Lompat ke isi utama

Economic Model, Pendekatan Alternatif Difabel dalam Memandang Dunia

Solider.id Malang - Ketika membicarakan mengenai isu difabilitas, kita mungkin telah sering mendengar penggunaan istilah medical model dan social model dalam menyikapi permasalahan isu difabel di masyarakat. Medical model yang lahir dari landasan bahwa kelompok difabel adalah objek masalah, sehingga kemudian diperlukan perubahan dalam diri difabel untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan kini sedikit demi sedikit coba diganti dengan pendekatan social model, dimana melihat sumber permasalahan bukan terletak pada difabel, melainkan lingkunganlah yang harus mengakomodasi kebutuhan difabel tersebut. Teori model sosial atau social model secara konsensus dapat dikatakan telah menjadi patokan utama dalam usaha memberikan pemenuhan dan pelindungan hak difabel di seluruh dunia. Pendekatan alternatif dari model sosial ini juga ada banyak, salah satunya adalah pendekatan economic model terhadap isu difabilitas.  

Konsep economic model atau model ekonomi dalam difabilitas pertama kali dipopulerkan oleh Travebility, sebuah organisasi advokasi industri pariwisata yang inklusif dan dapat diakses difabel. Secara singkat dan lugas, Travibility menilai bahwa pendekatan untuk mengakomodasi hak difabel diubah ke pendekatan permintaan difabel atas produk dan layanan yang dapat diakses oleh difabel tersebut.

 Travability menyuarakan agar kita mulai melihat Kelompok difabel sebagai entitas dalam pasar sekaligus target pengguna atau consumer yang masif, sehingga selanjutnya mau tak mau pemerintah maupun perusahaan perlu memberikan respon terhadap kebutuhan difabel melalui produk dan layanan yang aksesibel bagi mereka. Atau bisa dikatakan juga, perspektif model ekonomi dalam difabilitas ini mencoba melihat kelompok difabel via kacamata pasar. Bahwa sebenarnya, kelompok difabel pada hakikatnya hanyalah satu dari sekian variabel pasar yang harus diakomodasi permintaannya secara sama dan setara tanpa adanya pengecualian.

Pandangan economic model ini menggeser pendekatan difabel yang semulanya terkonsentrasi pada aspek keadilan sosial, menjadi pendekatan yang berbasis pada prinsip supply dan demand pasar.

 Sehingga praktisnya, ketika kebutuhan pasar difabel ini tidak difasilitasi oleh pelaku pasar, maka hilanglah satu lagi pangsa pasar potensial bagi pelaku industri maupun usaha. Secara bersamaan juga, apabila pelaku usaha dan industri dapat menciptakan produk serta layanan yang memenuhi standarisasi difabel, otomatis hal ini akan berdampak positif terhadap terbukanya ceruk ekonomi baru bagi para pelaku industri dalam pasar, sekaligus meningkatkan omset penjualan mereka.

 Sejalan dengan itu juga, membiarkan sepenuhnya keleluasaan jatuh pada mekanisme pasar juga akan lebih meningkatkan proses pemenuhan hak difabel secara bertahap, khususnya dalam sektor produk dan layanan yang aksesibel. Sedikit demi sedikit, sektor industri seperti industri perhotelan, tempat wisata, instansi pemerintah, perbankan, usaha kreatif, pusat perbelanjaan, bahkan sampai layanan start up akan mulai melihat potensi menjanjikan dari pasar difabel. Karenanya, cepat atau lambat kemudian, prospek ini akan menjadi ajang bagi pelaku industri untuk berlomba-lomba menciptakan inovasi produk dan layanan yang inklusif bagi difabel. Tujuannya untuk apa? Tentunya untuk mengeruk keuntungan maksimal dari difabel dan komoditas yang dibawa oleh difabel tersebut ke dalam pasar.

 Meskipun tindakan melabeli kelompok difabel sebagai sebuah komoditas tidak ubahnya seperti memposisikan difabel tidak lebih seperti alat transaksional, strategi ini menjadi skema yang paling realistis dalam menciptakan kondisi Win-Win Solution bagi kedua belah pihak. Kelompok difabel sudah pasti akan terbantu dari semakin beragamnya jenis produk dan layanan yang kini dapat diakses tanpa kesulitan. Sedangkan pada spektrum yang berbeda, pelaku pasar juga akan terus berusaha berinovasi dengan produk dan layanan yang dimiliki untuk dapat menyajikan pengalaman terbaik bagi pelanggan, dan mengharap keuntungan dalam prosesnya.

Selain itu, secara teoritis, pendekatan model ekonomi ini akan sedikit dapat melengkapi celah-celah substansial yang sekiranya masih problematis pada rezim model sosial. Seperti yang telah diketahui, model sosial selalu menekankan fokus aksi pada keharusan lingkungan untuk beradaptasi pada kebutuhan dari difabel, bukan pada keinginan lingkungan beradaptasi pada kondisi difabel. Dua aspek ini sebetulnya memiliki implikasi yang cukup berbeda di lapangan. Sering kali, gagasan model sosial yang mengharuskan lingkungan tersebut akomodatif terhadap kebutuhan difabel malah pada banyak kesempatan, kerap berujung pada tindakan yang terkesan bersifat pemaksaan atas nama kemanusian dan sosial. Model sosial selalu menekankan pembangunan fasilitas yang inklusif bagi semua pihak tanpa kemudian memikirkan konsekuensi langkah tersebut secara prosedural, tekhnis, maupun secara motavasional. Situasi ini nantinya juga berimplikasi pada permasalahan-permasalahan yang mungkin dihadapi pihak implementator dalam melaksanakan konsep ini di lapangan. Terlebih lagi, justifikasi yang diberikan perspektif model sosial bagi pihak-pihak implementator juga hanya berlandaskan pada kewajiban secara sosial, tidak lebih dan tidak kurang. Pertanyaannya sekarang, apakah kesadaran sosial masyarakat tersebut saja cukup untuk menjadi motor penggerak bagi mereka secara sepenuhnya? Tentunya tidak selalu.

Model ekonomi pada sisi yang berbeda akan memberikan pendekatan yang lebih oportunistik. Pembangunan yang berbasis pada nilai inklusivitas akan sangat mungkin terealisasi apabila adanya insentif dan faktor ekonomi di dalamnya. Mari kita mulai lihat ekosistem lingkungan masyarakat ini sebagai sebuah sistem pasar, dengan difabel sebagai konsumen di dalam pasar tersebut. Tidak akan ada lagi pelaku implementator yang berusaha memenuhi kebutuhan difabel karena terpaksa, melainkan sebaliknya, sistem akan berupaya menyediakan keinginan dari difabel karena itulah yang pasar inginkan. Apabila pasar terindikasi membutuhkan produk dan layanan yang pro difabel, maka hal tersebutlah yang akan dipenuhi oleh pasar sesuai dengan permintaan mayoritas. Motivasi pemenuhan hak difabel, terutama pada ruang lingkup hak akomodasi difabel akan terjustifikasi melalui mekanisme Supply dan Demand. Dimana variabel demand  bersumber dari difabel, dan variabel supply datang dari pelaku industri, pelaku usaha, pemerintah, maupun masyarakat.

Konsep seperti ini tentu telah menggeser paradigma awal yang menitikberatkan aspek pemenuhan hak difabel, dari yang semula bertumpu pada aksi sosial menjadi aksi ekonomi yang bersifat market oriented. Tapi meskipun begitu, adanya perspektif model ekonomi bagi difabilitas ini jangan juga dijadikan sebagai ajang tandingan bagi model-model difabel lainnya. Dalam proses kita memandang isu difabilitas di masyarakat, sesungguhnya tidak ada sudut pandang yang benar atau salah, superior atau inferior. Yang ada adalah berbagai jenis pendekatan-pendekatan dalam difabel dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tinggal kembali kepada kita, para difabel untuk cerdas menentukan model pendekatan mana yang dipilih, untuk kemudian dijadikan pegangan dalam melakukan langkah serta target advokasi hak difabel dalam masyarakat secara kongkret.  

 

Penulis: Made Wikandana

Editor :   Ajiwan Arief

The subscriber's email address.