Lompat ke isi utama
Peserta sedang melukis, sebagai bagian dari rangkaian Festival Bebas Batas

Meneroka Batas, Melampaui Kemampuan

Solider.id, Solo- Kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mengadakan festival Bebas Batas. Festival yang dimulai pada 12-15 November tersebut bertajuk Meneroka Batas.

Meneroka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti membuka daerah atau tanah baru untuk sawah, ladang, merintis, menjelajahi. Sebagai ekpresi karya seni rupa difabel dengan pameran lukisan bertajuk Merupa Ingatan di Atrium Solo Square, 21-23 Oktober.

Festival yang melibatkan lebih dari 50 difabel pekarya seni dan rehabilitan tersebut tidak menuntut batasan-batasan dalam berkreasi. Salah satunya aksi Arif Setyo Budi, difabel fisik berkaki satu kelahiran Malang 15 Mei 1987. Penari brekdance itu meliuk-liukkan tubuhnya laksana karet. Sesekali dia menaruh kepalanya di atas lantai dan menjungkirbalikkan badannya dengan sedikit patah-patah di depan para penonton.

Beberapa pejabat datang, seperti Restu Gunawan, Direktur Kesenian Kemendikbud, Bambang Eko Sunaryanto, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat se-Indonesia. Selain para kepala rumah sakit jiwa, datang pula para seniman difabel yang malam itu menggelar karyanya di Pendopo GPH Joyokusumo ISI Surakarta.

Selain Arif, hadir menghibur pula serombongan anak-anak YPAC Solo Music Percussion dengan nyanyian lagu-lagu daerah seperti Gundul-Gundul Pacul, Kicir-Kicir, Yamko Rambe Yamko yang diaransemen ulang dengan apik, serta Difalitera.org berupa performa puisi dan lagu heroik cinta tanah air.

Sementara Wisik, personil Pecas Ndahe yang berkursi roda membawakan lagu-lagu pop berdua dengan Jaka Balung.

Area panggung di Pendopo yang didesain mendadak berubah menjadi sajian hiburan berkelas. Bukan saja suara merdu sang vokalis, serta liukan penari breakdance, adegan tubuh yang berisyarat puisi dari Aprilian Bima, mahasiswa jurusan seni murni Fakultas Imu Budaya Universitas Sebelas Maret.

Bima dengan bercermin pada isyarat yang diperagakankan relawan Deaf Volunteer Organization (DVO), berperforma baca puisi, persis yang dibacakan oleh Tio Istiono dari difalitera.org dengan judul Janji Pusaka.

Hendro Himawan dan Hendromasto, kurator pameran menyatakan bahwa wacana difabilitas seharusnya tidak lagi sebatas berbicara mengenai ketidakmampuan, kekurangan, dan keterbatasan para difabel. Tetapi mendudukkan perpektif yang lebih positif dan progresif dengan melihat bagaimana daya hidup dan siasat difabel dalam melampaui keterbatasan.

Menurutnya dalam ranah seni, keterbatasan justru melampaui batas-batas bernama konvensi dalam seni itu sendiri. Ekspresi mereka juga menjadi sebuah amunisi untuk menunjukkan bahwa mereka ada di bagian masyarakat yang masih melihat difabel sebagai bentuk “liyan”.

Menimba Ilmu Pada Diskusi Seni untuk Difabel

Selain menyelenggarakan lokakarya lukis, batik, dan gerabah yang diikuti pegiat difabel, menghadirkan pula para seniman. Ratusan siswa dari Taman Kanak-Kanak sangat antusias ketika melihat pameran lukisan dan seni rupa.

Ada bentangan media bidang yang berwarna hitam di sebuah sisi ruang pamer, sebagai media berekspresi dengan kapur warna-warni bagi pengunjung. Hari kedua itu pula diselenggarakan diskusi dengan narasumber Hana Madness, seniman doodle, penyintas bipolar yang baru-baru ini mendapatkan penghargaan 1 dari 10 Wanita Tahun 2019 dari Her World Indonesian. Selain Hana, juga ada Theresia Sitompul yang menginisiasi kunjungan-kunjungan ke SLB di seluruh Yogya, memfasilitasi Art Class sebagai Art Therapy.

Pada diskusi yang dihelat di Teater Kecil ISI Surakarta, nyaris kapasitas dua pertiga kursi-kursi terisi. Hana Madness atau nama asli dari Hana Alfikih memulai ceritanya pada tahun 2013, saat dia menjadi mahasiswi di Universitas Al-Azhar, Jakarta.

Berakhir dengan diagnosa skizo afektif dan bipolar disorder, waktu masih duduk di bangku SMP dan SMA Hana mengemukakan bahwa dirinya tidak punya pilihan. Dengan keluarga dan teman, dia tidak bisa terbuka dan gejala yang dirasakannya adalah sering sekali tiba-tiba tidak bisa tidur.

“Dulu kalau ada siswa nggak masuk sekolah kan biasanya tidak masuk karena sakit fisik ya. Lha bagamana saya mendefinisikan apa yang saya rasakan itu tidak bisa,” terang Hana. Setelahnya Hana banyak nongkrong dengan seniman dan ikut pameran street visual untuk bertahan hidup tanpa dukungan orangtua.

Klien pertama Hana adalah poster yang dicetak di produk korek api sebanyak 500 ribu pada tahun 2011. Saat itu kejadian gangguan kejiwaannya sangat intens. “Tahun 2012 bulan Juli saya seminar, lalu dapat media conference. Kemudian dapat undangan di stasiun TV dengan 5-6 narasumber dengan tema “Mereka bilang saya gila,” paparnya.

Setelah tayangan tersebut keluarganya kemudian marah dan Hana mengalami depresi karena dibilang sebagai aib keluarga. Waktu itu dia bermain media sosial dan mengenal KPSI. Dia dapat pesan bahwa dia bagian dari isu difabel mental. Akhirnya ada pintu untuk membuka diri.

Dalam setiap diskusi Hana menekankan bahwa setiap karya seni pasti ada pesan di dalamnya. Hal itulahyang kemudian disadari orangtuanya untuk berpikiran terbuka. “Aku menempatkan depresi seperti kayak sakit masuk angin, aku merasakan disabilitas jadi identitas. Kalau aku tidak menunjukkan itu, yang aku harus geser adalah persepsi masyarakat, oh Hana dengan postur kecil, adalah orang yang hidup dengan bipolar, dan kenapa karyaku karakternya warna warni. Aku lahir dari karakter warna-warni dengan pesan,” pungkasnya.

Hana merasa, hal yang masih menjadi pertanyaaan yang belum hilang saat ini, ketika dia membaca berita-berita terkait orang dengan gangguan jiwa, “aku melihat pemberitaan media selalu menakutkan.”

Nurlaela salah seorang seniman difabel peserta pameran sekaligus Dewi Mahasiswa terbaik seni rupa ITB tahun 2017 itu tertarik dengan jurusan seni rupa seperti menginterpretasi, dan rasa penasaran kenapa karya seperti ini dan itu. Dia didiagnosa autis pada usia dua tahun, kemudian ada gangguan sensori, meltdown.

Bersama keluarganya perempuan yang sering dipanggil Lala Nurlaela pindah ke Amerika dan tinggal selama empat tahun karena sang ayah menempuh pendidikan S3. “Saya bisa dibilang menipu psikolog, saya bukan autism lagi. Terus kemudian lama-lama pas,” terangnya yang mengambil tema karya refleksi struggle atau perjuangan.

Saat ini Lala juga bergiat di The Indonesian Heritage Society di Jakarta dan sedang mencari kerja ilustrasi kebetulan ada comission yang bikin fine art.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.