Lompat ke isi utama
ilustrasi huruf braille

Braille dimata Difabel Netra Milenials

Solider.id, Surakarta - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan setiap 4 Januari mulai tahun 2019 sebagai Hari Braille Sedunia. Hal ini diperjuangkan oleh organisasi difabel netra dunia atau World Blind Union agar difabel netra mendapatkan akses pendidikan terbaik. 4 Januari adalah hari kelahiran “Louis Braille”, seorang tokoh dunia yang berkat karyanya menciptakan “huruf Braille”, telah memudahkan difabel netra di seluruh penjuru bumi ini membaca dan menulis.Braille menjadi salah satu wahana penting, baik bagi difabel netra maupun kelompok masyarakat umum. Bahkan setelah penetapan hari Braille ini di Amerika, tulisan timbul ini ditetapkan sebagai alat terpenting bagi semua orang, tidak hanya difabel netra.

Sementara itu tepat di tanggal 4 Januari beredar pesan beranting dari media sosial yakni Facebook dan WhatsApp yang ditulis oleh Aria Indrawati, Ketua Pertuni. Dikutip di laman facebook, Aria menyatakan, “Tantangan lain dalam mengajarkan anak-anak tunanetra membaca dan menulis Braille adalah, “terbatasnya ketersediaan guru-guru, termasuk guru-guru di sekolah luar biasa yang mengerti huruf Braille”. Bagaimana sekolah akan mengajari anak tunanetra membaca dan menulis Braille jika di sekolah tersebut belum ada guru yang mengerti membaca dan menulis Braille? Kondisi ini terjadi bahkan di sekolah luar biasa, yang guru-guru pengajarnya berlatarbelakang pendidikan luar biasa. Kondisi ini tentu harus mendapat perhatian khusus dari Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Indonesia.

Anak-anak tunanetra, ayo sekolah. Bapak, Ibu, / Orang Tua, ayo, bawa anak-anak tunanetra kita ke sekolah. Pemangku peran dunia pendidikan, ayo, kita fasilitasi agar anak-anak Indonesia yang menyandang tunanetra dapat bersekolah dengan baik.”

 

Suara Dinar, Bayu dan Yusuf dari Komunitas Teras Baca Difalitera

Namanya Dinar. Ia penghuni asrama Yayasan Kesejahteraan Anak-anak Buta (YKAB) sekaligus siswa di SMKN 8 Surakarta. Di perpustakaan sekolah Dinar saat ini hanya tersedia alquran braille. Dulu saat bersekolah di SLB YKAB ia belajar membaca dengan braille, tetapi kini belajarnya memakai e-book dengan membuka ponsel atau laptop. Menurut Dinar, saat ini meski teknologi sudah maju, e-book juga sudah akses, tetapi tidak semua pelajaran bisa diakses di e-book seperti pelajaran matematika. Lebih-lebih untuk siswa di jenjang SMA, pelajaran matematika banyak memuat rumus dan gambar-gambar. “Kalau aku tidak bisa atau tahu cara menulisnya maka aku pakai cara/metodeku sendiri yang aku pahami. Di sinilah aku berkeyakinan bahwa braille masih   diperlukan,” terang Dinar anggota Komunitas Teras Baca Difalitera yang setiap pekan mengadakan pembacaan karya sastra di pelataran SLB YKAB Surakarta. 

Bayu Sadewo, teman sekomunitas Dinar menyatakan bahwa di teman-teman netra sendiri, braille sudah mulai ditinggalkan bahkan sebagian dari mereka sudah tidak peduli lagi. Menurut Bayu Sadewo lagi, banyak  guru SLB yang juga tidak menguasai huruf braille. “ Saya jelas masih membutuhkan huruf braille,” terang Bayu, yang sehari-hari aktif pada kegiatan seni musik dan suara. 

Achmad Yusuf, difabel netra siswa SMA Muhammadiyah 6 yang tinggal di asrama putra YKAB tidak pernah mengakses perpustakaan saat bersekolah di YKAB. Sedang di perpustakaan sekolahnya saat ini, ada penyediaan buku braille namun sedikit. Harapan pribadinya berkaitan dengan akses difabel netra di hari braille ini adalah lebih tersedianya buku-buku braille edisi terbaru terutama yang sangat dibutuhkan oleh difabel netra. Menurutnya, urgen pemerintah menyediakan buku yang penting diakses untuk belajar teori musik, teori karawitan dan juga buku sastra yakni cerpen dan kumpulan puisi. “Kendalanya di kami kadang kalau akses online ada yang berbayar,” terang Yusuf.

Terkait pemenuhan hak pendidikan dengan adanya media pembelajaran atau modul yang bisa diakses oleh difabel netra dengan wujud braille, saat ini Persatuan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK) tengah menyusun panduan kebencanaan. Modul berhuruf braille tersebut bertujuan agar bisa diakses oleh semua anggota difabel netra dengan dukungan dana dari Disability Right and Advocacy Fund DRAF). Demikian dituturkan oleh Qoriek Asmarawati pengurus PPDK.

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.