Lompat ke isi utama
difabel netra melukis

Komunitas Teratai, Wadah Difabel Netra Berlatih Melukis di Bali

Solider.id, Denpasar - Kreatifitas tanpa batas, mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan semangat berkarya teman-teman difabel netra yang menamai kelompoknya dengan komunitas teratai. Komunitas teratai sendiri ialah sebuah komunitas yang dibentuk oleh teman-teman difabel netra yang memiliki kegemaran dalam bidang seni. Seluruh anggota dari komunitas teratai atau lebih dikenal dengan Kostra adalah tunanetra dan mayoritas masih berusia muda. Mereka   bersama-sama berjuang untuk mengubah cara pandang masyarakat umum kepada para difabel khususnya difabel netra, Salah satu caranya ialah melalui kreatifitas seni lukis. “Sepintas lalu mungkin banyak orang yang bertanya bagaimana seorang netra  dapat melukis, padahal mereka punya hambatan penglihatan. Namun kami punya tekat bahwa tak ada yang bisa membatasi kreatifitas selama ada kemauan dan usaha yang keras didalamnya” ujar ketua komunitas teratai (Kostra) yang bernama Didon Kajeng.

Kegiatan melukis komunitas teratai ini telah di langsungkan kurang lebih hampir setahun terakhir. Kegiatan biasanya  dilaksanakan seminggu sekali dengan bimbingan seorang pelatih yang memiliki keahlian dalam bidang seni lukis yang bernama pande. “Awalnya saya sendiri saat diminta melatih teman-teman netra untuk mengajari mereka melukis saya sangat bingung karena sebelumnya saya sendiri belum pernah  mengajar teman-teman difabel apalagi difabel netra untuk melukis, tapi melihat tekat dan kemauan dari mereka yang sangat kuat akhirnya saya tertarik juga dengan mereka dan ternyata setelah saya melakukan pendekatan dengan mareka hasilnya sangat baik” ungkap pande disela-sela kegiatan lukis.

 Didon kajeng sebagai ketua dari komunitas teratai mengungkapkan dijalankannya program pelatihan melukis ini ialah dilatar belakangi oleh keinginan teman-teman difabel netranya sendiri yang mempunyai hobi dalam bidang menggambar “kebetulan sebagian besar dari anggota kami ialah mereka yang mengalami difabel netra tidak sejak lahir. Sebelumnya saat mereka masih mampu melihat mempunyai hobi menggambar, dan setelah jadi difabel, mereka sempat merasa putus asa karena tidak dapat mengasah kegemaran mareka kembali termasuk saya sendiri yang dulunya bisa melihat dan saya bekerja sebagai design dekorasi sejak pertama menjadi tunanetra saya sempat depresi namun saya tidak butuh waktu lama untuk dapat bangkit kembali setelah bertemu teman-teman tunanetra yang kisahnya mungkin tidak jauh dengan saya tapi mereka pada akhirnya juga bisa bangkit kembali”. Kegiatan melukis ini memang di khususkan bagi mereka yang mempunyai ketertarikan dalam bidang seni lukis jadi tidak untuk diwajibkan diikuti seluruh anggota sebab komunitas teratai selain kegiatan melukis juga bergerak dibidang kepenulisan karya sastra seperti puisi dan cerpen juga musik jadi tiap anggota dibebaskan untuk mengasah hobinya masing-masing.

“Untuk mengajarnya sendiri pertama saya memperkenalkan alat-alat yang digunakan untuk melukis terlebih dahulu dan kemudian pelan-pelan saya mulai memberikan dasar-dasar cara melukis. Perbedaannya saat saya mengajar teman-teman difabel netra ialah saya harus benar-benar detail saat menerangkan sambil mempraktekannya pada mereka secara satu persatu, jadi tidak seperti teman-teman pada umumnya yang saya biasanya hanya mencontohkan secara visual. Maka karena itu saya membutuhkan waktu yang juga tidak sebentar untuk melatih teman-teman difabel netra tapi lama-kelamaan mereka kini sudah mengalami kepekaan yang lebih tajam. Salah satu contoh lagi biasanya teman-teman tunanetra untuk membuat sebuah gambar bisa membuat sketsa gambarnya terlebih dahulu agar nantinya terbentuk sebuah konsep didalam kerangka imajinasi mereka dan itu biasanya lebih memudahkan” ungkap pelatih pande kembali.

Kegiatan melukis ini sendiri biasanya dilaksanakan setiap hari selasa atau rabu sore bertempat di skretariat komunitas teratai yang beralamat di jalan pulau rembulan di kota Denpasar “Kalau sya melukis itu awalnya memang karena hobi dan memang suka menggambar tapi sejak mengalami tunanetra saya pikir saya sudah tak bisa lagi menggambar tapi setelah ada kegiatan ini saya jadi bisa kembali mengasah hobi saya, memang sangat sulit karena selain tangan saya sudah tidak terbiasa memegang pensil untuk menggambar dan terasa kaku, perlahan setelah kembali berlatih sekarang saya sudah mulai terbiasa lagi untuk menggambar meski dengan bantuan pelatih” ujar salah satu peserta  kegiatan netra melukis ini.

“Untuk difabel netra yang masih mempunyai sisa penglihatan memang lebih mudah mereka untuk menuangkan kreatifitas pada gambaran yang dibuat tapi bukan berarti yang total blind tidak bisa contohnya saya sendiri yang juga total blind dan bahkan ada dari anggota kami yang juga total blind tapi bisa menggambar dengan cukup baik sampai bisa membuat gambar yang sekarang telah dicetak untuk sebuah baju kaos dan telah di perjual belikan. Semua ini kita lakukan agar masyarakat luas juga bisa tahu bahwa kami para difabel juga bisa berkarya dan tidak mengharap belas kasihan terlebih selama ini tunanetra dimasyarakat dipandang hanya sebagai tukang pijat saja padahal masih banyak yang dapat kita lakukan untuk bekerja” tegas Didon menyuarakan semangatnya.

 

Reporter: Harisandi

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.