Lompat ke isi utama
tanah longsor Banjarnegera

Banjarnegara Jadi Kawasan Rawan Bencana, Difabel Minim Sosialisasi Mitigasi

Solider.id, Banjarnegara – Cuaca ekstrim kembali menghampiri beberapa wilayah di Indonesia. Setelah Jabodetabek diguyur hujan deras dan banjir di penghujung tahun 2019 dan awal tahun 2020, beberapa lokasi di Indonesia juga terkena bencana akibat cuaca ekstrem. Longsor sudah terjadi tiga kali di beberapa kecamatan kawasan Banjarnegara.  

Longsor pertama terjadi 17 Desember 2019 lalu yang mengakibatkan seluruh badan jalan nasional yang menghubungkan Semarang dan Purwokerto yang berada di Desa Prigi, Kecamatan Sigaluh tertutup dengan lumpur. Setelah itu, pada tanggal 3 Januari 2020, sebuah tebing setinggi 10 meter yang berada di tanjakan Sikelir, Kecamatan Wanayasa pun longsor dan menutup seluruh badan jalan yang menjadi penghubung utama Banjarnegara menuju kawasan wisata dataran tinggi Dieng. Tiga hari setelahnya, 6 Januari 2020, longsor kembali melanda Banjarnegara setelah jalan penghubung desa di Kecamatan Pandanarum juga tertutup material tanah yang kemudian membuat beberapa desa menjadi terisolir dan beberapa sekolah terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajarnya.

Selain bencana tanah longsor, Kabupaten Banjarnegara juga rentan terkena bencana tanah bergerak. Sebelumnya, pada bulan Februari 2019, 22 rumah yang berada Desa Kebutuh Jurang, Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara mengalami retak-retak setelah tanah yang berada di bawahnya bergerak. Menurut laporan dari BPBD Kabupaten Banjarnegara, 70 persen wilayan di Banjarnegara adalah kawasan merah bencana longsor dan tanah bergerak.

“Bagi para difabel yang kebetulan berada di daerah yang masuk kawasan merah longsor, hal yang diperlukan sebenarnya adalah sosialisasi bagaimana kami sebagai difabel menyelamatkan diri ketika ada bencana,” ujar Abidin, seorang relawan dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

Menurutnya, Difabel rentan sekali terdampak pada situasi bencana. “Difabel setahu saya, karena kami di MDMC, dulu waktu longsor Jemblung juga berkoordinasi dengan Sahabat Difabel Banjarnegara, bisa menjadi difabel karena menjadi korban dari bencana dan juga sudah menjadi difabel sebelum terjadi bencana dan semakin terdampak karena bencana itu,” terangnya.

Ali Yasin, seorang difabel daksa yang beberapa tahun lalu terdampak bencana tanah bergerak di Gunung Giana, Madukara, Banjarnegara mengaku, bahwa sebagai difabel, bencana sangat terasa efeknya pada saat itu.

“Dulu kan tanah bergerak benar-benar bikin satu desa di gunung giana sana hancur. Tidak hanya rumah, tapi jalan pun hancur. Rumah saya kebetulan hanya retak-retak, tapi yang parah pada saat itu adalah saya jadi terisolasi dan tidak bisa kemana-mana,” ungkap Yasin.

Pada saat itu, kenang Yasin, karena jalan penghubung desa rusak parah, satu-satunya jalur adalah menyusuri kebun-kebun salak yang ada di sisi utara desa. Dengan kontur yang naik turun bukit dan tanah yang licin, Yasin tidak pernah bisa keluar dari desanya melewati jalur alternatif ini.

“Akhirnya tetap di pengungsian saja. Tapi ya sangat terbatas. Beberapa sanak famili bisa keluar desa dan mengungsi ke kerabat lain lewat jalan itu. Saya di pengungsian saja selama beberapa hari,” ujarnya.

Abidin dari MDMC Banjarnegara mengatakan bahwa memang isu tentang mitigasi bencana terhadap difabel di Banjarnegara masih belum terlalu terpikirkan. Penyebabnya, menurutnya, kurangnya info dan belum pahamnya masyarakat dan pihak yang berhubungan dengan isu bencana terhadap kebutuhan spesifik dari difabel. Kebanyakan akhirnya menempatkan difabel sebagai korban terdampak bencana yang segala kebutuhannya disamakan dengan korban bencana lain.

“Mungkin kurang materi dan sosialisasi ya. Kadang, garis komando kami dari BNPB Kabupaten dan sampai saat ini belum ada banyak sosialisasi tentang mitigasi difabel dalam kebencanaan. Padahal, harusnya kita sudah mulai siap-siap. Musim hujan sudah masuk puncaknya. Dari Desember lalu sudah tiga kali longsor di Banjarnegara. Kita berdoa agar Banjarnegara tetap aman saja dan terhadap dari bencana yang lain,” tutupnya.

 

Reporter: Yuhda

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.