Lompat ke isi utama
Seseorang sedang mencoba film dokumenter melalui virtual reality

Tumbuhkan Isu Difabilitas Melalui Virtual Reality

Solider.id, Yogyakarta- Realita hidup difabel yang berbeda dengan non-difabel, kerap menghadirkan berbagai reaksi. Dipandang sebelah mata, tidak dipedulikan, dibuli, dikasihani, ialah diantara perlakukan tidak tepat yang terjadi pada mereka yang terlahir atau menjadi difabel.

Perlakukan tersebut terjadi karena masyarakat yang tidak paham. Hanya melihat perbedaan yang ada, tanpa menyadari bahwa hak-hak hidup yang melekat adalah sama. Bahwa difabel juga mampu mandiri, tidak melulu identik dengan istilah ‘menjadi beban orang lain’.

Menyajikan fakta edukatif, kehidupan beragam difabilitas dalam sebuah film, menjadi bagian tema dalam Festival Film Dokumenter (FFD) 2019. Delapan film berhasil dibuat dan  diputar untuk khalayak. Bertepatan dengan Hari Difabel Internasional  (HDI), 3 Desember 2019, kedelapan film tersebut juga didiskusikan.

“Memiliki kesempatan memutarkan film-film berbasis Virtual Reality (VR) dengan fokus khusus pada isu-isu disabilitas, bagian dari satu cara mengedukasi khalayak. Ini juga satu momen bagi insan film, bahwa lahirnya kesadaran menyajikan isu difabel kepada publik dapat dikemas melalui sebuah film,” ujar  Ayu Diah Cempaka, Direktur Program FFD 2019.

Ayu melanjutkan, medium VR dipilih dengan pertimbangan pada kemampuan VR membawa pemirsa pada sebuah pengalaman sinematik ke tingkatan lebih lanjut. Dalam pembuatan film dokumenter, VR akan mampu memberikan perspektif yang berbeda dalam mempersepsikan film dokumenter daripada bentuk film pada umumnya.

Dia berharap medium tersebut akan mampu membangun kesadaran dan meningkatkan sensibilitas pemirsanya atas hal-hal di seputar isu difabilitas.

Bekerjasama dengan Voice Global, Panitia FFD 2019 menyelenggarakan program bertajuk The Feelings of Reality. Sebuah program yang berfokus pada bagaimana menumbuhkan kepedulian terhadap isu difabilitas melalui metode alternatif yang inovatif.

“Penggunaan teknologi film dokumenter Virtual Reality (VR), kami ingin mengajak filmmaker (pembuat film) untuk meretas realita bersama, memantik perpindahan, mengajak publik untuk keluar dari tubuh, lantas hinggap ke raga yang lain,” pungkas Ayu.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi

 

The subscriber's email address.