Lompat ke isi utama
cara kerja VR

Menguji Efektivitas VR Sebagai Media Advokasi Difabel

Solider.id, Bandung – Forum Film Dokumenter (FFD) sebagai organisasi yang bergerak sejak 2002, memiliki tujuan mengembangkan dokumenter sebagai medium ekspresi dan ekosistem pengetahuan lewat program ekshibisi, edukasi, dan pengarsipan. Saat ini, organisasi tersebut tengah melaksanakan program Feelings of Reality yang memiliki tujuan untuk meretas realitas melalui film dokumenter Virtual Reality atau VR. Melalui alat VR ini akan memungkikan pemirsa untuk meraskan pengalaman yang berbeda ketika menonton sebuah film.

Pembelajaran media VR dalam perspektif film dokumenter sebagai media untuk meningkatkan awareness public mengenai isu difabel pun memiliki perhatian tersediri. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan, di beberapa daerah yang dipilih untuk memetakan masalah hak-hak masyarakat difabel dan mengidentifikasi jalur untuk advokasi, ditemukan empat lokasi yang menjadi sentrum kebedaraan difabel. Diantaranya, Jakarta, Bandung, Semarang dan Sumbawa. Daerah inilah yang kemudian disasar untuk merealisasikan pola hidup masyarakat difabel dalam sebuah film dokumenter yang sifatnya advokasi.

Virtual Reality adalah sebuah teknologi yang membuat penggunanya dapat berinteraksi dengan lingkungan yang ada dalam dunia maya yang disimulasikan oleh komputer, sehingga pengguna merasa berada di dalam lingkungan tersebut. Di dalam bahasa Indonesia Virtual Reality dikenal dengan istilah realitas maya.

Dalam agenda workshop-nya di kota Bandung pada pertengahan November kemarin, FFD secara khusus mengundang para pemerhati isu difabel selain komunitas difabel yang ada di Bandung. Mesti VR ini merupakan media untuk menonton sebuah tayangan atau film, pihak FFD melibatkan semua jenis kedifabelan, baik Daksa, Tuli, Netra, Difabel Berat (CP dan sejenisnya)  untuk turut menganalisa model VR tersebut.

Disepakati, media ini memang mampu menjadi sebuah inovasi baru yang cukup menyenangkan dalam menyasar isu difabel yang sifatnya advokasi kepada masyarakat umum. Melalui sebuah tayangan, pemirsa dalam seolah berinteraksi langsung dengan film yang dilihatnya.

Respon para difabel yang ikut dalam menguji efektifitas VR tersebut pun beragam. termasuk dari kalangan pemerhati isu difabel yang secara kondisi mereka merupakan masyarakat nondifabel.

Seperti yang disampaikan Fuji difabel Tuli, meski secara efek audio tidak dapat mendengar percakapan, musik, atau lainnya dalam tayangan yang ditontonnya, Fuji mengakui keberadaan VR sangat efektif sebagai sarana advokasi isu difabel. Menurutnya, saat melihat film dalam VR tersebut, ia merasakan betul berada didalamnya.

“Alat ini bagus, dan untuk akses difabel Tuli dalam sebuah film dapat disertakan teks agar dapat dibaca dan dapat lebih mengerti tentang isi film yang ditonton,” ungkap Fuji.

Senada dengan Fuji, Siti Latifah difabel Netra totaly bland lebih selektif lagi. Sebelum ikut mendengarkan film melalui VR, dirinya lebih banyak meraba dan bertanya untuk dapat merasakan atau memahami VR tersebut. Dirasakan Latifah, saat mendengar film yang diputarkan, VR memang bisa diandalakan menjadi media advokasi untuk isu difabel dengan sentuhan atau tambahan lainnya yang akses untuk difabel Netra. semisal dengan membuatkan efek suara yang mengilustrasikan bagian-bagian tertentu dari film saat jeda dari percakapan. Selain itu, pada alat fisik VR nya bida ditambahkan braille untuk mengetahui fungsi tombol.

Sementara menurut Muhammad Budi Pramono, yang mengakui dirinya sebagai bagian dari difabel berat (CP) pengguna kursi roda, keberadaan VR belum maksimal dapat diakses oleh penonton yang menggunakan kursi roda. Kecanggihan VR yang dapat melihat ruang dimensi hingga 360 derajat, belum dapat dinikmatinya sebab keterbatasan ruang gerak dari kursi roda.

“Untuk pengguna kursi roda masih sulit bergerak sampai 360 derajat seperti yang lainnya,” kata Budi.

Sedang untuk difabel Daksa dan pemerhati isu difabel dari masyarakat nondifabel, keberadaan VR ini dirasakan efektif dan efisien sebagai sarana media untuk advokasi isu difabel dalam bentuk film empat dimensi. Mereka yang menonton melalui alat ini seolah berbaur langsung didalamnya, hingga kepekaan merasakan, melihat dan memperhatikan isu yang disampaikan sangat berbeda dari sekedar menonton pada layar kaca biasa. Sisi emosional turut hadir dalam melihat tayangan dengan menggunakan media VR.

Beragam tanggapan dan respon maupun apresiasi dari agenda workshop VR di kota Bandung, setidaknya menemukan cara baru dalam mengadvokasikan isu difabel dalam bentuk film. Seperti goal atau tujuan yang ingin dicapai oleh FFD terkait media VR, yaitu antara lain, ‘Agar pemirsanya merasakan realitas yang berbeda dapat menjadi titik awal untuk memberikan wawasan tentang tantangan yang dihadapi masyarakat difabel sehari-hari. Dengan menggunakan teknologi dan bentuk dokumenter ini, mereka pun berharap dapat membangun kesadaran dan meningkatkan sensibilitas pemirsanya atas hal-hal di seputar isu difabel. Selain itu, juga sebagai eksplorasi bentuk baru film. Mengajak pemirsa untuk merasakan pengalaman yang berbeda, membuat penonton terasa lebih dekat dengan subyek dalam film. Serta, menguji efektivitas VR sebagai media yang mampu meningkatkan kepedulian terhadap isu tertentu, seperti isu difabel.’

Private Screaling terkait VR di Bandung tentu akan menuai hasil yang berbeda dengan ditiga wilayah lainnya seperti Jakarta, Semarang dan Sumbawa. Dalam pembuatan filmnya FFD mengandeng para filmmaker dan konsultan film isu difabel yang diangkat. Fungsi konsultas tersebut untuk memberikan arahan terkait film difabel yang dibuat agar memberi rambu yang sesuai dengan sarana advokasi untuk disampaikan kepada masyarakat luas.

Ajiwan Arief Hendradi difabel Netra, dari media SIGAB Yogyakarta, dan M. Ismail difabel Tuli, dari media coordinator SIGAB Yogyakarta, dilibatkan sebagai konsultan yang sangat memahami isu difabel dari kacamata media sebagai sarana advokasi publik.

“Dalam pembuat film isu difabel hendaklah tetap dijaga porsinya, tidak menampilkan sosok difabel secara berlebihan atau mendramatisir,” papar Ajiwan.

Disampaikan Ajiwan, para filmmaker tetap dimonitoring oleh para konsultan disetiap pembuatan filmnya diempat wilayah. Dari karya yang akan dihasilkan para filmmaker, melalui media VR penonton dapat benar-benar tergambarkan secara utuh, secara realita terkait isu difabel yang dibuatnya. Kondisi tersebutlah yang akan dapat menentukan sejauh mana keberhasilan advokasi yang diharapakan.

Sementara, untuk meningkatkan respons masyarakat secara luas dan memeriahkan hari difabel internasional. Forum Film Dokumenter akan menyelenggarakan “Premier Talk, The Feelings of Reality” sebuah diskusi dan pemutaran film hasil karya delapan Filmmaker dari berbagai daerah. Kegiatan ini diselenggarakan agar masyarakat secara lebih luas dapat mengenal media Virtual Reality sebagai media menyaksikan film tentang difabel. Agenda ini merupakan salah satu agenda rangkaian dari Festival Film Dokumentar yang diselenggarakan pada tanggal 1 sampai 9 Desember di Yogyakarta.

 

 Reporter: Srikandi Syamsi

Editor      : Ajiwan Arief

   

The subscriber's email address.