Lompat ke isi utama
Fahmi saat wisuda di UGM

Fahmi Husain, jalani Hidup dengan Having Fun

Solider.id,Yogyakarta - Bagi difabel,  mengakses hak atas pendidikan tidak semudah non difabel. Terlebih ketika difabel memutuskan bersekolah di sekolah inklusi. Tidak saja saat proses mendaftar sekolah, ketika sudah duduk di bangku sebagai murid pun tetap tidak mudah. Banyak tantangan yang ditemui, sehingga banyak pula usaha dan upaya yang harus dilakukan. Usaha keras itu harus dilakukan sedari memasuki Taman Kanak-kanak (TK). Bertambah level pendidikan akan bertambah ekstra usaha yang dilakukan difabel. Itu semua terjadi dan diakui Muhammad Fahmi Husain (22), alumni D3 Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada,  yang diwisuda pada Rabu (20/11/2019).

Fahmi, nama panggilan remaja itu. Dia mengisahkan bahwasanya berbagai pertimbangan sempat menghantui masa-masa memutuskan hendak bersekolah. Apakah sekolah mau menerima? Bagaimana pula dengan lingkungan sekolah nantinya? Apakah teman-teman bisa menerima dirinya? Bagaimana dengan para guru? Apakah sarana dan prasarana di sekolah aksesibel?  

Kelainan genetika

Kepada Solider, Senin (16/12) dia menuturkan bagaimana dia melalui setiap fase hidupnya. Dengan senyumnya yang khas Fahmi mengawali kisahnya. “Pada usia sepuluh bulan, saya mengalami kelainan genetika. Saya tahu ini dari ibu saya,” ujarnya.

Lanjutnya, kelainan itu berdampak pada sel-sel otot tidak berkembang, akibatnya kaki juga tangan saya lumpuh. Oleh dokter, saya didiagnosa mengidap penyakit langka, yang dikenal dengan Duchene Muscular Distropy (DMD).

Karena penyakit DMD, Fahmi tergantung pada kursi roda dan bantuan orang lain. Menginjak usia sekolah, dia sempat mengalami berbagai tekanan. Gejolak penolakan dari dalam diri sendiri, salah satu tekanan itu. Menyalahkan keadaan dan mengutuk takdir, sempat dia lakukan. Hingga muncul kekhawatiran ditolak lingkungan sekitar.

Namun, kedua orang tuanya memberikan dukungan penuh. Karenanya, Fahmi merasa beruntung. Dia memutuskan menyikapi tekanan demi tekanan sebagai tantangan yang harus dihadapi. Menghadapi kenyataan dan keluar sebagai pemenang bukan pecundang, menjadi tekadnya.

Jadi bulan-bulanan

Dikisahkannya pula bahwa pengalaman di-bully dan menjadi bulan-bulanan sempat dialami Fahmi. “Saya sering di-bully saat SD. Kelas 5 SD Muhammadiyah Pakem, ada kejadian yang membuat saya trauma. Pernah suatu hari, saya dijatuhkan teman, ditunggu berdiri terus dijatuhkan lagi. Saya dibuat mainan,” kenangnya pilu.

Kenangan buruk itu tidak bisa dilupakannya. Bahkan Fahmi tidak ingin menjawab nama teman yang  mempermainkannya itu. Trauma yang dialami sempat mematahkan semangatnya. Tidak pergi ke sekolah selama satu tahun, keputusan Fahmi ketika itu. Masuk sekolah lagi di kelas 6, hanya untuk mengikuti ujian. Mesti tidak ke sekolah Fahmi tetap belajar dan berkegiatan di rumah. Dan Fahmi lulus dengan nilai yang memuaskan. Setamat SD, putra pertama dari empat bersaudara pasangan Murtandlo dan Anik Marwati ini melanjutkan sekolah ke SMP Muhammadiyah Turi.

Bertemu dengan kawan-kawan baru, Fahmi harus belajar memahami dan mengenal satu persatu kawannya. Tak ingin kejadian saat kelas 5 SD terulang, dia mengaku harus lebih berhati-hati. Memilih diam, minim mobilitas,  minim bicara. Dan pada masa-masa SMP ini, atas izin sekolah Fahmi lebih banyak belajar di rumah. Dia belajar materi pelajaran bersama ibunya, yang juga seorang guru di sebuah SMP Negeri. 

Seiring bertambah usia, kaki dan tangan Fahmi semakin kaku dan sulit digerakkan. Telapak kakinya bahkan sulit ditekuk, lurus, seperti orang berjinjit. Namun demikian, semangat memenangkan ‘pertarungan hidup’ tak pernah padam. Fahmi aktif mengikuti lomba dan kegiatan di luar sekolah. Saat berada di bangku kelas 9 dia mengikuti Indonesia ICT Award (INAICTA). Sebuah ajang pencarian pengembang aplikasi untuk mendorong perkembangan produk-produk teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia. Gelar juara tiga di INAICTA berhasil diraih.

Dan masa SMP pun dituntaskan Fahmi. SMA Muhammadiyah Turi adalah pilihan sekolah lanjutan. Kembali Fahmi mengukir prestasi di jenjang sekolah atas ini. Hambatan mobilitas bukan halangan baginya, justru memacunya untuk terus belajar dan bekerja keras. Medali perak Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2015, diboyongnya, melalui karya ilmiah berjudul Pemanfaatan Kulit Markisa Menjadi Plastik” yang disusun bersama Rissa Restu Budi Rahayu.

Dukungan orangtua

“Banyak pencapaian yang sudah aku raih. Semua ini karena perjuangan keras kedua orang tua, kecintaan dan komitemen mereka mendampingi saya. Bagaimana tidak? Selain biaya sebagaimana orang pada umumnya, saya membutuhkan biaya operasonal yang besar. Biaya personal assisten dan transportasi sebagai contoh,” ungkapnya.

Karenanya Fahmi merasa terlahir di keluarga yang tepat. Keluarga yang sanggup memberikan dukungan tanpa lelah. Anak pertama dari empat bersaudara yang kesemuanya laki-laki itu terus berjuang. Dua adiknya juga mengalami kedifabelan yang sama, sama-sama lahir dengan kelainan genetik MDM.

“Orang tuaku sadar bahwa pendidikan adalah modal penting untuk masa depan. Ayahku seorang guru agama dan ustadz yang selalu mengajarkan menerima keadaan dan tidak berputus asa. Ibuku guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), sering ikut penelitian ketika usianya muda. Ibu juga yang selalu mengajarkan kerja keras, optimis dan disiplin” cerita Fahmi.

Dia juga mengisahkan bahwa banyak peluang yang jika dipikir sulit mendapat jalan keluar. “Aku hampir tidak bisa kuliah karena terbentur  biaya kuliah dan operasional yang sangat besar. Tapi tidak disangka, dapat beasiswa dari Rehabilim Trust, New Zealand,” tuturnya.

“Demikian pula dengan tempat kuliah yang sejatinya belum aksesibel. Tuhan mengirimkan para sahabat yang siap setiap saat mengangkat saya sampai lantai paling atas. ini membuat persahabatan kami semakin kuat,” ujar Fahmi bersemangat.

Sudah dalam kondisi yang serba susah “bisa jadi demikian kata awam,” tapi saya tetap saja mengikuti banyak even. Karena sudah terbiasa “tertekan”, apapun tantangannya menjadi tidak berarti bagi Fahmi. “Setiap tantangan, bukan persoalan yang berhenti pada rasa khawatir. Bagiku sekalian susahnya, All Out Life,” tandasnya.

Having fun atau selalu riang saat masalah datang, itulah Fahmi. Baginya, membuat rumit suatu masalah hanya menambah beban psikis. Semua pasti ada penyelesaian, hal ini sangat dipercayainya.  Satu lagi, remaja dengan banyak sahabat ini sangat mencintai tantangan. Semakin beresiko, maka Fahmi merasa semakin tertantang.

Enterpreneur pilihannya

Setamat kuliah Fahmi memilih sebagai enterprenuer (wirausaha), bukan sebagai pegawai. “Next step, aku memilih ber-enterpreneur.  Build a startup company (memulai membangun usaha) dibandingkan mencari pekerjaan. Banyak yang sudah menawarkan pekerjaan yang menerima difabel, juga saran ikut CPNS. But that’s my choice. I know maybe it’s high risk and need hardwork to sustain and develope. Because I love the challenges.

Dan usaha yang mulai dirintisnya itu, kini sudah mulai mengerjakan project, meski belum dapat menghasilkan. Sehingga Fahmi masih kesulitan mencari biaya untuk asisten dan transport. Apalagi Faiz dan Fakih kedua adiknya yang juga difabel sudah mulai kuliah di MIPA UGM, dan SMA. Mereka juga membutuhkan asisten sendiri. “Make it fun, semoga Allah memberikan jalan,” pungkasnya

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor    : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.