Lompat ke isi utama
Salah satu laman Aplikasi Mobaile Library

Praktik Baik Penyediaan Bacaan Aksesibel, Upaya Hidupkan Semangat Baca Difabel Netra

Solider.id, Bandung – Mengakses bahan bacaan menjadi hak semua orang, termasuk masyarakat difabel. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan bahan bacaan serta ketertarikan minat masyarakat difabel Netra dalam hal memperoleh informasi, menuntut semua pihak untuk terus berupaya memberikan layanan yang akses bagi mereka. Secara regulasi hukum, hak masyarakat difabel Netra di bidang literasi telah ditetapkan dalam peraturan pemerintah maupun undang-undang.

Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2019 tentang Fasilitas Akses Terhadap Ciptaan bagi Penyandang Disabilitas dalam Membaca dan Menggunakan Huruf Braille, Buku Audio, dan sarana lainnya, merupakan bentuk keseriusan pemerintah terhadap pemenuhan hak masyarakat difabel, khususnya difabel Netra dalam bidang literasi.

Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 menuliskan, ‘Fasilitas akses atas suatu ciptaan untuk penyandang tunanetra, penyandang kerusakan penglihatan atau keterbatasan dalam membaca, dan atau pengguna huruf braille, buku audio, atau sarana lainnya, tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta jika sumbernya disebutkan atau dicantumkan secara lengkap, kecuali bersifat komersial.’

Berpijak pada kedua peraturan yang dikeluarkan tersebut, pengalihmediaan yang dilakukan dari buku bacaan awas ke tulisan braille maupun buku digital dan audio, selama sumbernya disertakan dengan jelas dan bukan untuk kepentingan komersial, dinyatakan legal menurut aturan hukum yang mengatur tentang hak cipta. Kemudahan ini tentu saja memberikan ruang gerak yang cukup luas kepada masyarakat difabel Netra untuk dapat mengakses berbagai kriteria jenis buku bacaan dan informasi berita yang tersedia.

Ajakan gemar membaca, pembangunan sarana perpustakaan hingga ke level pedesaan, donasi buku bacaan, relawan buku audio dan sebagainya, merupakan sebuah upaya yang masih dipertahankan untuk melestarikan budaya literasi hingga pelosok daerah. Bahkan masyarakat difabel pun dengan ragam kedifabelannya, mereka memiliki kebutuhan serupa dalam akses literasi melalui cara yang memudahkannya.

Menanggapi buku-buku secara fisik yang cenderung dinilai membutuhkan ruang yang cukup, penyimpanan yang teratur, pemeliharaan yang baik, serta biaya produksi yang tinggi, menggeser keberadaannya di lingkungan. Buku fisik lebih banyak ditemui di tempat tertentu seperti perpustakaan umum, perpustakaan kampus atau sekolah, atau kegiatan yang berkaitan dengan pesta buku.

Terlebih untuk mereka para difabel Netra yang membutuhkan buku bacaan khusus dalam tulisan braille atau buku bicara berupa audio. Secara fisik, buku-buku yang dicetak dalam huruf braille cenderung memiliki ukuran yang lebih besar dan lebih tebal daripada ukuran buku secara umum. Sementara, untuk buku bicara berupa audio dalam bentuk kepingan CD membutuhkan alat lain untuk dapat mengaksesnya seperti leptop atau komputer.

Bisa dibayangan sejenak, bagaimana rumitnya untuk para difabel Netra yang ingin mengakses bahan bacaan guna mendapatkan sebuah informasi atau bacaan yang dibutuhkan.

Ragam Kemudahan Mengakses Bacaan Aksesibel Bagi Difabel Netra:

Siloam PhoNe

Perkembangan perangkat berbasis teknologi membawa angin segar untuk merampingan kendala yang masih ditemui oleh masyarakat difabel, khususnya Netra. Audio Mobile Library (AML) dapat menjadi satu alternatif memudahkan akses literasi. Teknologi ini dirakit untuk menjembatani masyarakat difabel yang menggemari budaya membaca dan keingintahuan akan adanya sebuah informasi. Audio mobile library dirancang memalui sistem aplikasi yang dapat diakses melalui smartphone.

Salah satu audio mobile library yang baru diluncurkan pada 5 Desember 2019 kemarin adalah aplikasi Siloam Phone. Bentuk kerjasama antara Siloam Korea dengan Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI) dibawah naungan Kementerian Sosial RI.

Untuk mengakses audio mobile library ini cukup mudah hanya dengan menggunakan smartphone. Download aplikasi Siloam PhoNe, lalu masuk ke lama registrasi untuk menuliskan ID anggota dan kata kunci atau password. Setelah menyatujui aturan yang berlaku, tinggal mengisi laman ID Informasi yaitu berupa pengulangan nama pengguna dan kata kuncinya, serta biodata pengguna termasuk memilih kriteria apakah Visually impaired (Difabel Netra), Other people with disability (Orang dengan kedifabelan lainnya) atau non-disabled (Bukan difabel)

Pengisian data dan registrasi ini akan menjadi arsip admin di Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI) Abiyoso yang bertanggung jawab terhadap aplikasi tersebut. Setelah mendapatkan agreement atau persetujuan dengan admin, itu tandanya data pengguna aplikasi telah tersimpan sebagai member yang dapat mengakses audio mobile library. Pengguna aplikasi ini juga dapat mengatur volume sendiri, kecepatan memutar audio yang ingin didengar, memilih halaman bacaan, hingga menghentikan sendiri.

Ada banyak kategori pilihan dalam laman pencarian, artinya pengguna dapat memilih bacaan atau informasi berupa audio sesuai dengan kebutuhannya. Seperti kategori Berita, Berita Netra, Pengembangan Diri, Literatur Agama, Fiksi dan Literatur, Buku Sekolah, Pengetahuan Umum, My Library, Info and Setup dan sebagainya.

Dengan adanya audio mobile library, mengakses aplikasi Siloam PhoNe ini melalui smartphone yang sudah banyak digunakan masyarakat difabel termasuk difabel Netra, akan mempermudah budaya literasi dimana pun dan kapan pun, selain sangat ringan dibawa karena ragam informasi dan sumber bacaan ada dalam telepon genggam yang digunakan.

“Aplikasi ini mudah diakses difabel Netra, pilihan bukunya juga beragam,” kata Popon Siti Latifah, yang mengaku sudah menggunakan aplikasi dari BLBI yang juga difabel Netra total blaind.

Menurut Ema Tresna, admin BLBI Abiyoso aplikasi Siloam PhoNe meski baru diluncurkan sekitar satu bulan, data penggunanya sudah tercatat lebih dari tiga ratus member. Baik dari difabel Netra, ragam difabel lainnya, ataupun nondifabel yang konsen terhadap masyarakat atau lembaga yang bersinggungan dengan individu difabel.

“Sejak disosialisasikan keberadaannya satu bulan lalu, pengguna aplikasi ini sudah terdata lebih dari tiga ratus user. Semoga bisa lebih banyak lagi yang dapat menggunakan aplikasi ini dengan terus disebarluaskan kepada masyarakat,” pungkas Ema.

Seperti amanat perundangan yang berlaku, pada aplikasi ini tertuang dengan jelas mulai dari nama buku, nama penerbit, jumlah halaman, dan lainnya yang merupakan identitas sumbernya.

Difalitera.org

Sebelum kemunculan aplikasi dari Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI), pada akhir November 2018 silam telah hadir difalitera.org yaitu sebuah web sastra suara milik anak bangsa yaitu Indah Darmastuti sebagai founder difalitera.org.

Bertitel Audiobook Sastra Indonesia, web ini dirancang apik untuk memfasilitasi para difabel khususnya Netra yang lebih menyukai sastra, seperti Cerita Pendek (Cerpen), Cerita Cekak (Cerkak), puisi, dongeng, Englise Lesson, atau cerita anak.

Dilansir dari web difalitera, menyampaikan difalitera adalah perwujudan niat untuk menghadirkan sastra bagi teman-teman difabel Netra meskipun tidak menutup untuk publik. Media alternatif untuk mengenalkan sastra Indonesia kepada khalayak melalui audio yang diunduh secara gratis dan terbuka ruang diskusi demi perkembangan apresiasi bagi para pembelajar dan penikmat sastra. Hal ini tentu saja akan menjadi daya tarik tersendiri untuk para penggunanya.

Sesuai aturan perundangan yang berlaku, web ini bukan untuk bersifat komersil melainkan dapat diunduh secara gratis.

“Saya menjadi relawan pengisi suara disitu dan web ini produk baik,” tutur Astuti.

Astuti Parengkuh, salah satu relawan pengisi suara dan pengguna web difalitera.org yang juga merupakan sosok sastrawan menyampaikan keberadaan web seperti ini dinilai sebagai produk baik. Sosoknya yang memang sering berkecimpung dalam isu difabel, memahami banyak terkait akses yang menjadi kebutuhan masyarakat difabel, seperti dalam bidang literasi. Termasuk bacaan sastra.

Mitranetra Braille Converter (MBC)

Mitranetra Braille Converter (MBC) diluncurkan kali pertama pada tahun 1997, dan terus disempurnakan dalam versi berikutnya di tahun 1999. Digagas oleh Mitra Netra, MBC merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk memproduksi buku braille.

Perangkat lunak yang memiliki kemampuan untuk mengubah dokumen berupa teks dalam huruf latin menjadi file dalam huruf braille secara otomatis. Juga mengetik syimbol braille secara langsung pada keyboard komputer dengan tombol A-S-D-F-J-K. Fasilitas ini disebut juga six-key-mode, yang biasa digunakan pada syimbol matematika, kimia, fisika, notasi braille, maupun arab braille. Kemampuan lainnya dapat mencetak baik single copy maupun multi copy.

Pembuatan buku braille bisa lebih cepat dan pendistribusiannya dapat berupa file secara online. Akses perpustakaan braille berbasis online milik Mitra Netra ini pun dapat dikunjungi di www.kebi.or.id.

Sejak 2004 Mitra Netra membangun sistem produksi dan distribusi buku braille, Komunitas E-Braille Indonesia (KEBI) dirancang sebagai alternatf solusi guna mengatasi biaya produksi dan distribusi buku braille. (Sumber: Mitranetra.or.id)

Literasi berbasis teknologi untuk memberikan akses terhadap masyarakat difabel Netra terus berkembang dan beragam secara fungsi dan kebutuhannya. Upaya pemenuhan akses informasi serta sarana bacaan semakin bervariatif guna meraih minat pembacanya.

Semua alternatif akses literasi yang ditawarkan memiliki fungsi yang serupa yaitu untuk memberi kemudahan dan memangkas biaya produksi buku braille secara fisik. Semakin beragamnya sumber bacaan yang disuguhkan, semakin memperkaya budaya literasi penggunanya termasuk bagi masyarakat difabel, khususnya Netra. Berbagai praktik baik tersebut menjadi tak berarti tanpa dukungan dari berbagai pihak. Dukungan pemerintah dibutuhkan agar berbagai praktik baik ini semakin massif dilakukan, baik dalam ranah pendidikan formal, pendidikan tinggi, dan dunia kepustakaan secara umum. selain itu, dukungan pemerintah juga dibutuhkan untuk meningkatkan sarana dan prasarana yang mendukung dengan adanya jaringan internet yang memadai hingga ke pelosok desa serta kemudahan masyarakat untuk mengakses jaringan internet secara lebih mudah dan murah. Sementara dukungan dari komunitas difabel diharapkan untuk memotivasi agar masyarakat difabel netra sebagai user dapat terjangkau oleh berbagai layanan tersebut.

 

Reporter : Srikandi Syamsi

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.