Lompat ke isi utama
Salah satu pertunjukkan tari di Konser Inklusi

Merayakan HDI dengan Konser Inklusi

Solider.id, Semarang- Memperingati Hari Disabilitas Internasional, Komunitas Sahabat Difabel Semarang bersama Roemah Difabel kembali menggelar Konser Inklusi ke Tiga pada penghujung tahun 2019. Konser Inklusi kali ini merupakan hasil kerjasama antara Anne Avantie Foundation dan Himpunan Mahasiswa Peduli Sosial FISIP Universitas Diponegoro, Semarang.

Konser Inklusi bertajuk Satu Hati, Satu Cinta Untuk Indonesia melibatkan difabel dan semua kalangan masyarakat di dalam pertunjukkan. Mulai dari sastrawan, komunitas kebudayaan, sekolah reguler dan SLB, sanggar seni dan musisi, serta beberapa tokoh religi di acara yang digelar pada 7 Desember 2019 di Gedung Teater Liem Liang Peng milik Sekolah Karangturi, bertempat di Jalan Padma Boulevard Selatan Blok F, Komplek Perumahan Graha Padma, Semarang.

Selain menampilkan beberapa pertunjukan seni, Konser Inklusi ke tiga tahun ini menampilkan operet tentang negeri Inklusi yang bertema Bhinneka Tunggal Ika. Konsep ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya demi upaya penghapusan stigma yang masih ada di masyarakat.

Mengangkat kisah tradisional Jawa, kisah ini melakonkan cerita khas Nusantara yang banyak mengandung nilai-nilai persatuan, toleransi, dan ketulusan. Dalam operet dikisahkan tentang petualangan seorang anak muda, bersama Ibu dan abdinya. Adalah Ande-Ande Lumut, yang melakukan perjalanan dari Aceh hingga Papua.

Sepanjang perjalanan mereka banyak menemukan perselisihan antar suku dan agama. Pertikaian terjadi dimana-mana, hingga hilangnya rasa persaudaraan. Keprihatian tumbuh dari hatinya sebagai pemuda yang ingin menyelamatkan Nusantara. Ande tahu, Pertiwi punya Bhinneka Tunggal Ika yang mampu menyatukan segala perbedaan dan meredam segala pertikaian.

Kisah yang digarap lewat sentuhan kreatifitas Butet Ruth Hana Restauli Manik, STP dengan art director Sebastian Arman Tristiono ini berisi pesan moral yang diharap menyentuh hati para penikmat operet.

Hal ini disampaikan oleh Anna Okta (cerebral palsy), pengguna kursi roda yang kesehariannya dipercaya mengelola fanspage dan instagram milik Roemah Difabel dan KSD ini mengatakan harapannya. “Saya berharap Konser Inklusi bisa membuka mata publik bahwa difabel ada di sekitar mereka. Tidak untuk dilihat dari segi yang ‘hanya merepotkan’, tapi lihat kami dari sisi positif yang ada pada diri kami,” kata Anna (07/12/2019).

Anna berharap Konser Inklusi ke tiga ini semakin banyak kesempatan dan ruang yang diberikan.  Sehingga tercapai kesetaraan dan difabel diterima sebagai bagian dari keberagaman.

Sebagaimana disampaikan oleh Aldianza Fatria, Humas Konser Inklusi 2019. Konser Inklusi ke tiga tahun 2019 sebagai media bagi sahabat difabel untuk melawan stigma. Konser ini memberi ruang untuk mencipta kreativitas dan apresiasi, serta menjadi ajang silaturahmi para peserta yang tampil dengan para penikmat yang hadir. “Difabel maupun non difabel. Dari Semarang maupun dari luar kota Semarang,” ujarnya.

Aryo Resnadi, paraplegi yang aktif menjadi anggota KSD sejak awal mula dibentuk ikut memberi pernyataan. Adanya Konser Inklusi menurutnya, sebuah pembuktian difabel mampu ketika diberikan wadah dan kesempatan.

“Sehingga bisa menginspirasi semua orang. Menginspirasi fasilitas publik juga untuk ramah difabel. Kita lihat acara ini memberikan penghargaan kepada sembilan tempat publik yang ramah difabel. Semoga makin banyak fasum dan kantor pemerintah yang ramah dan akses bagi difabel,” lanjut Aryo.

Dari Konser Inklusi ke tiga diharap mampu mengubah cara pandang masyarakat awam maupun para pengampu kebijakan yang hadir untuk bisa memetik pembelajaran. Hingga melahirkan kesadaran bahwa dengan adanya perbedaan dan keberagaman, nilai-nilai kemanusiaan tak bisa ditinggalkan.[]

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.