Lompat ke isi utama
Foto bersama Nur Syarif Ramadhan bersama ketiga petugas Bank BNI Syariah (18/12)

BNI Syariah Makassar Meminta Maaf Atas Diskriminasi Yang Dialami Nasabah Difabel

Solider.id, Jakarta - BNI Syariah Cabang Ratulangi Makassar menyampaikan permintaan maaf atas peristiwa yang dialami Nur Syarif Ramadhan (26), seorang difabel penglihatan yang menuliskan pengalaman tak menyenangkan ketika mengakses layanan digital banking pada bank tersebut melalui aplikasi Facebook pada 17 Desember 2019 lalu.

Viralnya tulisan yang ia unggah di laman Facebooknya membuat pihak BNI Syariah yang diwakili oleh Adjat Basarah (Kepala Pusat Jaringan dan Layanan BNI Syariah, Jakarta), Sahdian Nur (Kepala Operasional), dan Hidayat Tri Wahyudi (Marketing) datang mengunjungi rumahnya guna mengklarifikasi permasalahan yang dialaminya.

Syarif menuturkan bahwa kisah ini berawal saat ia kehilangan kartu ATM BNI Syariah beserta buku tabungannya ketika dalam penerbangan dari Kuala lumpur menuju Auckland di Selandia Baru. Ia menyadari hal tersebut sesampainya di Auckland, dan saat itu juga langsung melakukan pemblokiran akun bank melalui aplikasi BNI Mobile Banking yang terinstal di gawai pintarnya pada 22 Juni 2019 waktu Auckland.

Syarif baru mengurus akun bank nya sehari setelah ia kembali ke Makassar pada tanggal 16 Desember 2019. Setelah  ia membuat akun rekening yang baru, salah satu pihak bank berinisial RM menolak permohonan Syarif untuk mendapatkan layanan perbankan yang biasa ia gunakan sebelumnya.

Pasalnya, sebagai seorang difabel, pria yang akrab disapa Syarif ini tidak diperbolehkan untuk memiliki kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan mengakses layanan keuangan digital seperti Internet Banking, Short Message Service (SMS) Banking, dan Mobile Banking.

“Aturan terbaru kami tidak membolehkan seorang penyandang disabilitas untuk memiliki kartu ATM dan lain-lain. Penyandang disabilitas hanya bisa melakukan transaksi manual melalui Teller Bank” ujar Syarif menirukan ucapan RM padanya saat itu.

Syarif pun menjelaskan pada pihak bank bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mengeluarkan standardisasi layanan bagi nasabah difabel terkait layanan keuangan  inklusif. Kendati demikian, IK staf BNI Syariah lainnya tetap menolak permohonan Syarif dengan alasan kebijakan tersebut belum sampai pada mereka. Hingga akhirnya Syarif pun mengurungkan maksudnya untuk membuka akun rekening baru di hari itu karena layanan perbankan yang diskriminatif tersebut.

“BNI Syariah sebenarnya sudah memiliki standar operasional yang sebenarnya sudah mengakomodir kebutuhan nasabah difabel, namun, kadang petugas di lapangan belum paham betul tentang hal tersebut” Ujar Adjat Basyarah pada Syarif (18/12).

Lebih lanjut, Adjat pun menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada aturan BNI Syariah yang ingin membatasi difabel untuk mengakses layanan perbankan yang mereka punya. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan petugas di lapangan mengkhawatirkan keamanan dari akun rekening nasabah difabel. Pihaknya pun mengakui jika pengetahuan terhadap isu difabilitas masih sangat terbatas. Sehingga mereka pun masih perlu belajar guna meningkatkan pelayanan mereka terhadap nasabah difabelnya.

Permasalahan ini pun dapat diselesaikan dengan baik,  Syarif  akhirnya bisa memiliki akun rekening baru serta mendapatkan fasilitas layanan BNI Syariah digital yang biasa ia gunakan.

Mengakhiri perbincangan melalui aplikasi pesan WhatsApp, Syarif menghimbau kepada para penyelenggara layanan perbankan untuk berhenti berprasangka negatif terhadap difabel, dan menyarankan untuk mulai membenahi layanan perbankan yang ada agar dapat diakses oleh difabel.

“Paling penting, libatkan difabel dalam setiap sosialisasi literasi keuangan yang inklusif” pungkasnya, menutup percakapan dengan Solider.id.

 

Reporter: Maya

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.