Lompat ke isi utama
Lala saat memberikan materi di Acara diskusi Pustakabilitas

Sebuah Upaya Mengikis Stigma “Lulusan Sekolah Luar Biasa”

Oleh Nabila May Sweetha

“Bagiku, Sekolah Luar Biasa bukanlah pilihan terbaik dari yang terburuk.”

Solider.id, Makassar- Ada getar di bibir dan tanganku usai menjawab dua pertanyaan yang menyentil tentang pengalamanku menembus stigma di sekolah. Meski kemudian satu kalimat Kak Ishak menenangkanku.

"Semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah," tutur Kak Ishak.

Hari itu, 8 November 2019, ada diskusi tematik yang digabungkan dengan deklarasi Gemparkan di salah satu kafe di Makassar. Sebelum hari yang ditetapkan, Kak Lutfi sebagai kepala kordinator pustak@bilitas mengabari bahwa di diskusi itu, aku menjadi salah satu pembicara.

"Acaranya dimulai sekitar jam setengah delapan, La, ada Kak Ishak dan Kak Hamsa juga yang jadi pembicaranya. Usahakan datang sekitar jam limaan," kata Kak Lutfi melalui pesan suara aplikasi WhatsApp.

Hari jumat anak Sekolah Menengah Atas pulang lebih dini dari biasanya. Lonceng pulang sekolah berbunyi dan guru meninggalkan lab komputer tempat belajar mata pelajaran TIK. Hari itu, aku benar-benar lupa acara penting itu. Aku bergegas pulang, ketika medapati pesan dari Kak Lutfi yang mengingatkan acara di kafe itu. Aku mengajak beberapa orang teman, meski akhirnya hanya satu orang teman dan sepupu yang ingin menemani ke kafe. Kami bertiga datang terlambat dari waktu yang sudah disepakati.

Usai shalat maghrib, Kak Lutfi berdiri di samping bangku dimana aku duduk. Hampir berbisik, dia menjelaskan secara singkat tentang acara hari ini dan apa yang harus dibicarakan di diskusi nanti. Aku mengehela napas, tersenyum ke arah dua sahabat yang tadi menemani dan meyakinkan diri “aku mampu bicara dengan semurni mungkin,” kataku dalam hati.

Sebab memang, di setiap acara yang mengharuskan menyampaikan satu pengetahuan kecil untuk masyarakat, aku selalu ingin menyampaikan sesuai apa yang kurasakan dan tak merekayasa satu fakta apapun.

Sekira pukul 19.00 Wit, diskusi tematik dimulai. Pembawa acara mulai menyebut satu persatu rangkaian acara, sesekali bercanda untuk memeriahkan malam itu. Rangkaian pertama diisi dengan beberapa sambutan sampai deklarasi Gemparkan. Semua anggota Gemparkan, termasuk aku, naik ke panggung sederhana. Berdiri teratur, kemudian mulai hikmat mendengarkan Kak Astrid yang merupakan bendahara Gemparkan membaca teks deklarasi.

Kak Astrid membaca teks deklarasi di secarik kertas dengan braille dan kami mengikuti. Mirip seperti pembacaan pancasila di sekolahan. Kawan-kawan tuli juga mengikuti Kak Astrid, pastinya dengan bahasa isyarat.

Berikut sedikit cuplikan teks deklarasi Gemparkan:

Dengan Memohon  Rahmat Tuhan yang Maha Esa

Kami Mahasiswa dan Pelajar Difabel. Menghimpunkan diri  ke dalam sebuah forum Gemparkan. Gerakan Mahasiswa dan Pelajar untuk Kesetaraan.

Kami berkomitmen untuk menyuarakan dan memperjuangkan inklusifitas dan kesetaraan di dalam segala aspek berkehidupan.

Kami berkomitmen untuk mengambil peran baik itu di kalangan generasi muda, maupun masyarakat  untuk memberikan edukasi, advokasi, dan mewujudkan kesetaraan dalam semua  jenis ragam kemampuan manusia.

Makassar  8 November 2019

Gemparkan sendiri adalah perkumpulan yang menghimpun mahasiswa dan pelajar difabel di Makassar. Terdiri dari pemuda-pemudi yang sadar benar akan hak difabel yang seringkali distigmaisasi. Mereka kemudian menciptakan tunggangan bernama Gemparkan, yang diharap bisa menghantarkan pada peradaban yang lebih inklusif. Mereka sadar bahwa inklusifitas adalah hal yang dinamis dengan kehidupan masyarakat dan untuk mencapai proses panjang itu mereka harus bersatu.

Inklusi bukan satu tujuan bagi Gemparkan, tetapi proses yang berkepanjangan. Difabel tidak melulu harus bertumpu pada orang-orang yang mulai menemui masa senja dari kehidupan. Dunia pergerakan hak difabel memerlukan mereka yang muda, cukup millenial untuk melanjutkan estafet perjuangan inklusi di Indonesia.

Terdengar pembawa acara mempersilahkan pembicara pertama untuk naik ke atas panggung. Aku menarik napas panjang, duduk di bangku yang disediakan di atas panggung, memegang mik dengan sedikit gugup, sebelum mulai berbicara. Tak tahu apa yang saya keluarkan dari lisan, namun begitu saja mengalir. Saat mulut ini terus bergerak dan mengeluarkan suara, saat itu pula bayangan-bayangan menggenapi alam hayal.

Aku berbicara tentang potret pendidikan di Makassar yang kabur, tentang sekolah-sekolah negeri yang menolak siswa difabel, tentang guru-guru yang menolak dengan alasan tak punya cukup pengalaman. Tentang guru dan sekolah yang seperti tak mengerti, bahwa pengalaman ada karena satu langkah awal.

Menurutku, ketika pihak sekolah menolak siswa dengan alasan tak ada pengalaman, ketika itu pula hancurlah kesempatan kita untuk mendapatkan pengalaman itu sendiri. Aku mulai membayangkan bagaimana cara untuk meretas stigma masyarakat, bagaimana cara mewujudkan pendidikan yang inklusif di Universitas dan sekolah-sekolah, juga apa yang ada di otak mereka yang menganggap diri sudah sempurna.

Tapi malam itu, aku tak tahu apa yang aku bicarakan tadi. Aku lebih tenggelam dalam bayang-bayang nasib difabel.

Setelahnya, ada perwakilan dari PRSBDF yang bercerita tentang kisah hidupnya menjadi seorang difabel penglihatan. Kak Lutfi menjelaskan kurang lebih tentang Gemparkan dan Kak Ishak yang menjelaskna perkembangan peradaban ingklusif di dunia. Tentang pencipta huruf braille, sejarahnya, sampai dengan terciptanya pembaca layar di handphone yang sekarang banyak memudahkan difabel penglihatan.bergantian menjadi pembicara.

Aku sedikit bergeser ke sebelah kiri dari tempat dudukku saat satu persatu mereka mulai berbicara. Rasa kantuk malam itu hilang ketika sebagian besar pertanyaan ditujukan kepadaku. Semua pertanyaan tak jauh dari prosesku bisa bersekolah di SMA Negeri 11 Makassar yang sebelumya mendapatkan penolakan berulang kali.

Dari sederet pertanyaan, ada dua yang paling membekas dalam ingatanku yang membuatku merasa harus menelan liur beberapa kali sebelum menjawab. Bukan karena tidak tahu hendak menjawab apa, tetapi karena terlalu emosionalnya mendengar pertanyaan itu.

"Apa menurutmu sekolah luar biasa tidak penting? Apa SLB harus dihilangkan? Kalau anda bilang SLB perlu ditiadakan, besok saya akan kumpulkan teman-teman dan demo di dinas pendidikan. Bubarkan saja sekolah luar biasa!" Cetus Kak Mus, salah satu pengurus Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI).

Aku tersenyum sedikit sinis. Malam itu, aku berpendapat bahwa SLB tidak penting dalam situasi tertentu. SLB menurutku, hanya diperlukan sebagai pengantar eorang siswa difabel mendapat bekal untuk menemukan karakter dan menguatkan mentalnya sendiri.

“Satu sampai dua semester saya rasa cukup untuk membentuk karakter. Setelahnya selesai,” kataku. Difabel sangat lebih layak sekolah di sekolah umum.

Pertanyaan Kak Mus juga ditanggapi oleh Kak Lutfi, dan Kak Ishak yang lagi-lagi bisa membungkam seisi cafe.

"Banyak yang ingin membubarkan SLB, banyak sekali. Membubarkan SLB itu mudah, gampang sekali. Tetapi, apa yang kita tawarkan sebelum membubarkan? Itu yang sampai sekarang masih menjadi permasalahan," jelas Kak Ishak, ikut menanggapi. Malam itu kami, forum menegaskan bahwa SLB bukan opsi yang baik jika berlaku mulai dari sekolah dasar sampai Sekolah Menengah Atas.

Pertanyaan kedua yang membekas diingatanku dilontarkan Yusuf Pratama, salah satu mahasiswa jurusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas Negeri Makassar (UNEM). Dia bertanya tentang rencanaku di bidang pendidikan, antara lanjut ke Perguruan Tinggi atau berhenti di SMA.

“Mau stop sampai sekolah menengah atas saja kah, atau ingin melanjutkan ke jenjang perkuliahan?" ucap lelaki yang juga merupakan anggota Gemparkan.

Bagiku, difabel penglihatan di Makassar masih kurang mendapat akses pendidikan. Kita tidak menemukan satupun nama mereka di jejeran papan informasi sebagai lulusan kampus-kampus di Makassar. Mereka tenggelam oleh arus stigma negative yang selama ini membenamkan mereka sampai ke ceruk ingatan masyarakat yang paling dalam.

“Kami dilupakan,” kataku. Hal itulah yang menjadi semangatku untuk tetap ngotot dan bertahan di sekolah yang berkali-kali menolakku. Aku dan kukira juga Anda mesti mengamini bahwa suatu gerak menghasilkan suatu perubahan.

Perjuanganku menembus stigma di Sekloah bukanlah akhir cerita. Bagiku, itu adalah babak awal yang akan mengantarkanku pada tantangan-tantangan baru ketika aku memilih untuk melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi. Aku benar-benar mafhum dengan hal itu dan betapa besar harapanku untuk generasi penerus setalahku.

Toh, menurut saya meski tidak kuliah sekalipun saya bisa menjadi orang yang pintar. Saya bisa menjadi orang yang berguna, menjadi orang yang mampu membanggakan orangtua,” tandasku.

"Oh, begitu, toh," ujar teman sekelasku, yang mungkin sudah bosan menunggu. Setidaknya, diskusi malam itu, pikiran mereka sebagai milenial bisa sedikit lebih inklusif. Suara pembawa acara terdengar menutup acara. Aku dibolehkan turun dan kembali bergabung bersama peserta yang lain.[]

 

*Penulis adalah anggota Pergerakan Difabel untuk Kesetaraan (PerDiK) Makassar. Suka menulis Novel dan ikut berjuang dengan Gerakan Mahasiswa dan Pelajar untuk Kesetaraan (Gemparkan).

Editor: Robandi

The subscriber's email address.