Lompat ke isi utama
Para peserta ELTA foto bersama setelah merayakan HDI

Bagaimana Peserta ELTA Merayakan HDI?

Solider.id, Bali- Sebuah galon air mineral disiapkan. Dua buah gitar dan okulele tak ketinggalan. Bangku-bangku di kantin ditata beraturan. Tulisan besar dipampang pada sebuah papan berbunyi International Day of Persons With Disabilities – ELTA Bali. Beberapa saat setelah itu lagu-lagu dinyanyikan. Iringan musik yang dimainkan oleh beberapa kawan difabilitas netra yang juga menjadi vokalisnya.

Bersenang-senang bukan hal mudah bagi para peserta kursus Australian Awards Scholarships di ELTA Bali. Selain mengejar target nilai yang sudah ditentukan, mereka juga harus cukup prihatin karena tinggal di perantauan. Tapi itu bukan berarti mereka tak bisa merayakan Hari Difabilitas Internasional.

“Awalnya tidak ada rencana. Hanya hasil ngobrol semalam sambil makan malam di nasi jinggo (Red: nasi bungkus ala Bali) lalu tercetus ide untuk mengadakan acara,” kata Suryo Pramono, difabel netra (03/12). Dia menjelaskan bagaimana awal-awal gagasan ini muncul hingga tercipta ngamen dadakan. “Ini hanya kegiatan kecil tapi semoga bisa membawa manfaat besar bagi teman-teman,” harapnya.

Dua buah lagu sebagai pembuka, dan Cornelius Adi, peserta kursus dari Sumba Barat Daya, mewakili teman-teman sekelas melnajutkan dengan refleksi selama mengikuti kelas ELTA. “Saya pernah dengar, saat teman-teman sampai pada titik bisa mentertawakan  diri sendiri, maka saat itu mereka mampu untuk bisa survive,” tuturnya.

Aloicia Dahlia Putri atau Lis menjadi vokalis di perayaan tersebut. Dia merupakan guru di sebuah SLB di daerah dan juga salah satu peserta ELTA menunjukkan kerjasama yang dilakukannya tidak hanya di dalam kelas. “Agar teman-teman bisa menjadi agen penyebar isu disabilitas. Bahwa difabilitas sama derajatnya dengan teman-teman lain yang butuh kesempatan, bukan diberi rasa kasihan.”

Rasa syukur diungkapkan Maria Anisa dengan kehadiran teman-teman sekelasnya. Gadis lulusan Universitas Mercu Buana, Yogyakarta, ini mengatakan di kelas mereka bisa saling belajar bagaimana agar bisa diterima oleh teman-teman lain.

“Tidak ada lagi batasan atas hak-hak yang seharusnya  kami dapatkan,“ ungkap peserta ELTA dari bengkulu ini. “Lewat tampilan teman-teman, harapan saya isu difabilitas makin bisa diketahui banyak orang. Karena selama ini orang lebih banyak peduli pada isu difabilitas hanya berdasar rasa kasihan. Padahal sebenarnya difabilitas cuma butuh diberi ruang yang tidak berbeda untuk bisa mencapai kesetaraan,” lanjutnya.

Suryo menambahkan dengan sepenggal harapan.

“Ke depan semoga tidak hanya kelas yang peduli, tetapi bisa lebih luas. Terutama di lingkungan terdekat IALF semoga sudah bisa menerima keberadaan difabilitas. IALF sudah baik karena sudah memberi tempat. Dari hasil mencuri dengar obrolan para tenaga pengajar, mereka justru merespon dan mempertanyakan kenapa tidak dibuat sebagai program dari awal tentang peringatan hari difabilitas untuk ELTA Bali sebagai awarness.” Ujar Suryo yang datang sebagai peserta kursus dari Jakarta.

Agung Sudiani selaku Project Coordinator ELTA Bali mengatakan bahwa ini kegiatan yang bagus dan patut diapresiasi. Kegiatan menjadi momentum bagi IALF Bali untuk menyuarakan pentingnya memahami difabilitas. “Jadi harus kita upayakan terus menerus kesadaran tentang difabilitas,” tuturnya.

Agustina Leonora, peserta yang dalam keseharian bekerja sebagai perawat di pelosok Sumba ini berharap dari kegiatan tersebut masyarakat bisa lebih peduli dengan difabel. Memandangnya bukan karena fisik tapi karena kemampuan yang dimiliki. “Mereka punya talenta yang luar biasa sehingga perlu diberi kesempatan untuk mengaktualisasikan diri mereka,” harapnya.

Bonnie Fransius Asa Insain, pemuda kelahiran 17 Agustus 1989 ini juga turut berpendapat, difabilitas merupakan kelompok yang memiliki beragam kemampuan.  Kompetensi yang mereka miliki tidak dimiliki orang lain, dengan kompetensi yang spesifik. “Lewat kemampuan dengar mereka, kemampuan dalam merasakan sesuatu mereka sangat dalam dibanding kita. Mereka bisa melakukan sesuatu yang luar biasa. Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat membuat kebijakan yang memihak pada kelompok difabilitas,” imbuhnya.[]

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.