Lompat ke isi utama
Cin sedang menatap salah satu karya seni sanggar ame-ame

Cin Rela Keluar PNS untuk Kontribusi bagi Difabel

Solider.id, Pati- Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan pekerjaan yang didambakan sebagian banyak orang. Gaji dan tunjangan yang menjanjikan ditambah ada dana pensiun disaat sudah tidak bekerja sebagai abdi Negara, menjadi magnet tersendiri bagi tiap orang yang mengincar kemapanan dan terjaminnya hidup.

Apalagi saat ini pemerintah sedang membuka rekrutmen Aparatur Sipil Negara (ASN). Banyak kalangan berbondong-bondong mendaftar agar diterima menjadi abdi negara yang penuh dengan kemakmuran.

Tapi dibalik itu semua, ada seorang yang justru meninggalkan pekerjaannya sebagai PNS untuk mengikuti hati nuraninya dengan mendirikan sanggar seni melukis untuk anak-anak difabel mental. Cindarsatio Damarhapsoro (38) namanya, ia lazim disapa Cin saja. Ia mengenyam pendidikan sarjana di dua universitas, sarjana teknik di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan sarjana psikologi di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Awal Mengenal Difabel

Di sela-sela waktu senggang saat acara sekolah gradiasi, saya mewawancarainya tentang difabilitas,  karena saat itu Cin mengikuti sekolah gradiasi selama 10 hari di Kulon Progo. Ia mengenal difabilitas saat duduk di bangku kuliah, walaupun sejak kecil ia berteman akrab dengan  difabel.

"Sejak kecil saya sudah berteman dengan teman saya yang difabel, saat itu saya belum tahu difabilitas, karena saya nyaman bermain dengan dia,” ucap Cin.

Orangtua Cin sempat melarang padanya agar tidak bermain lagi dengan temannya itu. Hingga beranjak dewasa ia mendapatkan sedikit ilmu tentang difabilitas ketika mendalami psikologi di UGM, saat itu  Cin baru mengetahui teman sejak kecilnya difabel mental.

"Saya baru mengetahui difabilitas saat kuliah psikologi di UGM, dan saya teringat teman saya saat masih kecil itu retardasi mental,” tuturnya.

Mulai Berinteraksi dengan Difabel Mental

Tahun 2009 Cin mendaftar CPNS dan ia pun lolos, saat itu ia ditempatkan di balai latihan pendidikan teknik di Yogyakarta yang menjabat sebagai instruktur. Suatu hari Cin menjadi pemateri workshop untuk anak-anak retardasi mental.

"Dari sini saya mulai tertarik untuk lebih mendalami tentang difabilitas, sebenarnya ketertarikan saya lebih cenderung ke protes dimana anak-anak difabel mental disuruh untuk belajar yang sebenarnya mereka tidak mampu dan walaupun mereka mampu akan tetapi anak-anak ini tidak akan mampu mengaplikasikannya secara nyata ke dalam masyarakat,” jelasnya

Dari ketertarikan itu, ia mengajukan mutasi untuk menjadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB). Ketika ia sudah menjadi guru di SLB, ia menemukan beberapa kejanggalan yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak-anak difabel seperti dari kurikulum pendidikannya dan proses pembelajarannya.

Saat itu ia belum mendalami tentang kedifabilitasan, untuk mengetahui lebih lanjut tentang itu lalu ia disarankan oleh dosennya untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana, akhirnya Cin mendaftar melalui beasiswa di Monash University Australia pada pendidikan inklusi dan khusus. Setelah mengeyam pendidikan di Australia, Cin merasa tidak percaya diri terhadap implementasi apa yang akan dilakukan dalam pergerakan difabel.

"Jujur saat detik-detik kepulangan dari Australia saya merasa minder karena saat proses pembelajaran, saya banyak menemukan problematika dan apakah saya mampu menyelesaikan hal tersebut pada instansi tempat bekerja saya,” kata Cin.

Mengundurkan Diri Sebagai PNS

Sepulang dari Australia, ia malah mengalami depresi karena beberapa faktor, di satu sisi ia bertanggung jawab untuk memberikan solusi karena tingkat kesulitan yang semakin tinggi sehingga ia merasa tidak mampu, di sisi lain faktor waktu yang tidak memungkinkan karena kesibukan administrasi dalam perundang-undangan yang baru semakin berat. Pada akhirnya di awal tahun 2019, Cin mengundurkan diri, dan tidak mengajar lagi di SLB.

"Setelah tidak menjadi PNS lagi, saya merasa tenang dalam arti secara tugas institusional sudah tak ada, dan depresi saya semakin berkurang dan sebenarnya bukan tentang mengajarnya karena hanya mengajar hal satu-satunya yang bisa saya nikmati waktu itu akan tetapi yang membuat saya depresi yakni karena saya memahami alur sistemnya, birokrasi dan peraturan perundang-undangannya di lingkup pendidikan secara nasional,” ucapnya.

Membentuk Sanggar Melukis

Kini Cin berwirausaha dengan renjananya (passion) berkontribusi untuk anak-anak difabel lebih leluasa tanpa ada beban institusi yang mengatur. Selain itu ia juga membentuk sanggar seni melukis untuk orang-orang yang termarginalkan. Dalam pembentukan sanggar ini, ia menggandeng teman-temannya yang mempunyai keahlian di bidangnya.

"Saya mulai memprakarsai sanggar seni melukis untuk orang-orang yang termarginalkan, anak jalanan, difabel  khusus untuk retardasi mental, dan orang yang mempunyai passion untuk melukis tetapi tidak terfasilitasi dan bakatnya tak tersalurkan, saya juga mengajak teman untuk dapat menggerakkan sanggar ini, seperti ada teman saya yang spesialis di bidang media dan komunikasi, lalu ada juga guru dan seniman,” kata Cin.

Dalam membentuk Sanggar yang di beri nama "pok ame-ame" ia merasa legowo  (lega) atas keluarnya dari PNS, pasalnya ikatan batin antara ia dan anak-anak difabel mental terjalin kembali tanpa ada tekanan dari institusi pemerintahan.

"Harapannya selain melatih menggambar, sanggar ini bisa menjadi media untuk memajang hasil karya dari adik-adik difabel ke khalayak publik, serta masyarakat dapat memberikan apresiasi dan pujian agar bisa memotivasi mereka, mungkin dengan memberikan akses pekerjaan setelah lulus sekolah atau membeli hasil karya-karya mereka,” imbuhnya.

Dari hasil penjualan tersebut sebagian besar akan diberikan pada pelukis, dan sisanya untuk sanggar agar kedepan dapat berkelanjutan. Kedepan sanggar ini akan menerapkan konsep pemandu bakat untuk para siswa di sanggar. Sanggar ini bersifat untuk memfasilitasi dan mengembalikan lagi semangat dalam melukis.

"Sebenarnya konsep sanggar ini bukan untuk mengajari tetapi untuk mengawetkan atmosfer berkaryanya saja, hal tersebut dikarenakan saya menemukan masalah saat saya menjadi guru yaitu setelah para siswa ini lulus sekolah, di rumah mereka tidak terfasilitasi untuk menggambar,” jelasnya.

Ternyata dalam mengajar di SLB dan sanggar banyak perbedaan kendala yang ia alami. "Banyak perbedaan kalau dalam sekolah beberapa diantaranya yaitu regulasi dan kurikulum yang mengganggu, dan di sana masih ada persepsi mampu dan tidak mampu, kalau di sanggar kita membebaskan mereka, ada kalanya mereka malas untuk menggambar jadi kami tidak memaksakan mereka untuk menggambar,” jelasnya.

Ikut Sekolah Gradiasi

Dalam mengikuti nalurinya untuk mewujudkan inklusifitas, ia mengikuti sekolah gradiasi yaitu sekolah dimana akan mencetak aktivis difabel untuk mewujudkan inklusifitas. Berawal informasi dari temannya, ia mendaftar sekolah gradiasi untuk lebih belajar mendalami tentang difabilitas.

"Saya merasa ini kesempatan saya untuk lebih mendalami ilmu tentang difabilitas dan membangun jejaring dengan para aktivis difabel,” kata Cin.

Dari hasil pembelajaran di sekolah gradiasi ini, ia akan menerapkan ke sanggarnya agar lebih baik lagi. "Yang saya garis bawahi pada sekolah ini ialah tentang project development, dan alhamdulillah sebelumnya saya sudah mendapatkan sedikit ilmu itu tetapi di sekolah ini saya lebih tahu tentang project development itu,” pungkasnya.

Ia berharap sekolah gradiasi ini akan terus berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi, agar kapasitas para gradiator lebih meningkat dan bisa membawa dampak yang besar di daerah masing-masing.

Memilih hidup di zona nyaman mungkin jadi dambaan bagi tiap orang. Menjadi abdi negara dengan berbagai jaminan kehidupan, bahkan hingga hari tua mungkin bagi sebagian orang merupakan iimpian yang harus diraih. Namun ada hal-hal yang tak dapat tergantikan dan tak dapat terbeli oleh sebuah kemapanan dan kemakmuran.

Cin telah membuktikan bahwa menjadi abdi negara tak selamanya membuat hati menjadi tenang, dengan berdikari dan memiliki usaha sendiri, ia justru bebas berkontribusi dan mengembangkan renjananya untuk  menjadi aktivis difabel dan terus berbuat untuk memberikan manfaat bagi difabel mental.[]

Reprorter: Oby Achmad

Editor: Ajiwan Arief

The subscriber's email address.