Lompat ke isi utama
Isti Anindya, Sosok perempuan tangguh survivor CMV dan Rubella.

Isti Anindya, Perempuan Tangguh Survivor CMV dan Rubella

Solider.id, Bandung - Siapa bilang perempuan adalah makhluk lemah? Paradigma sesat, yang selama ini tumbuh dan mengakar di tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Isti Anindya, adalah sosok perempuan yang membongkar paradigma itu. Ia sama sekali bukan perempuan lemah, ia tangguh dan mampu menghadirkan perubahan. Survivor Cytomegalovirus (CMV) dan Rubella, serta ibu dari dua orang anak ini mendirikan komunitas sosio-edukasi “Peduli TORCH”. Pengalaman hidupnya sebagai seorang survivor CMV dan Rubella menguatkan tekadnya mengedukasi perempuan lain.

Komunitas Peduli TORCH ia dirikan sebagai wadah untuk berbagi informasi dan mengedukasi masyarakat tentang bahaya virus TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus yang terdiri dari HSV 1 dan HSV 2 serta kemungkinan oleh virus lain (Other virus) yang dampak klinisnya lebih terbatas (misalnya Measles, Varicella, Echovirus, Mumps, virus Vaccinia, virus Polio dan virus Coxsackie-B). Bagaimana perjuangan Isti Anindya sebagai seorang survivor CMV dan Rubella, serta upayanya dalam mengedukasi masyarakat melalui komunitas Peduli TORCH?

Divonis Mengidap CMV dan Rubella

Isti mengisahkan, mulanya pada tahun 2006 ketika ia duduk di bangku SMA sering mengalami sakit kepala tak tertahankan, ia pun bahkan tak mampu mengerjakan ujiannya. Hal ini terus berlanjut hingga ke jenjang kuliah, dan membuat IPK nya turun drastis karena ia tak dapat menggerakkan tangannya ketika mengikuti ujian. Ia kemudian memeriksakan diri ke dokter saraf di RSUP Dr. Sardjito, dan selanjutnya melakukan pemeriksaan TORCH. Hasilnya, ia positif CMV.

“Keluhannya sakit kepala yang tidak tertahankan, ke sananya didiagnosa vertigo sama spasmofili” ujarnya kepada Solider.id (27/12).

Tujuh tahun berselang, pada tahun 2015 ia divonis terinfeksi Rubella. Hal tersebut diketahuinya pada kehamilan anak ke dua dan ke tiganya. Dampaknya, ia mengalami keguguran untuk dua kehamilannya tersebut. Sedangkan anak pertamanya mengalami spektrum autism, dan anak yang kedua kini berusia 1 tahun, dalam kondisi baik-baik saja..

Berjuang melawan CMV dan Rubella

Saat kecil, Isti mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Hanya saja vaksin Measles dan Rubella (MR) pada masa itu belum ada.

“TORCH kan belum ada vaksinnya, kecuali R untuk Rubella. Zaman saya kecil, saya mendapatkan imunisasi lengkap, hanya Rubella belum ada vaksinnya. Sedangkan CMV hingga kini vaksinnya belum ditemukan di dunia, mbak” ujar perempuan yang juga merupakan penulis dari novel berjudul “Tak Sekadar Jalan” ini.

Berbagai pengobatan ia jalani, mulai dari pengobatan medis dengan per oral resep dokter yang sangat mahal harganya, yakni Rp. 60 Juta untuk satu kali treatment melalui intravena, dengan masa perawatan selama 2 minggu opname di rumah sakit, hingga beraneka pengobatan alternatif berupa ramuan herbal pun ia lakoni untuk berjuang melawan virus CMV dan Rubella di tubuhnya.

“Dari keilmuan yang saya baca, obat-obat itu tidak bisa menyembuhkan, hanya bisa mengendalikan virus dengan peluang 50:50” imbuhnya.

Mahalnya biaya pengobatan medis yang harus ia jalani, serta pengobatan herbal yang juga ia lakoni, tak kunjung memberinya kesembuhan, sehingga membuatnya beralih pada metode lain, yakni meningkatkan kualitas hidupnya. Ia kini lebih memilih untuk menjaga sistem imun dan psikisnya dengan mengonsumsi vitamin, mineral, dan suplementasi imun.

Komunitas Peduli TORCH

Beranjak dari pengalamannya sebagai seorang survivor penyintas CMV dan Rubella, Isti bersama tiga rekannya mendirikan sebuah komunitas bernama Peduli TORCH. Komunitas yang didirikan pada tahun 2009 ini bertujuan sebagai wadah untuk berbagi informasi dan mengedukasi masyarakat tentang bahaya virus TORCH.

 Komunitas berbasis relawan ini tidak beranggotakan mayoritas penyintas. Ia menyebut mereka sebagai Individu Positif TORCH (IPT). Sesuai dengan misinya yakni mengedukasi masyarakat, Isti beserta komunitasnya melakukan kampanye melalui pembuatan film pendek dan film panjang yang ia bagikan secara gratis melalui media YouTube, sebagian ia buat ke dalam bentuk DVD untuk merchandise bagi siapapun yang ingin berdonasi.

Tak hanya film, Isti pun menuliskan kisahnya melalui sebuah novel berjudul “Tak Sekadar Jalan” yang mengisahkan perjuangannya sebagai seorang survivor yang telah bertahan selama belasan tahun. Selain itu, Isti pun mengunggah kisahnya secara cuma-cuma melalui aplikasi Wattpad.

“Semua hal tersebut saya kerjakan dibantu oleh tim kreatif yang dibayar 0 rupiah. Semuanya berbasis sukarela. Intinya berusaha mengedukasi dari cara tersimpel” jelasnya.

Tak cukup sampai di situ, Isti bersama komunitas Peduli TORCH pun sering melakukan edukasi melalui penyuluhan ke berbagai lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat di desa-desa hingga para klinisi di Indonesia.

“Kita mengadakan penyuluhan tentang TORCH dan bahayanya virus tersebut dari hal termudah yang mereka pahami lah” papar perempuan yang juga berprofesi sebagai seorang dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) di Jakarta ini.

TORCH dan Vaksin

TORCH merupakan akronim dari sekumpulan infeksi yang memiliki gejala dan patologi klinis yang sama, yakni Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herves Simplex Virus (HSV).

Melansir data penelitian dari WHO tentang prevalensi TORCH pada ibu hamil, setiap negara memiliki potensi terinfeksi TORCH 10-90%. Dimana 8-50% ibu hamil di Asia Selatan dinyatakan positif TORCH, dan lebih dari 10% nya melahirkan anak dengan disabilitas bawaan. Sementara itu 77-90% ibu hamil di Amerika Selatan melahirkan anak yang mengalami gangguan pendengaran.

Di Indonesia, informasi terkait bahaya infeksi TORCH masih sangat terbatas, pemeriksaan TORCH pun masih sebatas sebuah saran pada individu yang akan menikah, dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI saat ini tengah mengampanyekan kesadaran terhadap bahaya Rubella, yang merupakan salah satu jenis virus dari akronim TORCH tersebut.

Hingga kini dari kumpulan virus dengan akronim TORCH tersebut, baru satu yang ditemukan vaksinnya, yakni vaksin MMR atau kekinian dikenal sebagai vaksin MR untuk Rubella.

Rubella dan Dampaknya

Rubella merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya ruam (bintik merah) di kulit dan pembesaran kelenjar getah bening, baik dengan demam ataupun tanpa demam. Penyakit yang popular dengan nama campak Jerman ini memiliki ciri yang khas pada anak-anak berusia di bawah 14 tahun. Sedangkan pada usia di atasnya, penyakit ini secara umum tidak menunjukkan gejala bercak kemerahan dan cenderung tanpa gejala.

Namun, virus ini akan menjadi sangat berbahaya jika menginfeksi pada ibu hamil, terutama pada trimester awal kehamilan, karena dapat mengakibatkan janin yang dilahirkan mengalami Congenital Rubella Syndrome (CRS), diantaranya retardasi mental, penyakit jantung bawaan, gangguan pendengaran, dan gangguan penglihatan.

Pentingnya Imunisasi MR

Rubella menyebar secara luas di Indonesia dengan penyebaran >90% pada usia kurang dari 18 tahun. Hingga kini penyakit Rubella belum ada obatnya, sehingga upaya pencegahan melalui pemberian vaksin MR menjadi sebuah solusi yang sangat penting untuk dilakukan.

Ratna Hapsari, Kasubdit Imunisasi Kemenkes RI menjelaskan jika kelainan bawaan (CRS) ini sudah terjadi, maka tidak dapat disembuhkan melalui pengobatan tercanggih sekalipun saat ini. Selain meningkatkan kualitas hidup dari  penyintasnya. Oleh karenanya, Kemenkes RI melakukan upaya pencegahan melalui intervensi pemberian imunisasi MR.

“Untuk pengendalian Rubella, kita melakukan imunisasi lewat vaksin Measles dan Rubella (MR)” ujar Ratna pada Solider.id (27/12).

Lebih lanjut, Ratna menjelaskan bahwa pemberian imunisasi MR ini diberikan secara berkala, yakni imunisasi rutin pada usia 9 bulan dan 18 bulan untuk dosis perlindungan, serta usia kelas 1 sekolah dasar untuk dosis booster sebagai perlindungan seumur hidup.

Senada dengan Ratna, Isti Anindya pun menyampaikan bahwa orang tua seyogyanya bijak dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi buah hatinya. Hal ini penting dilakukan, mengingat setiap anak memiliki hak untuk hidup sehat.

Menurutnya, vaksinasi itu bukan perkara kamu dan saya saja, tetapi perkara keselamatan banyak orang. Vaksin diciptakan untuk menjaga kekebalan komunitas, bukan kekebalan diri sendiri. Satu individu yang tidak divaksin dapat menjadi sebab celakanya individu yang lain. Oleh karenanya, mari kita ajarkan anak kita sedari bayi, bahwa menjadi pahlawan itu mudah. Tidak perlu mampu melenyapkan kejahatan, cukup menjadi bagian yang berperan dalam memusnahkan kejahatan dalam hal ini penyakit-penyakit infeksi.

“Jangan hanya karena anak anda tidak sakit tanpa vaksin, lalu anda merasa tidak perlu vaksin. Karena keputusan anda itu dapat membahayakan nyawa anak-anak yang lain. Bijaksanalah!” Pesan Isti, menutup wawancara dengan Solider.id.

 

Wartawan: Maya

Editor       : Ajiwan Arief  

The subscriber's email address.