Lompat ke isi utama
Ilustrasi Isyarat

Memperkaya Kosa Kata bagi Tuli melalui Sign Language Baby

Solider.id, Jakarta- Kebiasaan orangtua dengar berkomunikasi melalui isyarat dengan anak-anak Tuli dapat memperkaya kosa kata bahasa isyarat. Metode pengajaran orang tua dengar terhadap anak Tuli dengan memperkenalkan ikon setiap logo atau gambaran untuk meningkatkan ketajaman visualnya.

Dilansir dari Aussiedeafkids.org.au memaparkan bahwa peneliti di Australia bekerja sama dengan peneliti luar negeri sudah melakukan riset tentang bagaimana anak-anak Tuli belajar bahasa isyarat seperti bahasa isyarat Auslan, Bahasa Isyarat Amerika (ASL) dan Bahasa Isyarat Inggris (BSL).

Tujuan daria peneilitian tersebut adalah untuk mengetahui ketertarikan berkomunikasi orang dengar untuk belajar bahasa isyarat secara alami, seperti bahasa isyarat yang digunakan di rumah. Hasil riset menujukkan bahwa bagi anak-anak Tuli, belajar bahasa isyarat sebenarnya sama halnya dengan anak-anak pada umumnya ketika belajar bahasa lisan. Mulai dari gerakan tangan, bibir dan memperkealkan suatu benda terhadap anak. Bahasa isyarat sejak bayi juga disebut sebagai sign language baby.

Contohnya mendekripsikan ikon di rumah, seperti gambar sebuah tong sampah, tangan menggesturi pura-pura membuang sampah pada wadah. Ketika bertemu kucing di jalan,  orang tua harus bertanya bagaimana isyarat kucing kepada salah satu individu anak Tuli. Hal itu dapat melatih logika berpikir anak-anak Tuli mengenal berbagai macam benda hidup dan mati melalui isyarat.

Isyarat tersebut berbeda dari bahasa lisan, dimana sebagian besar bunyi kata tidak memiliki tautan ke artinya. Bahasa isyarat dari bayi akan mudah dipahami oleh seorang anak Tuli, jika isyarat-isyarat tersebut juga berlaku di dalam bahasa isyarat pada umumnya.

Seorang anak bayi misalnya, akan menggerakkan tangannya untuk menunjukkan suatu maksud atau benda. Kecenderungan anak bayi tersebut dapat memudahkan orang tua dengar untuk megajarkan isyarat sejak dini. Orang tua juga perlu menerapkannya secara keberlanjutan dalam setiap komunikasinya. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari depresi atau stress yang dialami anak-anak Tuli.

Orang tua juga bisa mengikuti kelas bahasa isyarat. Selain mempelajari kosa kata bahasa isyarat yang ada, para orang tua bisa berbagi pengetahuan isyarat-isyarat yang mereka gunakan ketika berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari dengan anak-anak Tuli.

Riset di atas juga menghasilkan dua cara untuk mengajarkan komunikasi kepada anak-anak Tuli. Pertama, bagi orang tua dengar, wajib aktif mengajarkan setiap satu kata per kata dalam bahasa isyarat bagi anak Tuli. Proses tersebut membutuhkan waktu untuk meningkatkan ketertarikan anak-anak Tuli menerima tanda-tanda baru ke dalam daftar kosa kata mereka.

Anak-anak Tuli mengumpulkan tentang berbagai macam isyarat yang mereka bikin menghasilkan tanda-tanda yang dekat dengan mereka, seperti Kakak, Adik, Perempuan,Laki-laki, Lapar, haus dan lainnya. Namun, jika dalam praktiknya terdapat kekeliruan orang tua dapat mengoreksinya. Selain untuk memancing ingatanya, juga mengajarkan komunikasi yang didasari etika dan adab berbahasa isyarat benar dan sopan.

Kedua, kombinasi kata untuk mereka yang sudah mencapai usia dua atau tiga tahun. Orang tua dapat menggabungkan dua kosa kata yang mudah dipahami. Seperti “suka kucing,” cari sepatu,” dan lain sebagainya. Pada usia dua setengah tahun, dua kata akan terbentuk menjadi kalimat dalam kata yang panjang. Selanjutnya, memberikan hak tanya kepada anak-anak Tuli apa yang sudah mereka pelajari.

Pada usia lima tahun, sebagian besar tata bahasa dasar telah dipelajari, meskipun perlu beberapa tahun lagi sebelum semua aspek bahasa dipelajari sepenuhnya. Namun,tidak boleh berhenti belajar kosa kata baru isyarat. Ini menunjukkan bahwa, untuk anak kecil, bahasa adalah bahasa, terlepas dari apakah itu diucapkan atau dibahasaisyaratkan.[]

 

Reporter:  Dina Amalia Fahima

Editor: Robandi

 

The subscriber's email address.