Lompat ke isi utama
Buku-buku braille fisik BLBI

Literasi Braille dan Peran BLBI Abiyoso Hari Ini

Solider.id, Bandung – Terbesit pertanyaan singkat, akankah literasi berbasis braille akan memudar seiring dengan perkembangan arus infomasi yang cepat dan perubahan teknologi  digital, khususnya di Indonesia?

Memaknai Hari Braille Internasional yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 4 Januari, mengingatkan kita pada perjuangan seorang tokoh difabel Netra bernama Louis Braille yang lahir di Coupvray Prancis 4 Januari 1809, dan meninggal dunia di Paris Prancis pada 6 Januari 1852 di umur 43 tahun.

Louise Braille mengalami infeksi pada matanya sejak usia tiga tahun yang disebabkan oleh tusukan jarum yang digunakan untuk membuat lubang pada bahan kulit. Ayahnya dikenal sebagai seorang pembuat pelana dan perlengkapan pacu kuda.

Dengan menyederhanakan kombinasi dua belas titik dari kode yang digunakan pasukan tentara, Louis Braille memudahkan metode tersebut menjadi enam titik. Sistem huruf braille dapat diterima secara global oleh difabel Netra di dunia. Penemuan tersebut menjadi pintu pembuka cakrawala ragam pengetahuan bagi mereka yang mengalami hambatan pada penglihatnnya. Baik secara total maupun mengalami penurunan fungsi penglihatan bertahap.

Seiring perkembangan peradaban kehidupan manusia, individu difabel terus bertambah. Hal ini dapat disebabkan karena faktor kelahiran, kecelakaan, maupun penuaan secara usia. Begitu pula mereka yang mengalami gangguan pada penglihatannya. Akan tetapi, potensi secara pribadi tetap harus digali dan diolah sehingga mampu menjadi individu yang mandiri, cerdas berkualitas.

Salah satu yang paling berperan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia - SDM difabel Netra adalah keberfungsiannya Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI) Abiyoso yang ada di kota Cimahi Jawa Barat sebagai pusat percetakan Buku Braille dan Buku Bicara (Audio). Serta perpustakaan BLBI yang berada di komplek Wyata Guna Bandung sebagai sarana pendidikan pengayaan buku-buku bagi SLBN A yang ada di lingkungan tersebut. Sebagai sarana pemenuhan hak literasi dan informasi bagi difabel Netra.

Untuk difabel Netra Low Vision, huruf braille jarang dipergunakan dalam proses baca tulis. Meski sebagian besar mereka yang Low Vision turut mempelajari huruf braille yang dikenal sebagai ciri khas tulisan bagi para difabel Netra di seluruh dunia. Alasan mereka cukup sederhana, mereka lebih menyukai memanfaatkan fungsi  penglihatannya dengan alat bantu baca tulis yang ada, seperti kaca pembesar atau komputer yang dirancang khusus untuk memperbesar tulisan yang ingin baca.

Menyinggung terkait literasi berbasis braille dengan menyandingkan pola perubahan kehidupan masyarakat secara global, termasuk masyarakat difabel khususnya Netra dalam meningkatkan kualitas dirinya, tentu akan berbenturan pada tingkat minat baca dikalangan mereka.

Seperti yang dipaparkan Ema Tresna, Editor Buku Bicara Seksi Penyediaan dan Pemanfaatan Literasi, Braille Balai Literasi Braille Indonesia - BLBI Abiyoso.

Menurut Ema, penyebaran buku-buku braile sudah semakin luas. Mulai dari panti yang mengurusi difabel, yayasan, sekolah luar biasa (SLB), perpustakaan, bahkan perseorangan juga mulai dikirim. Sesuai dengan amanat undang-undang Nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas, setiap lembaga diwajibkan memfasilitasi aksesibilitas untuk difabel Netra dalam bidang literasi. BLBI telah menempatkan pojok braille di banyak tempat, sebagai salah satu sarana pemenuhan hak literasi bagi difabel Netra.

“Sekarang sudah ada sekitar 90 perpustakaan di Indonesia yang meminta buku-buku braille dan sudah ditangani, menyusul dalam antrian daftar tunggu masih tahap proses,” tutur Ema.

Disinggung Ema, terkait minat baca dari kalangan difabel Netra tentu tidak dapat diprediksi secara lugas. Pada dasarnya, minat baca mereka sama dengan masyarakat lainnya secara umum. Namun, dapat dilihat dari bertambahnya permintaan buku braille, buku bicara, serta pembuatan ruang pojok braille, dapat menandakan adanya peningkatan kesadaran serta kebutuhan akses literasi bagi para difabel Netra di tanah air.

Pemenuhan hak mengakses literasi bagi masyarakat difabel Netra terus dikembangkan dan diupayakan oleh pihak Abiyoso sebagai lembaga penerbitan dan pencetak buku-buku braille, dibawah naungan kementerian sosial. Meski secara proses, mencetak buku braille butuh waktu dan ketelitian yang jeli, pihak Abiyoso terus menerbitkan sesuai kebutuhan publik.

“Untuk kota Bandung, pojok braille yang sangat dikenali masyarakat yang ada di Museum Asia Afrika atau perpustakaan daerah di kawasan Soekarno-Hatta Bandung. Sementara untuk luar daerah sudah ada permintaan di Kalimantan, Palembang, Malang, Yogyakarta, Bali, dan lainnya,” Ema menambahkan.

Menyadari adanya pergeseran pola dan minat baca masyarakat yang mulai beralih kepada teknologi digital, mewakili pikah Abiyoso, Ema menegaskan, buku-buku braille masih akan tetap eksis dan ada, sebagai sumber bacaan utama untuk para difabel Netra. Literasi berbasis braille tidak akan memudar seiring dengan perkembangan arus infomasi yang cepat dan perubahan teknologi  digital sekalipun.

Mengapa demikian?

Untuk materi bidang ilmu pengetahuan tertentu yang dicetak dalam buku-buku braille dipastikan akan tetap diperlukan oleh para difabel Netra. Khususnya pada buku-buku yang memang membutuhkan pembacaan dengan berulang, akan lebih mudah melalui buku braille secara fisik dengan teknik indra raba pada jari pembacanya.

Meski tidak dipungkiri membaca menggunakan teknologi digital lebih praktis dan ringan daripada buku braille secara fisiknya, namun untuk bacaan berulang dalam bentuk digital masih sangat tergantung kepada alat dan jaringan yang digunakan. Seperti pada android serta sinyal kuota yang digunakannya.

Artinya, buku braille secara fisik tetap lebih nyaman digunakan untuk bacaan berulang. Misalnya; materi buku-buku pelajaran dan lainnya. Dengan demikian, keberadaan buku braille akan tetap ada untuk memfasilitasi literasi para difabel Netra di tanah air.

Bertambahnya terus permintaan produksi buku-buku braille melalui lembaga Abiyoso, mendorong peningkatan minat baca dan pengembangan pergerakan pada budaya literasi di Indonesia dikalangan masyarakat difabel Netra. Kondisi ini tentu beririsan dengan peningkatan sumber daya manusia – SDM dari para difabel Netra yang semakin mudah mengakses informasi, ilmu pengetahuan serta materi-materi pelajaran. Menumbuhkan minat baca pada difabel Netra dengan pemenuhan aksesibilitasnya, akan menumbuhkan kecerdasan, tingkat wawasan yang luas, dan kemandirian dalam sistem baca tulis.

Selama masyarakat difabel Netra haus akan bidang literasi dan membutuhkan sumber bacaan, buku-buku braille akan tetap diproduksi. Meski secara pendanaan membutuhkan biaya yang tidak sedikit serta proses yang panjang dalam pencetakannya, untuk memenuhi hak masyarakat difabel Netra literasi braille akan tetap digaungkan.

 

 Reporter: Srikandi Syamsi

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.