Lompat ke isi utama
salah satu karya Didon

Didon Kajeng, Berkarya Bersama Kostra

Solider.id, Denpasar - Babak baru kehidupannya sebagai difabel netra dimulai dari pertemuannya dengan para difabel netra di sebuah yayasan yang ada di pusat kota Denpasar.  Didon, begitu ia akrab dipanggil oleh orang sekitarnya, mengalami hambatan penglihatan saat ia dewasa. Ia kehilangan penglihatannya sejak tahun 2016 karena suatu penyakit, namun kehilangan penglihatannya tidak serta merta meredupkan semangatnya dalam berkarya.

Seni telah mendarah daging dalam dirinya. Kegelapan sekalipun tak mampu pancung kreatifitasnya dalam berkarya. “mata boleh buta, tapi pikiran tidak!” (20-12-2019) ungkap laki-laki kelahiran Negara itu.

Sejak menjadi difabel netra, (2016) seluruh kenyamanan yang ia nikmati sewaktu melihat pun raib ditelan gelap. “sempat putus asa, tapi Tuhan baik menuntun saya pada jalan yang terbaik” jelasnya. Ia pun mulai mengepakkan sayap seninya lagi di tengah dunia gelap sebagai netra.

berawal dari rasa penasaran teman netranya yang ingin bisa menggambar. Ia meerasa rindu menggambar seperti sewaktu ia masih bisa melihat dulu. Lalu Didon terketuk hatinya ingin mengobati kerinduan temannya itu. “awalnya terdengar mustahil, bagaimana difabel netra bisa menggambar?” tuturnya dengan sedikit tertawa geli. “pertamanya saya ragu, tapi saya tidak ingin mengecewakannya dan ingin mewujudkan keinginannya itu. Kemudian saya menghubungi teman-teman saya yang berprofesi sebagai pelukis dulu.” Lanjutnya.

Setelah mengobati rasa penasaran temannya itu, dan hasilnya pun mendekati sempurna seperti gambaran orang yang melihat, terbesit lagi dalam benaknya menciptakan karya sastra. Hal tersebut karena ia bertemu dengan beberapa teman netra lainnya yang senang menulis puisi maupun cerpen.

“saya membaca puisi mereka dan bagus-bagus. Lalu pikir saya kenapa tidak digabungkan dan dijadikan buku.” Terang Didon menceritakan awal mula komunitasnya terbentuk yang diberi nama Komunitas Teratai (Kostra).

Akhirnya karya pertama dari komunitas Teratai ini dalam bentuk sastra puisi dari enam orang difabel netra yang dikumpulkan oleh Didon Kajeng terbit menjadi buku antalogi puisi dengan judul “Sajak-Sajak Malam” pada bulan Juni 2016. Komunitas Teratai ini berdiri pada tanggal 8 Februari 2016 dan telah terdaftar resmi di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Dipilihnya kata teratai untuk komunitas ini memiliki makna seperti bunga teratai yang indah dan tumbuh subur di dalam lumpur, seperti itulah halnya yang diharapkan oleh para difabel netra dalam komunitas ini walaupun hidup dalam keterbatasan tapi mereka dapat berkarya serta berkreatifitas sehingga menjadi individu yang berkualitas.

Dalam perjalanannya selama tiga tahun ini (2016-2019) tak sedikit prestasi yang telah diukir oleh komunitas Teratai ini, diantaranya juara 3 musikalisasi puisi (2016), pentas baca puisi dalam rangka Hari Puisi Nasional (2016), pentas paduan suara OD Agustus (2016), launching buku puisi “Sajak-Sajak Malam” (2016), pentas drama “Pinangan” karya Anton Chekov (2017), pentas musik akustik di Taman Budaya (2017), pentas “Pinangan” di beberapa tempat yakni di Bantara Budaya arahan Didon Kajeng (2017), di Bali Mandara Mahalango (2018) dan ISI Denpasar arahan Abu Bakar (2019), launching buku antalogi cerpen “Bianglala” (2018), dramatic reading cerpen “Rumah Makan” karya Putu Fajar Arcana di Bantara Budaya Bali (2018) dan pembacaan puisi karya Kambali Zutas di Bantara Budaya Bali (2019).

Tepat tanggal 20 Desember 2019 Kostra mendapat penghargaan dari Dinas Kebudayaan sebagai salah satu komunitas seni yang aktif dan produktif. “kami ingin membuktikan bahwa keterbatasan kami bukan penghalang! Kami hanya butuh dipercayai dan diberi kesempatan untuk berkarya.”komentarnya tentang pendapat masyarakat terhadap kaum difabel usai menerima penghargaan di Art Center Denpasar.

Didon Kajeng sendiri sebelum menjadi seorang difabel netra merupakan seorang seniman. Menyanyi, teater, penyiar TV lokal sastrawan, dan seorang floral designer adalah aktifitas yang dilakoninya dulu sebelum menjadi difabel netra.

Kini, setelah kehilangan penglihatannya, ia tetap menjalani aktifitasnya sebagai seniman seperti dulu. Baginya tidak ada penghalang jika ada kemauan. “perbedaannya hanya pada orientasi dan mobilitas saja. Kalau dulu sewaktu melihat gampang, tapi sekarang setelah tidak melihat harus banyak memainkan strategi untuk menyiasati hambatan itu. Tapi bukan berarti tidak bisa! yang penting ada kemauan dan cara mencapainya bagaimana.” Ujar seniman berdarah Singaraja itu.

Meski kini telah kehilangan penglihatannya, Didon Kajeng masih menjalani profesinya sebagai floral designer. Yang mana profesi ini notabennya membutuhkan penglihatan untuk mengerjakannya. Namun berbekal pengalaman visualnya yang dulu, iya mampu mengerjakannya dengan baik. Hasil dari rangkaian bunganya tersebut kemudian dijual ke beberapa tempat seperti hotel, vila serta event tertentu. Ia juga masih mengikuti perlombaan floral designer.

Pada bulan September 2019 lalu Didon Kajeng menerbitkan buku tentang design flora karyanya sendiri yang berjudul “Bali Bloom” dan telah laku terjual. Selain itu ia juga sering diminta untuk menjadi instruktur merangkai bunga bagi orang umum maupun difabel seperti difabel daksa, Tuli dan netra katagori low vision. Ia juga dilibatkan dalam tim pengolahan pasca panen oleh Dinas Pertanian kota Denpasar.

“seni itu sangat luhur dan sederhana. Ia tidak terbatas ataupun lenyap oleh keterbatasan!” ungkapnya. “teruslah berkarya dan berkreatifitas, karena dengan itu kita difabel dapat dipandang dan dikenang!” lanjutnya menutup wawancara dengan Solider.

 

Reporter: Ayu Wandari

Editor     : Ajiwan Arief  

The subscriber's email address.