukir dianggap sebagai orang yang berbahaya oleh keluarganya. Setelah lepas dari pemasungan, Ukir memulai belajar mengukir lagi kehidupan. Ia kembali bekerja membuat kursi kayu dan sapu lidi, pekerjaan yang pernah ditekuninya dulu.

Lain dengan Purnomo (62). Sejak usia 14 tahun sudah mengalami gangguan jiwa disebabkan kejadian kecelakaan yang dialaminya. Keseharian Purnomo adalah menggambar dan menulis bahkan media yang dia pakai adalah dinding rumah, perabot rumah tangga, secuil kayu yang akhirnya bisa dipakai sebagai penanda, dengan huruf-huruf grafis yang cukup rapi dengan tema yang berbeda sesuai alur yang ada di pikirannya. Ada sebuah bidang yang dia tulisi “Rumah Tua Keluarga Besar”. Purnomo tinggal seorang diri dalam rumah keluarga besarnya.

Ahmad Soleh, anak berusia 16 tahun mengalami putus sekolah dikarenakan mengalami gangguan jiwa. Setiap hari ia suka menggambar dan menulis. Pada sebuah media kertas, Ahmad menggambar sesosok tubuh dengan bayangan berupa coret-coretan tak beraturan di belakangnya. Ia menamai gambarnya “Ogoh-Ogoh”. Pada sebuah kartu bergambar lukisannya, tertera bahwa Ahmad Soleh ingin melanjutkan sekolahnya.   

Ukir, Purnomo dan Ahmad Soleh adalah tiga orang dari 40 anggota Posyandu Waluyo Jiwo yang terletak di Desa Bacem, Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar. Tidak ada angka pasti yang menunjuk kepada jumlah keseluran Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di sana. Tetapi pemandangan ODGJ dalam pasungan, hingga hari ini sudah tidak ada lagi di desa tersebut. Adalah Slamet Winarko, kepala desa Bacem yang sebelumnya menjabat kepala dusun yang kemudian memiliki kesadaran bahwa ODGJ dalam pasungan tidak bisa dibiarkan. Apalagi di desanya saat itu banyak ODGJ dengan rentang usia 12-62 tahun. Langkah yang dilakukan Slamet kemudian berjejaring dengan puskesmas setempat dan RSJ Lawang. Karena RSJ Lawang terkadang kondisinya penuh pasien rawat inap, maka dengan menggandeng dinas kesehatan setempat, dengan menggabungkan lima desa dengan satu puskesmas, dibentuklah Posyandu Waluyo Jiwo.

Ada rutinitas kegiatan yang dilakukan di Posyandu Waluyo Jiwo yakni setiap hari Selasa, ada petugas kesehatan (mantri) yang bertugas mengambilkan obat bagi ODGJ/ODS/difabel psikososial tersebut. Sedangkan bagi penyintas yang mendapat dukungan dari keluarga, maka keluarga merekalah yang akan mengambilkan. Para penyintas juga melakukan kegiatan bersama seperti senam sehat. Ada juga pelatihan membuat telur asin, pembuatan keripik tempe, pelatihan menjahit, dan merangkai bunga yang semua kegiatan itu didukung dengan Dana Desa. Membuat telur asin menjadi produk andalan posyandu Waluyo Jiwo ini, sebab hal ini menjadi potensi Desa Bacem yang  menjadi sentra produksi telur bebek yang ada di Kabupaten Blitar. Ada sebuah mobil aambulance sebagai sarana mobilitas bagi kelompok ini.

Berawal dari Tugas Kuliah Kemudian Menggali Potensi Penyintas Waluyo Jiwo

Khomsin, pemuda kelahiran Cilacap datang ke Posyandu Waluyo Jiwo sekitar dua tahun lalu. Waktu itu dia yang memiliki ketertarikan dengan menggali potensi bagi orang-orang dengan gangguan kesehatan mental lebih memilih Blitar sebab daerah lain, misalnya tempat ia mencari ilmu yakni di Solo, isu kesehatan jiwa menurutnya sudah digarap dengan optimal. Maka pilihan untuk mendampingi penyintas di Posyandu Waluyo Jiwo adalah pilihan yang menurutnya memerlukan tantangan besar. Selama mendampingi, ia bisa saja tinggal di sana dua minggu lalu pulang ke Solo, dan kembali lagi mendampingi, begitu seterusnya sambil mencatat perkembangan.

Jika saat itu Slamet Winarko berfokus dengan pengobatan secara medis, maka Khomsin datang dengan mengulurkan tangan, mengenalkan seni yang kemudian menjadi bagian dari Posyandu Waluyo Jiwo. Alumni Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tersebut mendampingi secara orang per orang. Lalu kegiatan yang semula difasilitasi antar jemput oleh pihak desa dan bertempat di balai desa, seiring bertumbuhnya kesadaran penyintas, mereka tak sedikit yang aktif datang sendiri memotivasi diri.

Oleh Khomsin, para penyintas tersebut difasilitasi dengan alat gambar untuk meggambar di rumah masing-masing. Maka kemudian lahir karya-karya seperti karya Purnomo, Ukir, Ahmad Soleh dan Fatatik Fatimah, seorang penyintas kesehatan jiwa yang juga ibu dua orang anak yang mengalami gangguan jiwa akibat masalah sosial. Pada akhir Desember 2019, Khomsin mengumpulkan 40 karya lukisan dan merchandise dari karya lukisan penyintas ODGJ Posyandu Waluyo Jiwo tersebut untuk dipamerkan di Kopi Parang, sebuah kafe di kawasan Kampung Sondakan Laweyan. Menghadirkan Slamet Winarko sebagai Kepala Desa Bacem serta seniman tamu Eko Prasetyo alias Momon yang selama ini menggeluti Mirror Touch Synesthesi pameran tersebut cukup mendapat apresiasi masyarakat.

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.