Lompat ke isi utama
Peserta sedang mendengarkan penyampaian dari perwakilan Grahatama

Literasi Braille, Gerbang Inklusifitas di Grahatama Pustaka

Solider.id, Yogyakarta– Braille merupakan gerbang menuju inklusivitas di lingkungan Grhatama Pustaka Yogyakarta. Hal tersebut dibahas secara menyeluruh dalam seminar bertajuk Mengembangkan LIBRA untuk menciptakan Inklusi Sosial di lingkungan Grhatama Yogyakarta. Kegiatan berlangsung di ruang seminar Perpustakaan Grhatama Yogyakarta, jalan Janti Yogyakarta pada (25/10).

Sri Ambarwati selaku staf bagian koleksi braille mengungkapkan, saat ini perpustakaan Grhatama  memiliki sekitar 2000 koleksi buku braille. Pada tahun 2018 lalu, pihaknya telah melakukan beberapa kali kegiatan literasi braille yang melibatkan berbagai pihak seperti beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ada di DIY, Yaketunis (Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam). Baik untuk tingkat sekolah dasar maupun sekolah menengah, serta Dinas Sosial DIY selaku pengelola BRTPD (Balai  Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas) Pundong.

Kegiatan literasi braille yang sudah dilakukan antara lain mengundang kawan-kawan difabel untuk datang ke Grhatama Pustaka dan melakukan berbagai aktivitas seperti membaca bersama koleksi braille, berkesenian, dan menonton film bersama dengan agenda Bioskop Berbisik.

Nur Satwika, kepala Balai Layanan Perpustakaan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY mengungkapkan, pihaknya membutuhkan dukungan berbagai pihak agar pengembangan braille bisa jadi prioritas di kalangan pemerintah dan menelurkan kebijakan-kebijakan.

Berbagai kebijakan telah ada dan kita berusaha mengimplementasikannya. Beberapa kebijakan yang mendasari layanan braille adalah Undang-undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dan Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2012 tantang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas.

Nur mengaku, pelayanan memang belum optimal. Masih banyak pekerjaan rumah yang masih belum selesai di sisi pelayanan untuk kawan-kawan pemustaka difabel.

“Dari sisi staf misalnya, kami akui bahwa belum ada keterampilan secara khusus dari staf kami yang memahami etika berinteraksi dengan difabel, kami masih butuh banyak belajar dari kawan-kawan semua,” kata Nur.

Selain itu, berbagai kegiatan diakui masih perlu peningkatan. Koleksi braille memang harus ditambah dan aktivitas-aktivitas digitalisasi buku massal memang harus mulai masif dilakukan. Hal ini mendukung kebijakan pemerintah untuk mewujudkan Jogja Library for All, sebuah konsep perpustakaan yang ramah untuk semua kalangan.

Sementara itu, Hendra perwakilan dari Braille’iant Indonesia mengungkapkan pihaknya akan bekerja sama dengan Grhatama Pustaka untuk melaksanakan berbagai kegiatan. Membuka kolaborasi dengan Grhatama yaitu untuk kegiatan Layar Bisik yang sebelumnya sudah rutin dilakukan oleh komunitas ini.

“Setiap bulan kami sudah melakukan kegiatan Layar Bisik, untuk tahun 2020, kami akan bekerjasama dengan Perpustakan Grhatama untuk melaksanakan Layar Bisik, jadi nanti kegiatan Layar Bisik bisa dikolaborasikan dengan kegiatan literasi Braillle yang sudah dilakukan bu Sri Ambar sebelumnya,” jelas Hendra.

Mengenai koleksi braille, Hendra mengungkapkan bahwa masih sangat minim secara jumlah, dari aspek kategoripun masih sangat terbatas. Selama ini, buku-buku yang tersedia hanyalah buku-buku pelajaran, novel dan pengembangan keterampilan bagi difabel netra.

Sirkulasi dan pembuatan buku braille yang membutuhkan perjuangan yang cukup panjang memang dirasa kurang efektif untuk mengembangkan literasi bagi difabel netra. Sementara itu, solusi seperti pembuatan buku audio dan buku eletronik menjadi  alternatif bagi Grhatama untuk menambah koleksi literatur aksesibel bagi difabel netra.

“Saat ini sudah ada PP No. 27 Tahun 2019 tentang Fasilitasi Akses Terhadap Ciptaan bagi Penyandang  Disabilitas dalam Membaca dan Menggunakan Huruf Braille, Buku Audio dan Sarana lain. Dengan adanya regulasi ini, dasar  payung hukum untuk menciptakan layanan yang ramah bagi difabel di bidang literasi sangat terbuka. Dengan demikin, tidak ada lagi ketakutan-ketakutan akan melanggar hak cipta dan menyalahi hukum yang berlaku di negara ini,” lanjut Hendra.

Perpustakaan ini memang punya mimpi besar. Pada tahun 2024, akan menjadi salah satu sarana publik yang betul-betul ramah bagi difabel. Ruang koleksi braille dengan berbagai aktivitasnya memang jadi pintu gerbang utamanya. Selain itu, berbagai sarana aksesibel juga sudah ada di perpustakaan ini.

“Beberapa hal seperti ruang baca yang ramah bagi low vision, lift yang terdapat indikator bunyi penanda posisi lantai, serta guiding block belum ada di perpustakaan ini. saya berharap, perpustakaan Grhatama dapat menggandeng berbagai organisasi dfiabel untuk sama-sama berproses mewujudan Grhatama Pustaka yang benar-benar ramah bagi difabel,” pungkas Hendra.

Sementara itu, Ais yang mewakili Sentra Advokasi Perempuana Disabilitas dan Anak (SAPDA) mengungkapkan untuk mengatasi keterbatasan anggaran, pemerintah dapat menggunakan alat-alat sederhana untuk menciptakan aksesibilitas bagi difabel.

“Lantai di Grhatama Pustaka ini sudah terpasang cukup rapih dan bahan-bahannya pun cukup mahal. Jika akan membuat guiding block,  maka akan butuh  tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Lantai ini harus dibongkar dahulu untuk memasang Guiding Block, saran kami, Guiding Block bisa dibuat sendiri dengan menggunakan karpet yang timbul dan dapat dirasakan oleh kawan-kawan netra. Ada tekstur yang jelas yang menunjukkan jalan yang berbelok atau memasuki ruangan tertentu,” tutur Ais.[]

 

Reporter: Ajiwan Arief

Editor: Ajiwan Arief

The subscriber's email address.