Lompat ke isi utama
para pegiat difabel yang bercerita tentang cinta mereka

Ketika Pegiat Difabel Bicara Kisah Cinta

Solider.id, Jakarta – berbicara soal perlindungan dan pemenuhan hak difabel sudah biasa dilakukan oleh para pegiat dan aktivis difabel di berbagai forum. Hingga detik ini, tak jarang orang tau kisah percintaan beberapa pegiat difabel Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, audiens dalam sebuah forum dibuat baper (bawa perasaan)

ketika para pegiat difabel berbagi kisah romansanya menemukan teman hidup membangun kesempurnaan rumah tangga. Hal tersebut di lontarkan  dalam sebuah sesi di acara bertajuk "Ask Me Anything", yang di gelar Kedutaan Besar Australia  di Jl Patra kuningan Raya, Jakarta.

Beberapa pegiat difabel yang menjadi panelis dalam acara tersebut antara lain Vanessa Vlojkovic (Tuli), dari Youth Disability Advocate Western Australia; Angkie Yudistia (Tuli), Founder Thisable Enterprise dan baru saja terpilih menjadi Staf Khusus Presiden Indonesia; Ananda Sukarlan, orang dengan   aspeger syndrome (seseorang yang mempunyai gangguan syaraf yang termasuk dalam gangguan spectrum autism) yang merupakan komposer dan Pianis; dan Bahrul Fuad (pengguna kursi roda), seorang konsultan Disability and Social Inclusion Program.

Angkie Yudistia, sebagai Tuli sejak 10 tahun. Ia menceritakan kisah kasih sama seperti pada orang  nondifabel, sempat merasakan bolak balik pacaran selain itu pernah juga diselingkuhi. Baginya menjalin hubungan harus ada gong berupa ikatan pernikahan yang menyatukan insan yang saling mencintai dan menyatukan kedua keluarga.

Menjalin hubungan dengan difabel butuh perjuangan ekstra lantaran penolakan kerap datang dari pihak keluarga pasangan. Meyakinkan keluarga jauh lebih sulit ketimbang pasangan yang menerima sedari awal. "aku sih sayang sama kamu, tapi mamah ku gak terima kamu, jjjggeerr.. pletekk..", ucap Angkie.

Karena tak ada upaya pengorbanan kandaslah kisahnya, bagi Angkie memang belum jodoh. Ia pun menambahkan kisah pahit lainnya, dulu ketika pacaran, pasangan dapat telepon ternyata selingkuhannya. Hal itu menambah deretan “pil pahit” bagi Angkie. Menurutnya jodohnya itu sudah disiapkan dengan orang yang tepat. Hingga akhirnya, ia menemukan belahan jiwa menerima atas kekurangan. Kini Angkie memiliki 2 anak dan seorang suami nondifabel.

Saling melengkapi, itulah yang dirasakan Angkie menjalin rumah tangga dengan suaminya. "Walaupun aku tak bisa mendengar, tapi suami ku yang meminjamkan telinga berbagi tugas. Kalau lagi jalan-jalan bersedia meminjamkan telinga. enterpeter berjalan, ia Enterpreter pribadi", Founder Thisable Enterprise.

Baru-baru ini Angkie diangkat menjadi staff khusus Presiden Indonesia, tak berarti mengurangi perannya ketika berinteraksi dengan kedua anaknya. Ia menceritakan, awal anak-anaknya kebingungan ketika ibunya di panggil tidak dengar. Pada awalnya ia merasa sedih, sempat ia rasakan ketika terlontar dari benak anaknya. Tapi ia mempunyai cara agar menyikapi kehidupan sesungguhnya dan tetap harus dijalani dengan penuh pemahaman.

"Nak, Mamih ga bisa denger kalau panggil jangan teriak-teriak percuma, colek aja. Sekarang saya ngerti, kalau anak mau mainan, kalau mau sesuatu ya harus di colek", ungkapnya.

Disisi lain, bagi Bahrul Fuad yang akrab disapa Cak Fu, panelis acara "ask me anything", menceritakan kursi roda jadi uji validasi cinta. "Sejauh mana orang mecintai saya dengan difabelitas", acap Cak Fu

Percintaannya tak semulus yang diperkirakan, sempat lima kali gagal. Tak goyahkan pencariannya, akhirnya menemukan istri idaman dari kalangan nondifabel, cinta sejatinya dan saat ini dikaruniai satu orang putri.

Banyak orang beranggapan padanya, menikah dengan Cak Fu, sosok difabel pengguna kursi roda sangat bergantung pada istri untuk menjalani kehidupan sehari-hari. "Menikah dengan Cak Fu susah ya, semua tergantung sama istri ya?", ucapnya.

Ia menjelaskan, kegiatan rutin setiap pagi menyapu lantai, memasak nasi dan istri menyiapkan bekal untuk anak. Karena Cak Fu tidak bisa mengendarai motor, maka istri nya lah yang mengantarkan anak ke sekolah. Semua itu teratasi karena mempunyai peran masing-masing dalam membangun rumah tangga.

Sempat terbesit dalam benak Cak Fu, menanyakan pada istrinya kenapa mau menikah dengan seorang difabel sepertinya. "Percuma punya cowok ganteng kalau tak bisa mencukupi, sekarang cowok keren gagah tidak menjamin kalau tidak bekerja. Walau disabilitas bisa membahagiakan istri, bersama-sama saling melengkapi", ucap cakfu.

Cakfu, merupakan konsultan Disability and Social Inclusion Program, kiprahnya tak perlu diragukan. Sosok difabel tangguh, membuktikan bahwa difabel mampu dan mempunyai potensi disitulah nilai lebih.

Selanjutnya, Ananda Sukarlan , seorang aspeger syndrome sempat merasa malu lantaran kondisinya tidak bisa melakukan beberapa hal, seperti mengendarai mobil, yang lazim dilakukan oleh laki-laki ketika bepergian dengan pasangannya.  . Namun, berbagai hambatan tak lantas membuatnya merasa rendah diri. Ia selalu mencari potensi lain yang mampu mendongkrak percaya dirinya.

Setiap manusia memiliki kelebihan masing-masing, kepiawaiannya dalam bermusik. Ia jadikan senjata dalam meluluhkan hati  wanita. “saya bisa main piano, jadi kalau mau rayu cewek tinggal main piano,” terang Ananda.

Menjalani bahtera rumah tangga dengan sang istri yang nondifabel, tak terasa sekarang anak perempuan sudah tumbuh dewasa, secara kebetulan sedang menjalin kasih dengan pria yang difdabel sama seperti sang ayah  yakni Aspeeger syndrome. “Saya heran, kenapa dari sekian banyak orang, anak saya lebih memilih lelaki dengan asperger syndrome seperti saya, gak belajar dari ayahnya tapi saya merestui” , jelas Ananda sambil tertawa.

Sementara, kisah Vanessa Vlojkovic, seorang Tuli dari Youth Disability Advocate Western Australia melalui juru bahasa isyarat menyampaikan bahwa. "Saya lagi sendiri tapi tidak mencari", terang Ananda.

Celotehan Ananda terhadap vanesa yang sesama panelis di acara tersebut. "Single tapi tidak available".  

 

Reporter: Zulhamka Julianto  

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.